Isyarat: Mama minta mantu

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 November 2017
Isyarat: Mama minta mantu

Sepuluh hari yang lalu, Ibu saya ulang tahun. Sebagai anak yang kadar ndablegnya ada di posisi kurang ajar, Saya tidak mengucapkan selamat kepada Ibu saya. Sebenarnya bukan karena saya lupa atau malas. Malahan saya sudah setting pengingat di ponsel saya. Tapi, masalahnya saya nyettingnya tanggal 16 november, kelewat sepuluh hari dari tanggal seharusnya. Kan kurang ajar namanya.

Kemarin Ibu saya nelpon dua kali. Pertama, siang hari. Kedua, malam hari. Seperti biasa, curhat. Maklum ibu-ibu.

Saya jarang sekali nelpon Ibu. Biasanya Ibu yang terlebih dahulu menghubungi Saya. Entah sms duluan, ataupun nelpon duluan. Iya iya, Saya anak yang kurang ajar. Hmmm.

Kami biasanya ngobrolin apa saja yang  bisa dijadikan bahan obrolan, sampai benar-benar tidak ada bahan obrolan. Ibu saya senang sekali ngobrol sama anaknya. Bisa sampai setengah jam, bahkan satu jam. Saking senengnya ngobrol, jika sudah kehabisan bahan obrolan terkadang kami cuma diam saja. Tidak mutusin panggilan.

Jika obrolan mulai ke arah gosipin orang, misalnya: si Anu udah beli mobil baru loh, atau si Itu katanya habis dapet lotre atau yang semacamnya. Pokoknya lagi ngomongin orang, biasanya saya langsung motong.
"Ngomongin yang lain aja, jangan ngomongin orang lain."
Ibu saya manut, paling cuma jawab
"Cuma mau ngasih tahu kamu."



Tadi malam, kami ngobrol banyak hal. Seperti biasanya sampai setengah jam lebih. Seringkali tertawa, seringkali hening hingga beberapa menit. Sampai-sampai Ibu nyeletuk.
"Turu pok?" (tidur ya?)
"Enggak." kataku

"Kemarin ke monas ya?"

"Iya"

"Itu perempuan yang foto disebelahmu pacar kamu?" tanya Ibuku lagi

Sudah hampir 5 orang yang menanyakan persis apa yang ditanyakan Ibu ke saya.

"Bukan." jawab saya singkat

"Kamu, kapan nyari pacar? kapan menikah?"

Pertanyaan ini, pertanyaan yang hampir selalu ada setiap kali Ibu menelepon saya. JIka sudah ada pertanyaan ini, Obrolan berikutnya pasti menjadi lebih serius. Biasanya saya menjawab sesingkat mungkin atau seringkali saya cuma diam.

"Adikmu sudah punya anak, kamu sudah punya keponakan. Sekarang giliran kamu menikah lalu punya anak." Sambung Ibuku lagi

Aku tahu, pertanyaan ini sebagai senjata Ibu untuk memaksaku agar segera menikah. Dan Aku tak punya perisai untuk pertanyaan Ibu.

"Iya Ibu"

"Jadi, Siapa calonmu kali ini yang mau kamu kenalkan ke Ibu?"

"Belum ada."

Suasana menjadi hening beberapa menit.

"Ibu ingin aku menikah dengan orang yang seperti apa?" Tanyaku kemudian

"Loh, kok tanya Ibu? Kan yang mau menikah kamu."

"Tapi, Ibu kan yang menyuruhku untuk segera menikah."

"Ibu ingin kamu bahagia, tentu saja jika kamu menikah Ibu akan bahagia juga."

"Apa tidak ada cara lain untuk membahagiakan Ibu? Membelikan tupperware misalnya?"

"Ibu bisa beli tupperware sendiri nak. Lagipula tupperware Ibu masih banyak."
"Ibu ingin punya cucu dari Istrimu."

Aku memikirkan apa saja wejangan yang diberikan Ibu kepada saya, termasuk soal segera menikah.

Suasana kembali hening hingga beberapa menit berlalu. Lalu, Ibu melanjutkan bicaranya

"Yang paling penting kamu menikah dengan perempuan bukan laki-laki." Kata Ibuku kemudian





Lalu kami berdua tertawa. Bahagia.



Selamat ulang tahun Ibu, maaf telat 10 hari.


Jakarta, 16 November 2017

H Sanjaya

  • view 253