28 Oktober Tahun Ini

28 Oktober Tahun Ini

Sunita Kasih
Karya Sunita Kasih Kategori Renungan
dipublikasikan 28 Oktober 2017
28 Oktober Tahun Ini

28 Oktober kali ini memang berbeda, sebenarnya memang tak pernah sama. Waktu demi waktu yang beranjak menjadi tamparan keras bagi kita yang sidikit menilik kebelakang, bukan kaum yang terjebak masa lalu, kadang kita harus saling percaya, untuk apa hidup dengan tahun-tahun yang kini kita habiskan.

Kita butuh ses2 berjalan kaki, entah kepasar atau pada keramaian. Pikirkan  apa saja yang berubah dari diri kita juga lingkungan kita. Apakah pohon tetap menjadi pohon? Apakah gubuk tetap menjadi kumuh? Apakah pendidikan tetap menjadi proses tanpa hasil? Atau apakah kita masih belum mengerti kenapa kita harus mengetahui hal ini?

Banyak perubahan yang kita lakukan tanpa kita sadari, sebagian yang suka secara serius membuat indonesia penuh dengan tulisan-tulisan unik yang asik kadang juga menggelitik, sebagian yang suka program komputer dengan aplikasi sendiri, amatir namun selalu pantas harganya. Beberapa lagi sibuk dengan pelajaran juga sedikit demi sedikit membangun negeri. Sebagian dari kita sangat mempesona namun tidakkah yang baik selalu diiringi yang buruk? Aku juga terpukul oleh kita para pemuda yang kian hari makin tak mampu menempa diri, celoteh media sosial, tak asik sana-sini, hujat perbedaan juga sibuk dengan lukanya pacaran. Kita kenapa?
 
28 Oktober, ditempat menginjakkan kaki yang masih sama, tempat terbaik untuk merebahkan peluh juga sendu. Bangsa. Jangan tanya apa saja yang buruk dari kita pemuda masa kini, sudah penuh bak air sebelanga dalam gelas kecil. Jangan terbelenggu pada keburukan, balas setiap keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan.

Demi agama, bangsa dan orang tercinta.
 
Pemuda itu tameng terkuat agama, bangsa juga keluarga. Pemuda itu deretan yang mampu menjadi baja pelindung atau malah racun penghancur. Pemuda itu senjata yang kuat, seperti bom yang kapanpun bisa meledak demi sadar.

Pemuda itu berkarakter, berprinsif tak mau kalah pada pengaruh buruk. Pemuda itu beragam, berbeda tapi tetap menyatu dalam. Pemuda itu dia yang siap maju paling depan demi agama, bangsa juga orang yang dicintai tanpa buta.

Pemuda itu semua. Semua generasi penerus yang siap bangun kembali sayap garuda dengan lebih gagah. Dengan doa, keyakinan, usaha dan keikhlasan.

Mari jadi pemuda yang taat dan asik, tidak suka keburukan karena terlalu asik dengan belajar dan berlaku. Karena kita dituntut memanusiakan generasi selanjutnya, bangunlah tanpa pamrih dan tak pernah sirik sana-sini. Jadikan kita generasi pemuda banyak karya bukan gaya.
 
Semoga tak ada sesal juga luka dalam mengingat setiap bagian dari kehidupan kita, semoga kesadaran juga rasa cinta selalu datang pada kita.
 
Selamat memperingati hari sumpah pemuda. Tetaplah jadi pemuda yang gemar pada kebaikan.
 
 
Kita tidak sama, tapi kita kerjasama.
 
# sumpahpemuda2017

  • view 131