Belajar dari menggoreng kerupuk

Sunny Qurani
Karya Sunny Qurani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Agustus 2017
Belajar dari menggoreng kerupuk

Kerupuk adalah kecintaan keluarga saya, dimulai dari rangginang, kerupuk ikan, kerupuk udang, kerupuk mie, kerupuk jengkol dan berbagai macam ragam kerupuk yang diciptakan tangan kreatif nenek-nenek kita. Hampir setiap hari di rumah kami, selalu ada satu sampai tiga toples berukuran besar yang berisikan kerupuk dan itu akan habis hanya dalam hitungan hari. Bapak saya yang saat ini sedang bertugas di Madura pernah membawakan satu dus kerupuk mentah asli Madura karena sebelumnya beliau pernah diberi beberapa bungkus macam-macam keripik mentah khas Madura dan rasanya ternyata luar biasaaaa.. Baik itu kerupuk ikan yang bentuknya keriwil-keriwil, bulat-bulat, panjang-panjang maupun kerupuk singkong yang katanya adalah pelengkap rujak Madura.

Hampir setiap tiga hari sekali, ibu saya selalu menggoreng kerupuk. Saya dulu tidak pernah ikut terlibat ihwal penggorengan kerupuk. Selain karena ibu saya tidak membutuhkan orang lain untuk membantu, juga karena menurut saya itu hanya lah kegiatan menggoreng seperti menggoreng makanan lainnya. Sampai suatu saat, saya mendatangi rumah salah satu sahabat saya untuk merayakan pertambahan umurnya. Saya dan sahabat saya lainnya disuguhi kerupuk oleh ibunya sambil berkata 'Maaf ya neng warnanya kurang bagus, ibu mah ngga bisa ngegoreng kerupuk'.

Dari obrolan-obrolan yang saya perhatikan di antara ibu-ibu yang menikmati waktunya berkarya di dapur, saya mengerti bahwa menghasilkan kerupuk yang tingkat gradasi warnanya bagus adalah salah satu 'prestasi' tersendiri.  Tapi yang paling saya fikirkan dari kejadian sebelumnya adalah, sesulit itu kah menggoreng kerupuk?

Atas dasar rasa penasaran saya, beberapa minggu setelahnya ketika saya di rumah, saya menawarkan diri untuk menjadi aktor utama dalam penggorengan kerupuk menggantikan ibu saya. Sebelum memulai percobaan pertama saya, ibu saya memberikan beberapa penjelasan terkait teknik lapangan. Saat itu saya tidak mendengarkan terlalu seksama karena goreng-menggoreng makanan sudah akrab bagi saya. Tapi ternyata saya terkalahkan oleh kesombongan saya...

Percobaan pertama saya ternyata gagal, kerupuk saya gosong ketika diangkat. Ibu saya kemudian menjelaskan ulang kalimat yang sebelumnya diutarakan.Percobaan kedua dan ketiga saya juga gagal meskipun saya sudah dinasehati sebegitu rupa, karena meskipun durasi menggoreng yang lebih singkat ternyata tangan saya belum cekatan. Percobaan keempat dan kelima juga tetap gagal, karena ternyata setelah gradasi warna kerupuknya sempurna ketika diangkat, minyak yang terbawa di dalam kerupuk masih bekerja mematangkan. Setelah percobaan-percobaan yang gagal terus, saya kemudian menyerah. Saya kesal. Setelah kejadian itu, saya tidak pernah lagi menawarkan diri untuk menggoreng kerupuk.

Sekitar satu tahun kemudian, saya memberanikan diri lagi untuk menggantikan ibu saya menggoreng kerupuk. Saya harus berhasil, fikir saya waktu itu. Tapi kali ini masih tetap gagal, namun lebih baik dari sebelumnya. Tangan saya lebih sigap dan insting saya lebih kuat. Yang paling penting adalah saya tidak begitu kesal dan langsung menyerah begitu saja ketika melihat kerupuk 'karya' saya tidak seindah hasil ibu saya. Beberapa kali kemudian saya membantu menggoreng. Meskipun tidak se-parah dulu, setidaknya dari puluhan kerupuk yang saya goreng kemarin sudah banyak yang tidak gosong dan beberapanya pula mempunyai gradasi warna yang menurut saya sempurna.

Jadi, apa kesulitan dari menggoreng kerupuk?

Dimulai dari mengetahui kerupuk mana yang harus dijemur terlebih dahulu dan tidak, mengatur suhu minyak yang sesuai agar tidak gosong atau agar tidak terlalu banyak menyerap minyak, menggoreng kerupuk satu persatu karena waktu pematangannya yang sangat cepat dan harus digoyang-goyangkan dalam minyak menggunakan spatula agar mengembang sempurna, tangan kiri yang harus memegang penyaringan minyak agar minyak yang turun dari kerupuk yang sudah diangkat tidak bercecer kemana-kemana, mengetahui kapan waktunya mengecilkan dan membesarkan api kompor untuk mengatur suhu yang pas.

Tampak mudah, bukan? Tapi sebetulnya tidak. Butuh konsentrasi yang tinggi tanpa terdistraksi oleh apapun.

Menggoreng kerupuk sama halnya dengan menjalani rangkaian kehidupan-kehidupan lainnya. Butuh waktu yang tak instan agar menghasilkan atau menciptakan sesuatu yang menurut kita sudah layak untuk diberikan kepada diri kita dan juga orang di sekitar kita. Di dalam waktu yang tidak instan tersebut, dibutuhkan keuletan untuk terus berlatih agar apa yang sebelumnya asing bagi indra kita menjadi sebuah kebiasaan, merelakan diri ketika kita sadar bahwa kita masih harus menghadapi kegagalan, mencari metode lain agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kita semua sudah lumrah dengan nasihat-nasihat ini, namun terkadang kita lupa dan malah menyerah ketika kita merasa bahwa kita tidak menemui titik terang dari usaha yang sedang dilakukan. Padahal, istiqamah sembari meng-upgrade diri adalah kunci utama untuk sampai pada titik yang kita impikan. Seperti banyak orang yang bijak berkata, bahwa perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil. Meskipun terasa melelahkan, ketika kita yakin bahwa kita bisa mencapainya, selambat dan sesusah apapun perjalanan tersebut, semua akan terlihat hasilnya di ujung perjalanan.

Dibalik warisan nenek kita berupa kerupuk, ternyata terselip pelajaran moral yang mungkin sengaja dititipkan untuk anak cucunya.

 

Cerita kecil tapi penuh drama.. Tapi memang belajar menghasilkan kerupuk yang mengembang dan bergradasi warna sempurna, pun butuh drama yang berliku! Hehehe

  • view 30