Selamat hari anak! (1)

Sunny Qurani
Karya Sunny Qurani Kategori Psikologi
dipublikasikan 23 Juli 2017
Selamat hari anak! (1)

Merawat anak layaknya memupuk sebuah tanaman, memberi air setiap pagi dan sore, memastikan bahwa tanah tempatnya tumbuh sesuai dengan karakter tanaman tersebut bahkan sampai ada yang perlu memagarinya agar tidak dirusak binatang.  Yang paling penting adalah bagaimana tanaman tersebut dapat tumbuh subur, menjadi cantik dipandang mata, dan pada beberapa pohon dapat berbuah dan berbunga. Meskipun pada realitanya, mendidik anak tak bisa dengan mudah diibaratkan dengan menanam pohon, ada kesamaan mendasar antara merawat anak dengan menanam pohon. Keduanya sama-sama membutuhkan perhatian yang ekstra, dukungan pengetahuan dan pendidikan yang tak sederhana dan juga kesabaran yang tak boleh sekalipun kosong.
Sebagian orang tua, bahkan yang belum menjadi orang tua dan beberapa yang belum menikah, sudah berangan-angan untuk menggambar peta perjalanan anak-anaknya. Dari mulai pendidikan yang akan ditempuh, ekstrakulikuler yang harus diambil, bahkan karir yang harus ditapaki. Tapi, sebelum hal itu dilakukan, pertanyaan yang paling mendasar kepada para orang tua dan calon orang tua ialah apakah kita sedang membesarkan anak-anak yang jelas-jelas bukan diri kita ataukah kita sedang membesarkan mimpi-mimpi kita melalui jiwa dan fisik anak-anak kita nantinya?
Tak ada yang salah untuk menyiapkan masa depan anak sebaik mungkin, karena masa depan yang baik tidak terbentuk secara instan namun harus dicicil sejak dini. Namun, terkadang, di perjalanan merangkai masa depan mereka, kita melewatkan sesuatu yang paling berharga, yaitu pertumbuhan mental mereka yang sehat. Tuntutan untuk menjadikan mereka yang terbaik sesuai dengan tipe ideal di masyarakat, terkadang mengenyampingkan hal yang paling mendasar yang dapat membuat anak mampu membahagiakan dirinya sendiri dan orang sekitarnya di masa depan.
Beberapa orang tua menjadikan strategi 'membandingkan dengan anak lain' agar anaknya mampu termotivasi lebih baik dari anak tersebut. Tapi tanpa disadari, orang tua membentuk anak menjadi pribadi yang 'tak hebat jika tak lebih baik dari orang lain'. Beberapa orang tua mementingkan prestasi anaknya di sekolah. Tak ada yang salah dengan hal itu karena sebagai salah satu bentuk mengajari anak untuk bertahan melawan tantangan. Yang tak benar adalah tindakan yang mengabaikan bahwa anak pun perlu waktu untuk mengeksplorasi diri mereka sendiri dengan cara-cara yang menurut mereka menyenangkan.
Lebih parah lagi jika dalam kesehariannya, telinga anak dipenuhi dengan tuduhan-tuduhan, kata-kata kasar dan menyalahkan, mata anak dipenuhi dengan gambaran-gambaran perilaku kekerasan dan hal-hal yang tak pantas lainnya, tubuhnya dipenuhi dengan bekas-bekas pukulan. Apa yang paling membekas dari kesemuanya adalah pembentukan pandangan anak-anak tentang dunia dan kemudian juga memantul pada karakter yang nantinya akan di bawa sampai mereka bertambah tua.

  • view 76