Doa dari si Kecil

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 06 November 2017
Doa dari si Kecil

"Mas heruuu, ayoo maiin." Teriaknya dari luar kamar saya.

Saya diam saja, tak menjawab sepatah kata pun. Sudah sangat sering hal ini saya lakukan.
Pertama, agar Radit bosan dan lalu meninggalkan saya begitu saja. Kedua, tentu saja karena saya lagi malas bermain.

Karena tak mendapat jawaban dari teriakanya, Radit pun menendang-nendang pintu kamar. Sambil terus memanggil nama saya tentunya.

Akhirnya, saya mengalah.
Saya buka pintu perlahan, nengok ke arah bawah, disana ada seorang bocah yang lagi nyengir.

"Om, ayo main, lanjutin minecraft yang tadi." Pintanya dengan wajah polos

"Om mau shalat dulu dit." Jawabku

Radit diam sejenak, seperti sedang berpikir. Lalu, dia menengok ke dalam kamar saya, clingak-clinguk.

"Om, ada sarung berapa?." Tanya radit

"Ada banyak kenapa? Mau ikut shalat?."

Radit mengangguk.

"Emm, ntar om, aku mau ambil celana sarung punyaku aja. Tungguin ya, jangan ditinggal."

Radit turun ke bawah dengan bergegas. Hingga suara langkah kaki turun dari tangga seperti suara langkah kaki pasukan perang.

Hmm, dasar bocah ini, enggak pernah bisa santai. Batinku.

"Mas heruu, aku udah pakai celana sarung, yuuk shalat bareng."

"Yaudah ayuuk." Sambil gelar sajadah untuk shalat.

"Mas heru punya berapa mekena ?" Tanya Radit dengan wajah polos.

"Mekena? Apaan maksudnya?." Jawabku heran.

"Itu yang kayak punya mas heru itu." Sambil nunjuk ke arah sajadah.

"Ohh, ini sajadah bukan mekena, nih pakai aja buat kamu, ntar mas heru ambil lagi aja."

Ketika saya hendak takbiratul ihram tiba-tiba dari samping saya, bocah ini sudah ruku', lantas berdiri, lantas sujud, lantas berdiri lagi.

Lah, ini bocah gimana sih jadi makmum, imamnya belum takbir dia udah dapet 1 rakaat ?

Saya memandang ke arah Radit,
Dia lantas menatap saya.

Saya diam. Karena mungkin dia ngerasasaya perhatiin dari tadi, sebelum saya  mulai takbiratul ihram, terdengar kalimat dari dia dengan suara lirih.

"Aku shalatnya ikutin mas Heru aja ah."



Selesai menunaikan shalat maghrib, Radit hendak bergegas mengajak saya kembali bermain minecraft.

"Ayook om." Ajaknya.

"Doa dulu dit, habis shalat itu doa." Jawabku menasehati bocah ini.

"Oh iya, lupa." Sambil nyengir

Saya tak mendengar jelas apa yang didoakan oleh bocah kecil ini, tapi sedikit ada yang terdengar di telinga saya. Hanya setiap awalan doa yang terdengar.

"Ya Allah..................................................................."

Lalu,

"Ya Allah..................................................................."

Saya memperhatikan dalam diam. Agaknya bocah ini memang sedang berdoa serius kepada Allah.

Selesai shalat dan berdoa, kami merapikan sajadah. Di saat itu, saya coba tanya kepada Radit tentang doa yang dipanjatkanya.

"Tadi kamu doa apa aja dit? Kayaknya kok banyak banget?."

Dia tampak berusaha mengingat doa yang baru saja dipanjatkanya.
Lalu Radit berkata:

"Tadi aku minta sama Allah agar papa aku sembuh, biar bisa main bareng lagi." Jawabnya dengan wajah polos.

Saya terdiam agak lama, kemudian saya mengambil ponsel bermaksud untuk memotretnya.

"Dit, sini om poto dulu, ntar liatin ke papa."

Cekrek.

Selesai motret, Radit langsung nyerobot hp saya.

"Om, potonya kirim ke papa ya, sama aku mau sms papa."

"Yaudah dikirim aja."

Tanpa banyak bicara, bocah ini mengetik pesan singkat untuk papanya.
Kalimat sederhana, padat dan sangat bermakna.

Sembari mengetik pesan tersebut, saya mencoba bertanya doa apa lagi yang tadi diucapkanya.

"Kamu tadi doa apa lagi?."

"Mama kan sibuk banget, yang bantuin mama cuma 2 orang, ya aku doa aja biar ada 2 orang lagi. Jadi yang bantuin mama nanti ada 4 orang. Mama jadi gak sibuk lagi." Katanya.

"Tapi dit, kalau 4 orang itu kebanyakan jadinya."

"Yaudah kalau gitu 3 orang aja." Kata Radit meralat doanya.


"Sudah dikirim ke papa smsnya?"

"Ini mau aku kirim."

Pesan terkirim,




Setelah itu hp saya dilempar sembarangan terus dia bangkit.


"Ayo om, katanya mau main minecraft."


 

Catatan:
Radit sekarang berumur 7 tahun, dia baru masuk kelas 1 Sekolah Dasar beberapa bulan yang lalu.
Radit sering memanggil saya dengan Mas, juga lebih sering memanggil saya dengan sebutan Om. Tidak pasti.
Jika sedang ada maunya, Radit akan memanggil saya dengan kalimat "Mas Heru paling ganteng sedunia."
Tapi, jika sedang kesal dengan saya, Radit akan memanggil saya dengan kalimat "Mas Heru jelek sekali."





Jakarta, 5 November 2017

H Sanjaya

  • view 125