Gelas plastik pengemis

Gelas plastik pengemis

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Renungan
dipublikasikan 28 November 2017
Gelas plastik pengemis

Di jalan aku melihat pengemis. Seorang ibu paruh baya dengan muka memelas, kusut dan agak kotor. Pakaianya sederhana, juga dalam keadaan kotor, di punggungnya menggendong sebuah selendang yang Ia jadikan sebagai tas punggung, isinya? entahlah. Tangan kanan memegang sebuah gelas plastik yang Ia jadikan sebagai media untuk meminta sedekah kepada siapa saja yang Ia temui.

Lalu apa yang istimewa dari pengemis itu? Bukankah di Ibu Kota banyak sekali pengemis seperti itu?

Sepintas lalu memang tak ada hal yang aneh dari pengemis tersebut, semua tampak wajar seperti pengemis-pengemis lain di Ibu Kota pada umumnya. Namun, ketika saya melihat sesuatu yang Ia pegang, sebuah gelas plastik yang Ia gunakan sebagai media untuk meminta sedekah kepada orang yang Ia temui. Gelas tersebut adalah gelas plastik bekas dari minuman kopi Starbucks.

Ya, Starbucks sebuah gerai kopi yang harga satu gelas kopinya ngudubilah muahale pok!.


Jadi begini,

Ibu pengemis tersebut meminta sedekah dengan media gelas plastik bekas Starbucks. Aku tidak yakin jika pengemis tersebut tahu tentang Starbucks, Perkiraan Saya, jika pengemis tersebut kebetulan lewat depan gerai Starbuck, yang ada di benaknya mungkin hanya satu kata: Mahal.

Tapi, Saya punya beberapa kemungkinan mengenai gelas plastik bekas Starbucks yang Ia pakai sebagai media meminta sedekah.

Kemungkinan pertama, Ia baru saja ngopi di gerai Starbucks lalu setelah kopinya habis, Ia berpikir: "Dari pada gelas plastik ini saya buang, mending buat minta-minta aja, kan mlayan. Lagian ngopi di sini mahalnya mintak maap ampun."

Kemungkinan kedua, Ia tak tahu betul jika harga satu gelas Starbucks mahal atau bahkan Ia tak pernah tahu tentang Starbucks. Bisa jadi Ia mendapatkan gelas plastik bekas tersebut dari tempat sampah atau nemu di jalan. Ya kan mungkin saja, toh banyak tuh yang abis makan/minum lalu buang sampah bekas makanan/minumanya di jalan, banyak kan ya? banyaaaaaak. Semoga kamu bukan salah satunya. Semoga kamu jarang atau bahkan tidak pernah buang sampah di jalan atau disaat berkendara.

Kemungkinan yang ketiga, Ia tahu betul tentang Starbucks, Ia tahu harga menu di Starbucks itu mahal (setidaknya untuk ukuran Dia Saya), Ia tahu betul yang sering mampir nongkrong di Starbucks itu orang-orang kaya atau orang-orang yang ingin terlihat kaya. Ia tahu betul. Ia jengkel, mungkin karena Ia merasa tak bisa ngongkrong di Starbucks atau pernah nongkrong di sana lantas diusir. Mungkin.

Kalian lebih cenderung pada kemungkinan yang mana?

Kalau aku lebih cenderung kemungkinkan yang ketiga,
Pengemis itu tahu betul harga satu gelas minuman di Starbucks itu mahal, Ia mungkin sedang tidak jengkel, tapi ingin membuat jengkel kepada siapa saja orang yang dimintai sedekah tapi enggak ngasih, atau ngasihnya cuma 500 rupiah.
Lah, wong kalian buat ngopi yang harganya muuahall aja bisa, masa duit 500 rupiah kalian minta sama Gusti Allah kesehatan, kemakmuran, keberkahan, lulus kuliah, cepet di wisuda, dapet jodoh, dan bahagia dunia akhirat.
Kan hemmm banget namanya.

Tapi itu semua hanya kemungkinan-kemungkinan dari saya. Kalian boleh setuju, boleh tidak.
Atau kalian barangkali punya kemungkinan lain selain dari yang saya sebutkan di atas? Silakan, terserah kalian.

Teman saya Tamy pernah ngopi di Starbucks sekali seumur hidupnya. Dia ngopi pas tanggal tua (belum gajian), Walhasil Tamy harus sering makan mie instan sampai dia dapat gaji lagi.

Ngomong-omong Aku enggak tahu harga satu gelas kopi di Starbucks.Tapi, kata teman saya yang pernah ngongkrong di sana sekali seumur hidupnya, katanya sih MAHAL.


Jakarta, 28 November 2017

H Sanjaya

  • view 226