Surat Cinta untuk Perempuan yang Menangis di Pelukan

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2018
Surat Cinta untuk Perempuan yang Menangis di Pelukan

Untukmu,  perempuan yang menangis di pelukan.
 
Setelah kau pergi dari tempat ini aku menjadi lebih sibuk, menjadi lebih lelah dan menjadi lebih rindu dari biasanya,
Aku pikir dengan kesibukanku yang semakin sering, membuatku mudah untuk melupakanmu melepasmu, ternyatanya aku salah. 

Semakin aku sibuk, semakin diriku merasa kesepian. Aku benci berkata jujur tentang perasaanku, aku benci mengatakan ini, tapi aku harus jujur aku merasa kehilanganmu.

Sampai sekarang, setiap kali aku naik tangga, aku selalu berharap di atas di depan kamar di sebuah kursi berwarna merah ada senyum yang sering kau berikan setiap kali kau menyambutku datang.

Lalu aku tersadar, itu hanya bayangan, hanya harapan yang tak akan pernah terwujud. Tak ada sambutan, tak ada senyuman, dan tak ada kamu.
Tak akan pernah ada (lagi).

Aku memang benci merindu, tapi setiap kali aroma dirimu hadir, aku tersenyum, aku memeluknya, memeluk sisa-sisa dirimu yang masih tertinggal. 

Pukul 3 pagi aku terbangun. Terdiam dan teringat segala apa yang sudah kita lalui. Bagaimana kau menangis, tersenyum, tertawa. Semua masih tergambar jelas. Setiap kali kau menangis, aku mencoba untuk menyuruhmu agar tak menangis.
 
Kau tahu kan aku tak suka melihat perempuan menangis?

Lalu, saat kau menangis yang terakhir itu, aku sama sekali tak menyuruhmu untuk tidak menangis, aku membiarkanmu menangis dalam pelukan, membiarkan dadaku basah oleh air matamu. 

Pelukan bagiku tempat ternyaman untuk kesedihan, 
kau berkata: "tergantung siapa yang memeluk." 

Akhirnya kau memilih untuk melepas pelukanku   melepas diriku. Mungkin pelukanku bukan tempat yang nyaman untukmu. 
 
Semua barang milikmu sudah aku kemasi dan aku kirim. Hanya ada satu yang tertinggal dan akan tetap tertinggal disini: kenangan. 




Jakarta, 10 Februari 2018

  • view 174