Bolehkah kita bersedih dan menangis?

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 November 2017
Bolehkah kita bersedih dan menangis?

Ayu, seorang gadis yang selalu ceria. Hampir setiap hari saya tak pernah melihat dia bersedih atau menangis. Bahkan, Saya pernah menantangnya untuk menatapku tanpa tersenyum. Hasilnya, sampai sekarang dia belum bisa melakukanya. Tapi, bukan berarti Ayu tak pernah menangis. Hanya saja dia termasuk orang yang pandai menyembunyikan kesedihan-juga tangisnya.

Hari ini dia bilang ke Saya begini:

"Aku pingin nangis tapi kok gak  bisa ngeluarin air mata mas."

"Masa? Lah, nangis tinggal nangis aja kok susah."

"Masalahnya air matanya gak keluar, dari tadi malah aku ketawa-ketawa terus."

"Wah, itu sih emang kebiasaan kamu suka ketawa Yuu."

Satu waktu saya pernah nanya ke Ayu kenapa kok sulit menangis. Jawabnya,  dulu justru Ayu sering sekali menangis, entah itu disakiti kekasihnya atau perihal yang lainya. Untuk sekarang katanya  susah buat menangis. seakan stok air matanya telah habis. Begitu katanya.


 

Berbicara mengenai kesedihan dan menangis, Saya seringkali mendapati orang yang mengejek mereka yang sedang dalam keadaan sedih-apalagi sampai menangis. Padahal Tuhan menciptakan air mata, ya memang untuk menangis. Dan menurut saya itu sah-sah saja.

Pointnya adalah jika memang keadaan mengharuskan kita bersedih, maka bersedihlah. Jika keadaan mengharuskan kita menangis, maka menangislah. Tentu dalam konteks yang wajar.  Jangan berlebihan. Karena sesuatu yang berlebihan memang tidak baik bukan?.

Mengutip pernyataan dari Mbah Sudjiwo Tedjo. Dalam diri kita itu ada dalang, sedang kita sendiri adalah wayang. 

Sederhanya begini: Takdir itu skenario Tuhan, tapi tidak seperti skenario dalam sebuah pertunjukan yang mana kita sudah tahu skenarionya terlebih dahulu, untuk takdir beda. Kita akan tahu skenario persisnya justru setelah takdir itu terjadi. Lalu, bagaimana menyikapinya?

Kita seharusnya paham betul, meyakini bahwa takdir itu skenario yang pasti akan terjadi pada kita. Dalangnya sesuatu yang ada pada diri kita-jiwa. Sedang kita sebagai wayang  tinggal menjalaninya.

Dulu, sekitar tahun 2007. Ketika simbah wadon (nenek) saya meninggal. Pada waktu setelah simbah wadon menghembuskan napas terakhirnya, Semua cucu simbah wadon menangis, hanya saya satu-satunya cucu simbah yang enggak menangis. Alasanya sederhana, hari itu sudah takdirnya simbah wadon meninggal, itu sudah skenarionya. Masalahnya, saya jadi merasa wagu karena hanya saya sendiri yang tidak menangisi kepergian simbah. Akhirnya saya akting menangis, biar menjiwai skenario (takdir). Tapi, apakah saya termasuk orang yang tidak bersedih soal meninggalnya simbah wadon? Tentu saya bersedih, apalagi saya kehilangan seseorang yang saya cintai. Tapi sedih tak melulu soal air mata dan ratapan sendu.

Banyak yang bilang laki-laki menangis itu tipe laki-laki cengeng, Saya tak setuju dengan kalimat tersebut, karena tidak semua laki-laki yang menangis itu cengeng.

Bagi saya, cengeng itu menangisi hal-hal kecil. Kalau laki-laki di cubit (misalnya) terus nangis ya itu sih positif cengeng, tapi kalau laki-laki nangis gara-gara orang yang dicintainya kawin sama laki-laki lain, ya wajar saja menurut saya.

Asal nangisnya bukan di pelaminan mantan.

 

  • view 418