Laki-Laki yang Mengirimi Hujan

Laki-Laki yang Mengirimi Hujan

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2018
Laki-Laki yang Mengirimi Hujan

Malam ini tak terasa dingin meskipun hujan turun, aku bangkit dari tempat tidur, mengambil payung dan bergegas menuju minimarket yang buka 24 jam.

Aku mengambil beberapa minuman kaleng, makanan ringan dan sebungkus rokok. Aku tak tahu untuk apa sebungkus rokok ini aku beli, aku tak suka rokok dan bahkan tak pernah merokok, kecuali kala itu, suatu malam ketika mantan kekasihku menikah dengan laki-laki lain. Aku benci rokok tapi aku merokok, karena ada yang lebih aku benci waktu itu.

Selesai membayar kepada kasir, aku bergegas keluar, memakai payung berjalan menyusuri rintik hujan menuju kamar kos. Aku tahu, di tempatmu juga hujan sedari pagi.

Aku peduli tapi pura-pura tak peduli. Benar-benar peduli dan pura-pura.

Aku masuk, mengunci pintu kamar, memutar musik sendu. Aku sedang ingin mendengarkan musik sendu malam ini. Aku membuka minuman kaleng yang aku beli di minimarket. Satu kaleng tandas, aku buka lagi, minum lagi, tandas lagi, aku buka lagi, minum lagi. Aku membuang kaleng-kaleng itu sembarangan. Mengambil sebungkus rokok, membukanya mengambil sebatang rokok, menyalakannya, menghisap dalam-dalam. Aku terbatuk.

Sial, aku tak pandai merokok.

Aku meletakkan bungkus rokok di samping undangan pernikahan. Aku buka undangan pernikahan, aku baca hari dan tanggalnya. Hari ini.

Di sana tertera namamu dan nama kekasihmu. Aku terbatuk. Sialan!

Aku mematikan rokok, membuangnya di lantai, menginjaknya keras-keras. Aku ambil bungkus rokok dan undangan pernikahan yang di sana tertera namamu dan nama kekasihmu. Aku membuangnya di tong sampah. Kembali ke kamar, mengunci pintu, mematikan lampu. Menangis semalaman!

Di luar hujan, aku tak kedinginan. Sungguh.

Barangkali kau mengirimiku hujan sedari pagi. Aku tahu kau menangis dan kau pasti tahu aku mengirimi hujan di pesta pernikahanmu.

Aku, kau menangis.

Aku kirimi hujan di pesta pernikahanmu, bukan karena aku marah atau aku benci sama kamu, hanya agar kau tahu, sekarang aku sudah tidak punya pelangi lagi, yang tersisa hanyalah badai.


 

Dinihari

Jakarta, selepas sebelas maret.

  • view 102