Perempuan yang Mencintai Luka dan Kesedihan

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Januari 2018
Perempuan yang Mencintai Luka dan Kesedihan

"Seperti rumah, yang menjadi semakin rumah ketika ditinggalkan. Begitulah cinta, menjadi semakin cinta sesudah hilang."—Putu Wijaya 

"Apakah aku tak berhak bahagia?" tanyamu sembari menatap senja yang elok keemasaan di ujung cakrawala

"Semua orang berhak bahagia."

"Semua orang?"

"Iya"

"Termasuk aku?"

"Termasuk kamu"

Perempuan itu menoleh kepadaku, menatap mataku dalam-dalam.

"Tapi kenapa aku tak pernah bahagia? Katamu semua orang berhak bahagia, katamu aku juga berhak bahagia, tapi kenapa aku tidak...?"

Perempuan itu mengucapkanya dengan nada bergetar, antara perasaan marah, sedih dan luka. Aku lihat di kedalaman bola matanya ada luka yang teramat dalam.

Senja yang keemasan kini telah lenyap.
Senja yang indah telah berganti gelap.

Samar-samar aku dengar isak tangismu. Kulihat bulir air mata mengalir di pipimu.
Kupeluk tubuhmu dan kubiarkan air mata membasahi dadaku.

"Aku juga ingin bahagia seperti orang-orang. Kenapa aku tak pernah bahagia? Kenapa aku mencintai tapi selalu terluka? Kenapa?"

"Karena kau mencintai orang yang salah." Kataku sembari menatap senja yang hilang ditelan gelap tanpa menoleh ke wajahmu yang basah.




Perlahan-lahan senja yang elok mulai tenggelam di cakrawala. Aku biarkan kau terdiam agak lama dalam pelukan.

"Apa kau masih mencintaiku?" tanyamu dalam pelukanku

"Apa pertanyaan itu penting?"

"Ya"

"Buat apa?"

"Aku ingin tahu apakah kau masih mencintaiku atau tidak?"

Aku sengaja memberikan jeda untuk jawaban dari pertanyaan perempuan yang sedang menangis di pelukan. Aku rasakan degup jantung kami berdetak kencang saling bersahutan.

"Memangnya jika aku masih mencintaimu, apa itu akan mengubah segalanya?"

"Maksud kamu?" tanya perempuan itu sembari mendongak menatapku

"Apa kau akan menjadikanku sebagai kekasihmu?"

Perempuan itu terdiam agak lama, tapi aku rasakan degup jantungnya semakin cepat dan pelukan semakin erat.

"Apa kau akan melepaskan dia, lalu menjadikanku sebagai kekasihmu?" Kuulangi pertanyaan yang sama.

Perempuan itu melepaskan pelukan, mengusap air mata yang membasahi pipi merah meronanya.

"Aku tak tahu, aku hanya ingin tahu apakah kau masih mencintaiku atau tidak?"

"Aku hanya ingin tahu seberapa penting cintaku kepadamu, jika kau masih mempertahankan dia?" Jawabku

"Aku terlalu mencintainya"

"Dia selalu membuatmu terluka bukan?"

"Kau benar"

"Lalu, kenapa kau bertahan padanya?"

"Aku tak ingin melukaimu."

"Sebagus apapun cinta pasti ada luka!"

"Apa kau akan meninggalkanku lagi?"

Aku terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan dari perempuan ini.

"Aku menghawatirkanmu."

"Aku baik-baik saja"

"Aku tahu kau tak baik-baik saja"

Aku menatapnya dan jatuh kedalam bola matanya yang hitam dalam.

"Kau jangan menatapku seperti itu"

"Kenapa? bukankah aku selalu menatapmu?"

"Tapi ini beda"

"Sama saja"

"Berhentilah menatapku seperti itu!"

Perempuan itu mendelik, melotot ke arahku dengan pipi menggembung merah merona. Aku tersenyum melihat ekpresi muka perempuan yang sedang jengkel ini.

"Kenapa?" tanyaku sembari menahan tawa

"Aku takut jadi berantakan"

Perempuan itu memalingkan muka, menatap perahu dan senja yang berada jauh dari pandangan.

Samar-samar aku lihat pipinya memerah seperti senja di ujung cakrawala.


Dermaga cinta, Januari 2018

H Sanjaya

  • view 52