Merayakan kemerdekaan di Ibu kota

Herru Sanjaya
Karya Herru Sanjaya Kategori Budaya
dipublikasikan 21 Agustus 2017
Merayakan kemerdekaan di Ibu kota

“Loh pak, jalanya udah ditutup?” Tanyaku

“Iya mas, Sudah pulang saja tidur dirumah, percuma gak bisa lewat juga.”

“Loh, Lha saya ini kan mau pulang pak, abis kerja soalnya.”

“Hari Kemerdekaan kok kerja. Yaudah gak usah pulang sekalian, percuma jalanan sudah ditutup semua.”

Di hari kemerdekaan memang sudah biasa jalanan di Jakarta ditutup untuk acara perlombaan kemerdekaan. Biasanya yang sudah terlanjur keluar (naik kendaraan) sulit untuk bisa langsung kembali ke rumah. (minimal harus menunggu sampai sore/sampai acara selesai).


Yang terlanjur pergi susah pulang, yang mau pulang gak sampai-sampai.

Di tengah keriuhan orang-orang yang sedang merayakan hari kemerdekaan, saya dan teman saya yang sedari pagi tidak bisa kemana-mana karena beberapa jalanan di Jakarta di tutup untuk acara perlombaan kemerdekaan, akhirnya hanya bisa menyaksikan lomba-lomba ditemani secangkir kopi.

“Menurut kamu, bangsa ini sudah benar-benar merdeka belum mas?” tanya teman saya

“Ya sudah tho.” Jawab saya sembari menyeruput kopi hitam pahit.

“Alasanya?”

“ Lho, kita yang orang Indonesia aja dari tadi pagi enggak bisa kemana-mana, jalanan diblokir sana-sini, enggak boleh lewat. Apalagi para penjajah sudah pasti gak boleh datang, kalau ada bisa diusir enggak boleh nonton lomba acara kemerdekaan.” Jawab saya sekenanya

“Berarti kita berdua sedang dijajah bangsa sendiri dong mas?”  Tanya teman saya sembari menghembuskan asap rokoknya.

Seketika itu saya tak bisa berucap apa-apa, rasanya napas saya tercekat di tenggorokan. Pikiran berkelebat di kepala saya.

Saya sadar, bahwa sebenarnya bangsa ini sudah benar-benar merdeka dari penjajahan asing.Tapi disisi lain anak bangsa ini sedang bertengkar sendiri-sendiri. Mereka merasa lebih berhak atas bangsa ini ketimbang kelompok yang lain. Teriak paling toleran tapi perilakunya justru menunjukan intoleran. Merasa didzalimi tapi justru mendzalimi yang lainya.

Ditengah lamunan yang singkat, tiba-tiba teman saya menyadarkan saya.

“ Mas, Oii malah ngelamun!”. teriaknya

“ Apalagiii?”

“ Itu nanti kopi sama rokoknya tolong dibayarin ya, aku mau ke wc umum dulu. Udah kebelet.”

“ Woo, bajingan. ini sih namanya saya dijajah temen sendiri.” Jawab saya sambil mecucu

“ Merdeka mas, Merdeka!!.” Teman saya nyengir berlalu ke wc umum sambil mengepalkan tangan seolah merayakan kemerdekaanya.



Jakarta, Hari Kemerdekaan Indonesia

Atas nama saya sendiri

H Sanjaya

  • view 38