Namanya Bukan Indah

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2017
Namanya Bukan Indah

Jika ada yang bertanya kepada Saya mengenai siapa perempuan yang paling Saya sayang selain Ibu saya, jawabanya adalah perempuan yang pernah mengaku bernama Indah.

Satu malam disaat saya sedang lembur bekerja, ponsel yang saya letakkan tepat persis di sebelah kiri keyboard dan dibelakang cangkir kopi itu berbunyi. Nada dering panggilan masuk. Saya tengok kelayar ponsel ternyata nomer asing (tidak terdaftar di kontak ponsel saya). Dengan sedikit malas, Saya angkat ponselnya. "Halo, halo... lho kok enggak ada suara?" gumamku. Ternyata belum saya pencet tombol terima panggilanya. Ah, sial bego banget.

Diseberang sana terdengar suara perempuan, sedikit asing bahkan tak saya kenali itu suara siapa.
"Halo, malem.."
"Malem, siapa ya?" jawab saya sambil terheran. Biasanya jika ada seorang perempuan yang menghubungi Saya lewat ponsel, cuma ada dua kemungkingan: pertama dia mau menawari kredit, yang kedua mau menagih angsuran.
"Masa lupa sih?" jawab perempuan diseberang telpon dengan nada menggoda.
Saya yang tidak suka dengan orang yang bertele-tele dan bermaksud mengerjai akhirnya kesal juga.
"Bukan lupa tapi saya enggak tau siapa kamu!" jawab Saya dengan nada kesal.
" Masa sih, Saya temen kamu, masa udah lupa."
"Iya,namanya siapa?"
"Indah.."

Diam sejenak. Saya sedang berpikir. Seingat saya, saya hanya punya 2 teman perempuan yang bernama Indah. Yang satu tetangga depan rumah saya, yang satu lagi rekan bisnis dulu sewaktu Saya jadi pengusaha. Keduanya juga enggak akrab banget.
"Indah anak mana?" tanyaku
"Indah temen kamu, masa lupa sih." masih dengan nada menggoda
"Hmmm." jawab saya dengan nada putus asa.

Tiba-tiba.......

"Masa sama adiknya sendiri ora niteni suarane ? hahaha" Jawab perempuan itu dengan tertawa puas dan bangga.
"Bajiguuuuurrrr...  Jebul daritadi itu kamu, Ah, kurang ajar kakak sendiri di kerjain."
"Hahaha, hayooo Indah yang mana hayoo, punya kenalan Indah enggak kasih tahu aku, hihihi."
"Auk ah, ada apa nih malam-malam nelpon, pakai nomer baru pula, ngerjain kok niat banget." Tanyaku
"Enggak apa-apa kangen aja sama kakakku ini." Jawab adiku dengan cengengesan.
"Preeetttttt." Jawabku dengan nada kentut.

Itu adalah sebagian kecil keisengan Adik perempuan saya, selain iseng Dia juga penyayang.

Dua tahun terakhir ini, setiap tanggal 18 Desember Adik saya selalu mengirimi hadiah ulang tahun dan juga disertai surat yang ditulis langsung olehnya. Saya tidak pernah menyangka bahwa Adik perempuan saya bisa menulis surat sebagus itu. Maksud saya sejujur itu. Surat yang pertama isinya singkat dan padat, surat yang kedua agak panjang, hampir satu halaman. Di surat yang kedua inilah saat aku membacanya terasa begitu emosional. Terharu.

Saya sempat membalas surat itu, tapi Saya tidak pernah mengirimkanya. Surat balasan dari Saya  untuk Adik perempuanku yang cantik pernah saya tulis di akun medium saya.


Jakarta, 9 September 2017

H Sanjaya

  • view 34