AUREL : UANG HARAM

AUREL : UANG HARAM

Supiak Abu
Karya Supiak Abu Kategori Project
dipublikasikan 11 April 2018
RATU API DAN RATU ES

RATU API DAN RATU ES


Dua primadona sekolah berebut satu cowok manis berkulit sawo matang yang mempesona. Siapakah primadona yang sanggup meluluhkan hati cowok itu?

Kategori Fiksi Remaja

80 hak cipta terlindungi
AUREL : UANG HARAM

Aku mengibaskan rambutku yang terurai. Hari ini, aku sengaja memilih warna rambut yang sedikit mencolok. Pagi tadi aku mengganti warna rambutku dengan warna stroberi blonde. Dan sekarang aku mencoba memamerkan semua kesempurnaan yang aku miliki.

          “Eh liat tuh, seperti biasa, si Aurel tampil cantik.”

          “Iyaa, liat makeup wajahnya yang natural itu.”

          “Emang boleh pake makeup ke sekolah?”

          Aku menoleh. Menatap tiga gadis sekawan yang sedang berdiri di sisi jendela. “Makasih ya.”ucapku pada mereka sambil tersenyum manis. Tampak mereka tersentak kemudian tertunduk dalam. Sepertinya mereka menyadari kesalahan mereka. Ya, putri Aurel tidak boleh menjadi bahan pembicaraan yang buruk. Putri Aurel harus menjadi primadona sekolah yang dipuja oleh semuanya. Terutama cowok!

          “Si ratu api lewat tuh....”

          “Dih, cantik bener dia ....”

          “Gua mau dong, jadi pacarnya ....”

          “Hussshhh!!!”

          Kali ini aku menoleh lagi. Mendapati dua cowok yang masing-masing menggenggam ponselnya. Aku mengangkat salah satu sudut bibirku. Berjalan mendekati mereka, menarik ponsel cowok berkulit putih dan mulai menekan beberapa nomor yang tentu saja nomorku. “Nanti telfon ya?”ucapku sambil mengedipkan satu mata.

          Aku kembali berjalan menuju ruang OSIS. Hari ini kami mendapatkan tugas tahunan yaitu melakukan MOS untuk siswa baru. Sebagai salah satu petinggi pengurus OSIS─sang bendahara, aku harus hadir dan ikut andil dalam acara tersebut. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

          “Pagi Aurel sayang!”ucap seorang cowok tinggi.

          “Pagi beib! Udah sarapan belum?”tanyaku sambil senyum manja padanya.

          “Belum nih, sayang. Temenin ke kantin dong?”

          “Duh, maaf yah, kamu sarapan senyum aku aja pagi ini. Aku harus cepat-cepat ke ruang OSIS.”

          “Ya udah deh. Bye bye sayang! Semangat yaa!” ia melambaikan tangan dan berjalan ke arah kantin.

          Aku melambaikan tangan membalas ucapannya seraya melanjutkan langkahku. Beberapa menit kemudian, aku melihat pintu ruang OSIS yang berwarna cream. “Selamat pagi!!!”sapaku sambil mendorong pintu itu.

          “Pagi Aurel!”

          “Pagi!”

          “Pagi honey!”

          “Hari ini stroberi blonde ya? Minggu lalu abu-abu kan?”

          “Tepat banget Lastri.” Aku menghempaskan tubuhku di sofa panjang.

          “Lu nggak ikutan ke lapangan?”tanya Lastri─sekretaris OSIS.

          “Bentar lagi deh. Mau memeriksa rekap keuangan acara MOS dulu.” Aku menyambar sebuah map berwarna merah yang berada di ujung meja. Pekerjaanku cukup banyak dalam beberapa hari ini. Dan, oh lihat, sesi acara memiliki sisa uang yang cukup banyak. “Gua mesti cari koor acara. Dimana dia?”

          “Kenapa emang?” tanya Budi di sudut ruangan.

          “Dia megang uang haram.”balasku menutup kembali map tersebut. “Eh Bud, pagi-pagi udah ngecharger aja lu.”

          “Biasa, gua kelupaan. Oh ya, si koor di lapangan tuh, pegang toa.” Budi mengangkat dagunya.

          “Oke deh. Gua ke lapangan dulu ya. Bye!!!”

***

Seperti biasa siswa baru tahun ini cukup banyak. Memang, SMA Swasta Jaya Nusantara memiliki peminat yang tinggi. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa bersekolah di sini. Termasuk aku. Tiba-tiba ponselku berdering. “Ya, halo~”

          “Rel, kok kamu tega sih mutusin aku? Baru juga seminggu kita jalan, tapi kamu kok udah nggak mau?”ucap seorang cowok di seberang.

          “Gilang, kita udah seminggu jalan. Dan itu udah cukup kok. Udahlah. Kita udah selesai ya.” Aku menurunkan ponsel dan memasukkannya ke saku.

          Ponselku berdering lagi.

          “Rel, aku nggak mau putus sama kamu.” Gilang masih memohon padaku. Ini adalah hari kedua dia tidak terima dengan hubungan yang telah usai ini.

          “Gilang, aku udah sama kapten basket sekolah ini. Jadi, kamu cari yang lain aja yaa.” Aku mematikan panggilan itu dan mengantongi ponselku, lagi. Meski Gilang mencoba terus menghubungiku, aku tak mempedulikannya. Bagiku, satu minggu adalah pacaran terlama dan itu sudah lebih dari cukup.

          Tiba-tiba aku menangkap sosok yang sedang menjadi buronanku. “Eh, lu, koor acara, sini bentar!”teriakku padanya. Aku tidak peduli dengan beberapa siswa yang berbaris paling ujung menoleh menatapku. Yang aku pedulikan mereka melihatku karena kecantikanku.

          “Ada ... apa ... Aurel?”koor acara mendekat.

          “Apaan sih, pakai gugup segala. Gua emang cantik kok. Mana uang haramnya?” Aku menengadahkan tanganku di hadapannya.

          “Uang haram apaan?”

          “Halaah! Nggak usah banyak tanya. Itu yang Rp497.200,00! Mana?”

          “Unggggggg!!!” Ia membuang pandangan─menatap ubin.

          “Udah, entar aja urus uangnya.” Tiba-tiba Lastri menepuk pundakku.

          “Tapi kan ...”

          “Udah, ayuk!” Lastri menarik tanganku menuju anggota OSIS yang sedang berbaris di depan.

          Aku berbalik menatap koor acara yang terlihat mengurut dadanya. “Nanti-gua-tagih.”tekanku padanya. Seketika wajahnya menegang. Ia menunduk sembari mengikuti kami.

          “Pagi adek-adek! Gimana kabarnya? Sehat? Perkenalkan, nama kakak Vino. Menjabat sebagai ketua OSIS.”

          Terdengar suara Vino menggema di lapangan. Acara yang sedang berlangsung adalah perkenalan anggota pengurus OSIS. Ini adalah acara yang paling aku tunggu. Berdiri di depan siswa baru yang masih polos dengan tatapan kagum adalah kesukaanku. Apalagi, kalau yang menatapku adalah cowok-cowok ganteng yang masih polos. Bagus banget untuk dijadiin pacar baru. Aku memainkan ponselku sambil menunggu giliran. Satu per satu anggota pengurus OSIS memperkenalkan dirinya.

          “Rel, giliran lu nih.” Lastri menyerahkan toa berwarna putih.

          Aku menyambut toa itu. Berjalan dua langkah ke depan dan mengibaskan rambut. “Haiiiii~!”sapaku selembut mungkin serta senyum semanis mungkin.

          Respon yang cukup luar biasa. Semua siswa baru bertepuk tangan mendengar sapaanku. Bahkan beberapa cowok balas menyapa. Aku yakin mereka tidak berkedip menatapku.

          “Perkenalkan. Aku Aurel, bendahara OSIS. Kalau kalian pengen kenalan, langsung temui aku aja yahh??” Aku mengedipkan sebelah mata dan berbalik. Lagi. Sorak ramai terutama para cowok menghiasi lapangan. Membuat kegaduhan yang begitu menakjubkan. []

  • view 32