Bagaimana Saya (ingin) Mati

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Februari 2018
Bagaimana Saya (ingin) Mati

Pada titik tertentu, dimana keadaan seperti membuatmu menjadi tak berguna, dimana kehidupan memukulmu jatuh berkali-kali, dimana kau merasa bahwa kau sudah tidak diperlukan lagi didunia ini oleh orang-orang yang kau sayangi, hanya ada satu yang terlintas dibenakmu saat itu. Bagaimana cara menyudahi hidup: Mati.
 
Saya pernah ada di fase tersebut. Saat saya merasa bahwa hidupku tak berguna untuk orang lain atau setidaknya untuk diriku sendiri. Saya pernah dipukul jatuh berkali-kali oleh kehidupan. Jatuh, bangun, lalu terjatuh lagi, mencoba bangun, dipukul. Jatuh lagi, mencoba bangun, dihantam sekeras-kerasnya. Tersungkur.
 
"Aku masih bisa bangun." Batinku.
Tapi aku malas bangun, ah, bukan malas. Aku mau nyerah saja. Aku tak mau bangun, aku takut dipukul jatuh lalu tersungkur. Kenapa aku tak mati saja sekalian?

Lalu aku ingin mati, tak mati-mati juga. Aku bangun, dipukul jatuh oleh kehidupan, aku terus mencoba bangun. Begitu seterusnya sampai sekarang. Hingga aku menikmati rasanya jatuh dan bangun berkali-kali, berkali-kali. Terus seperti itu.

Pada fase dimana saya ingin mati, saya menyusun rencana-rencana tentang bagaimana cara bunuh diri. Menusuk-nusuk tubuh dengan tusuk gigi misalnya atau menaruh bantal diatas wajah saat tidur, bahkan yang paling ekstrem menabrakan diri ke odong-odong yang sedang lewat. Semua sia-sia. Saya masih hidup.

Tapi itu dulu, dan saya yakin semua orang pasti pernah terlintas ingin bunuh diri. Sekarang, jangankan rencana bunuh diri, sakit sariawan saja saya takut sekali, takut kalau tiba-tiba saya mati hanya karena sakit sariawan. 
Iya, sekarang saya takut mati.

Saya jarang sekali menghabiskan obat yang diberi oleh dokter. Biasanya jika 2 hari setelah minum obat keadaan atau sakit saya mulai membaik, Saya tidak meneruskan minum obat sampai habis. Tapi, kejadian tiga hari yang lalu membuatku ingin menghabiskan obat yang diberikan dokter kepada saya.

Saya tidak pernah merasakan sakit sesakit tiga hari yang lalu. Rasa sakitnya melebihi sakit melihat mantan bersanding dengan laki-laki lain di pelaminan.

Jadi begini, tiga hari lalu dada sebelah kiri saya terasa nyeri, sakit luar biasa seperti ada sesuatu yang menusuk tembus sampai kepunggung. Dalam keadaan seperti itu, jangankan untuk mengingatkan makan gebetan atau membalas sms dari gebetan, untuk tarik napas dalam saja rasanya sakit luar biasa. Sambil terus memegangi dada kiri dan tarik napas, pikiran saya mulai berkecamuk. Memikirkan hal-hal aneh yang akan terjadi pada saya. Kemungkinan terdekat dan termengerikan adalah jantung saya tidak bekerja dengan baik atau jantung saya berhenti berdetak dan saya tiba-tiba mati.

Saya benar-benar takut jika jantung saya ini bermasalah. Dari ketakutan akan kematian itulah saya mulai terbayang akan dosa-dosa yang pernah saya lakukan sepanjang awal tahun 2018. Ah, ternyata sepanjang awal tahun 2018 ini saya sudah melakukan banyak dosa yang bahkan jika mau diingat tidak bisa semuanya diingat. Ini baru awal tahun, belum dosa-dosa yang telah lalu sepanjang 25 tahun saya hidup di dunia ini. Rasanya hidup kok bergelimpang dosa. Masih sembari memegang dada kiri dan dengan perasaan cemas bercampur takut saya beristighfar. Memohon ampun kepada Allah swt.

Keadaan parno pun mulai menjalar dalam tubuh saya. Dimulai dari memandangi pintu kamar, takut tiba-tiba malaikat maut datang mengetuk pintu sembari berkata "Bolehkah saya masuk tuan?" atau tiba-tiba melongok dari jendela kamar "Halo, sudah habis waktumu di dunia ini."

Saya takut, teramat takut malahan. 
Saya terus memohon ampun kepada Tuhan.

Lalu, ketakutan saya mulai mengendur, saya mengingat tentang hal baik yang pernah saya lakukan sepanjang hidup saya. Tak apalah saya mati, toh saya pernah bahkan sering berbuat baik ke orang lain. Toh saya selalu beramal soleh. Toh saya selalu rajin beribadah kepada Tuhan.

Tiba-tiba orang lain dalam diri saya berbisik. "Bagaimana jika Tuhanmu tidak menerima ibadahmu, tidak menerima taubatmu, tidak menerima perbuatan baikmu kepada orang lain, bagaimana jika selama ini kau melakukannya hanya untuk ria, pamer. Hanya terpaksa. Malas atau bahkan cenderung sungkan. Bagaimana ternyata kau melakukan hanya untuk formalitas hidupmu saja. Bagaimana Tuhanmu mau menerima semua amalmu itu jika kau saja melakukannya tidak benar-benar ikhlas."
 
Lalu aku tersungkur, benar-benar tersungkur. Menangis, takut, dan semakin sakit. Ingin rasanya kutuliskan sebuah pesan di pintu kamar kepada malaikat maut. "Maaf, orangnya sedang keluar." atau "Datang lagi besok lusa." lalu aku ingin kabur, pergi keluar kota tempat dimana malaikat maut tak bisa menemukanku. Tapi itu tak mungkin. Aku seperti orang bodoh, gila. Dalam keadaan tersungkur, pandangan gelap dan sakit luar biasa. Yang bisa saya lakukan hanya satu: berdoa.

"Tuhan, jangan matikan aku sebelum aku menikah. Paling tidak aku ingin menyempurnakan separuh agamaku, aku juga ingin membahagiakan ibuku. Dia sangat ingin melihat aku menikah." Sembari memegang dada kiri yang masih sakit luar biasa.

Lalu aku ingat sesuatu, jika aku menikah dan mati. Kasihan istriku nanti.

Aku berdoa lagi: "Tuhan, jangan matikan aku sebelum aku punya anak, paling tidak istriku nanti tak kesepian saat aku tinggal mati. Dan oh ya, ibuku sangat ingin punya cucu dari rahim istriku. Aku ingin ibu bahagia." dadaku masih saja sakit luar biasa.

Bagaimana jika anakku masih kecil menggemaskan dan lucu aku tinggal mati? Siapa yang akan menafkahinya? Aku kasihan.

Lalu aku berdoa lagi:
"Tuhan, jangan matikan aku sebelum anakku tumbuh dewasa, sebelum tugasku sebagai orang tua, mengasuh, membesarkan dan merawatnya usai. Setidaknya agar anakku mempunyai anak. Aku yakin, istriku yang cantik sangat ingin punya cucu, dan ya, aku juga sangat ingin."

Aku tersenyum, sepertinya semua sudah usai, lalu aku teringat sesuatu lagi.

Aku berdoa lagi:
"Tuhan, aku sangat ingin meninggal di kota mekah atau madinah. Dalam keadaan husnul khotimah. Matikan aku di sana Tuhan."

Aku bahagia, setidaknya saat saya merasa akan mati waktu itu, saya sudah meminta permohonan terakhir (yang banyak) kepada Tuhan. Lalu, saya memegang dada kiri. Masih sakit, masih nyeri seperti ada sesuatu yang menusuk dari depan tembus ke belakang. Saya tergeletak di lantai, pasrah. Menunggu malaikat maut mengetuk pintu atau barangkali lewat atap? Saya tidak peduli. Benar-benar tak peduli.

Lalu saya teringat sebuah video yang dibagikan teman saya di facebook. Dalam video tersebut seorang perempuan yang cacat dan pernah hampir putus asa akan hidupnya memberikan motivasi kepada ribuan orang. 
"Kamu jangan mati sebelum waktunya kamu mati." 

Mengingat kalimat itu seperti ada sesuatu yang menjalar dengan cepat di nadiku, aku merasakan getaran yang hebat pada tubuh. Aku kembali memegang dada sebelah kiri, masih sakit masih nyeri luar biasa. Tapi jantungku masih berdetak, aku masih hidup dan akan tetap hidup dan memang begitu seharusnya, karena belum waktunya aku mati. 

Aku bangkit dari lantai, bergegas keluar menuju klinik. Aku sengaja tidak mengunci pintu kamar. Agar kalau malaikat maut datang, dia tahu aku sedang keluar.

Sepanjang perjalanan menuju klinik, saya masih merasakan sakit dan nyeri yang luar biasa. Saya masih memegangi dada sebelah kiri sambil bernapas pelan. Sakit. Akhirnya sampai di klinik. Sepi tidak ada yang antre. Apakah semua orang sehat? Atau sudah pada mati? Aku tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.

Aku menuju ke ruang dokter. Seperti lazimnya dokter manapun yang akan memeriksa pasien, pasti menanyakan keluhan. Aku menjelaskan dengan wajah pucat, takut dan hampir putus asa. Benar-benar takut. Dokter dengan wajah tenang dan berwibawa menjelaskan. Kemungkinan jantung saya bermasalah. Tapi, mungkin juga tidak. Mari kita periksa dulu.

Saya menurut apa kata dokter. Dengan seulas senyum setelah memeriksa saya, dokter berkata:
"Jantung kamu masih normal, tidak bermasalah dan iramanya masih bagus, masih enak buat joget."

Saya tersenyum kecut. Menyeringai lebih tepatnya, lalu bertanya "Kalau bukan jantung saya yang bermasalah lalu apa dok? 
"Kemungkinan paru-parunya, apa mas perokok?" 
"Saya tidak merokok dok, malahan benci asap rokok." 

Lalu dokter menulis resep obat, menyerahkan kepada saya agar saya menyerahkan ke apoteker. Sebelum saya pergi dokter berkata:
"Semoga cepat sembuh ya mas." 

Saya berterimakasih dan saya pamit, bergegas menuju apotek klinik sembari terus memegang dada kiri. Masih sakit, masih nyeri.

Di apotek, seorang perempuan muda, berkulit putih berparas ayu menyambut saya dengan senyum ramah nan menyejukkan hati. Saya memerhatikan dia. Dia memandangku, saya terkaget. Gelagapan, salah tingkah, kacau. 
"Ini nanti obatnya diminum setelah makan ya mas, harus sampai habis." Katanya sembari memberi senyum kepadaku.

Deg! Jantungku berdetak sangat kencang, iramanya tak beraturan, sudah tidak asik buat joget. Bahagianya diberi perhatian oleh perempuan cantik. 
Tapi dadaku masih sakit, masih nyeri. Teramat sakit malahan. Aku tidak peduli, benar-benar tak peduli. Aku masih memandanginya, dadaku juga masih sakit, sangat sakit. Tapi aku tidak peduli. Dia menyapaku lagi, masih dengan senyum manisnya. 
"Semoga lekas sembuh ya mas." Aku diam, tidak berterimakasih dan belum pamit. Masih memandanginya, masih memegangi dadaku yang sakit. Masih sakit. Aku tidak peduli, benar-benar tak peduli.

Lalu aku berdoa untuk yang terakhir kali di hari itu:
"Tuhan, jadikan perempuan ini istriku. Aku mohon Tuhan."

Dadaku masih sakit, tapi jantungku sehat, teramat sehat malahan. Berdebar kencang tak karuan, iramanya tak beraturan, tak asik buat berjoget, tapi jantungku sehat benar-benar sehat. Hanya saja aku yang tak sehat. Aku jatuh lagi, bukan dipukul oleh kehidupan. Tapi oleh cinta.

Aku jatuh lagi

Jatuh cinta.

Jakarta, 18 februari 2018

  • view 154