Tentang: Kenangan, Melupakan dan Menghapus Luka

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Maret 2018
Tentang: Kenangan, Melupakan dan Menghapus Luka

Ada beberapa hal yang sebenarnya kita tahu kita mampu melakukannya tapi cenderung enggan melakukan.

Melupakan, barangkali hal tersulit dalam hidup ini, apalagi melupakan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kenangan salah satunya.

“Kita bisa dengan mudah melupakan seseorang tapi sulit melupakan kenangan bersamanya.”

Saat ini aku sedang dalam proses menyembuhkan luka. Bukan, bukan dia yang menyakitiku, tapi perasaan ini yang terlalu berlebihan kepadanya. Aku terlalu berharap lebih kepada dia, sehingga membuatku lalai, abai bahwa mengharap selain kepada-Nya hanya akan membuatku kecewa.


 

“Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia.” — Imam Ali bin Abi Thalib.

Aku memang tak pandai berkata jujur tentang perasaanku. Berkali-kali aku mencoba mengatakanya padamu, namun aku tak bisa. Kau pernah berkata padaku bahwa disampingku kau merasa sangat nyaman, tak pernah kau merasa senyaman itu, tidak juga dengan kekasihmu itu. Kau bilang andai kau mengenalku dari dahulu, andai kita dipertemukan lebih awal, mungkin kau bisa memilihku.

“Kau tak usah menyalahkan takdir, jika kau berani, tinggalkan orang yang selalu menyakitimu — yang kau sebut kekasih itu, dan jalinlah hubungan dengan orang yang membuatmu nyaman — diriku.”

Lalu kau terdiam, agak lama.

“Semua sudah terlambat.” begitu katamu


Seharusnya aku sadar, dan memang harus sadar bahwa sedekat apapun hubunganku dengan dia, sesering apapun dia mengucap rindu, merajuk ingin aku segera pulang dan memeluknya. Pada akhirnya aku hanyalah bagian yang akan tersisihkan dalam hidupnya. Dia, akan menikah dengan kekasihnya.

Dan aku, seseorang yang menghiburnya saat ia sedih. Seseorang yang dadanya rela basah oleh air matanya saat ia menangis karena kekasihnya, seseorang yang rela menyisihkan waktuku hanya ingin melihatnya bahagia.

Ya, tentu saja aku ingin sekali melihat dia bahagia, meski bukan denganku lagi. Sialan!


Dalam proses penyembuhan luka ini, aku merasa waktu berjalan amat lambat, segalanya seperti melambat. Lalu, semua kenangan tentangmu muncul silih berganti.
Bagaimana aku bisa melupakan dirimu, sementara setiap langkah di tempat ini penuh dengan kenangan dirimu — kenangan kita.

Masih ingatkah kau dengan cerita-cerita kita di malam-malam yang dingin. Tentang masa depan “kamu” dan “aku”. Tentang kita.

Aku dan kamu memiliki cita-cita dan keinginan yang sama. Meski pada akhirnya kita tak bisa bersama.

Lalu, pada malam keberapa entah aku lupa, aku masih ingat jelas kejadian itu. Kau menatapku, aku tahu kau sedang bersedih, ingin memelukmu tapi tak berani, aku lihat di kedalaman bola matamu ada luka yang teramat dalam. Tiba-tiba saja kau merengkuh tubuhku, memelukku erat. Pundakmu bergetar, suara isak tangismu terdengar, hanya isak tangis tak ada yang lain. Aku biarkan kau berlama-lama dalam pelukan. Membasahi dadaku dengan air matamu.

Aku berkata semua akan baik-baik saja, kau pasti kuat. Tapi sebenarnya bukan kalimat itu yang seharusnya aku ucapkan.

Seharusnya aku berkata “Berhentilah mencintai luka dan mulailah memilih bahagia.”

Tapi, aku tak pernah mengatakannya, mengatakan yang seharusnya. Aku benci diriku sendiri, aku benci dirimu yang terus mencintai luka.

Aku benci keadaan seperti ini, tapi aku lebih benci karena kamu lebih memilih orang yang membuatmu terus terluka daripada orang yang selalu membuatmu nyaman.

Bukankah kau ingin bahagia?Sekali lagi, kau hanya ingin bahagia bukan?

Lalu kenapa kau memilih badai sedangkan pelangi jelas ada di depan matamu. Ah, aku lupa. Seindah apapun pelangi, tak akan bisa kau menggapainya.


Berhari-hari aku dihinggapi rasa malas. Malas akut. Aku membeli banyak buku tapi tak satupun aku membacanya. Aku biarkan tergeletak di rak buku, di ranjang, di meja kantor.

Terbengkalai, sebagaimana hatiku terbengkalai oleh dirimu. Aku membiarkan diriku hibernasi di ranjang, tempat kesedihan dan kebahagian bersatu. Tempat dimana aku menemukan dirimu tersungkur, menangis karenanya. Tempat di mana aku mengumpulkan puing hatimu yang berserakan luluh lantah karenanya.

Waktu itu, tak ada purnama, bintang tak terlihat. Barangkali di luar mendung sebagaimana hatimu sedang mendung.

Aku kembali menyusun pecahan hatimu yang tak karuan, memperbaikinya dengan senyuman, menyusun satu demi satu bagian yang patah, pecah dan rusak. Aku memang tak mampu menjadikan hatimu kembali bagus seperti semula, tapi setidaknya aku menjaga (sampai sekarangpun masih menjaga) agar hatimu tak patah olehku. Setidaknya begitu.


 Dinihari

Jakarta, sebelum 11 Maret

  • view 72