Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 14 November 2016   22:56 WIB
KurinduITD - Bersaudara, Karena Bhineka dan Pancasila

BERSAUDARA,

KARENA BHINEKA DAN PANCASILA

 

Sayup-sayup udara mulai menerpaku. Cahaya senja selalu ingin menyapaku. Sunyi, sepi, itulah teman yang seolah selalu setia menemani. Malam-malam terus beganti. Hari ke hari, waktu ke waktu seolah tiada henti.

Mulailah terlihat beragam persoalan, namun tak sedikit pula tampak secercah harapan untuk Indonesia di masa yang akan datang.

Permusuhan, pertengkaran hingga berujung pada pembunuhan seolah tak dapat terhindarkan. Alasannya pun sederhana. Ada yang beda agama, suku, ras, etnik, bahkan beda paham dan pemikiran pun seolah kekerasan menjadi jalan keluarnya.

Inikah bangsa Indonesia? Yang dulu terkenal dengan budaya ramah tamah, sopan santun, guyup rukun hingga bergotong royong dalam menyelesaikan permasalahan serta membantu saudaranya dalam memenuhi hajat kebutuhan dan keinginannya. Tapi, begitu mudahnya melupakan unsur-unsur persatuan dan kebudayaan yang telah dibangun nenek moyang ratusan hingga ribuan tahun yang silam.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik mengenai kasus statistic kriminalitas tahun 2015 dimana data yang disajikan diperoleh dari dua sumber utama statistik kriminal, yaitu (1) Data  berbasis  registrasi  (administrative  based  data) yakni data  kriminal  yang dihimpun oleh Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dan (2) Data berbasis survei (survey based data) yakni data kriminal yang bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional  (Susenas)  dan  Statistik  Potensi  Desa  (Podes)  yang  dihasilkan  oleh  Badan Pusat Statistik (BPS).

Dari data registrasi Polri mengungkapkan bahwa kejadian kejahatan di Indonesia selama periode Tahun 2012–2014 cenderung berfluktuasi.  Jumlah  kejadian kejahatan atau crime  total dari  sekitar 341 ribu  kasus  pada  tahun 2012  meningkat menjadi sekitar 342 ribu kasus pada tahun 2013. Namun, pada tahun 2014 menurun menjadi sekitar 325 ribu kasus.  Sedangkan jumlah  orang  yang  berisiko  terkena  tindak  kejahatan  (crime  rate)  setiap  100  ribu penduduk diperkirakan sebanyak 134 orang pada tahun 2012, 140 orang pada tahun 2013, dan 131 orang pada tahun 2014.

Pada data Susenas mengungkapkan bahwa jumlah dan persentase penduduk yang menjadi  korban  kejahatan  di  Indonesia  selama  periode  Tahun  2012–2014 yaitu  dari  sekitar  2,5  juta  rumah  tangga  pada  tahun  2012 menurun  menjadi  sekitar  2,43  juta  rumah  tangga  di  tahun  2013  dan  naik  lagi menjadi sekitar 2,66 juta rumah tangga di tahun 2014. Namun, dari seluruh rumah tangga yang menjadi korban hanya 19% (316 ribu) yang melaporkan kepada Polisi.

Dari data Podes sendiri mengungkapkan bahwa selama periode tahun 2008-2014 jumlah desa/kelurahan  yang  menjadi  ajang  konflik  massal  cenderung  meningkat,  dari sekitar  2.300  desa  pada  tahun  2008  menjadi  sekitar  2.500  desa/kelurahan  pada tahun  2011,  dan  kembali  meningkat  menjadi  sekitar  2.800  desa/kelurahan  pada tahun 2014.

Dari data statistik ini didapatkan bahwa masyarakat mulai dengan mudahnya melakukan tindak kejahatan tanpa berpikir lagi lebih matang bagaimana akibatnya kedepan, baik bagi dirinya sendiri ataupun keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

Sejak dahulu, sebenarnya para leluhur bangsa ini telah menanamkan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia yang begitu menakjubkan dan tidak dimiliki satupun bangsa lainnya di seluruh dunia ini. Nilai-nilai kepribadian bangsa ini tercermin dalam semboyan bangsa kita yaitu “Bhineka Tunggal Eka” yang bermaksud dalam segala bidang aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah sewajarnya masyarakat tanpa melihat kaya miskin, pejabat atau rakyat, suku, ras, agama atau hal yang lain karena semua adalah sama dan tetap satu yaitu untuk Indonesia.

Secara lebih rinci dapat terlihat juga dari nilai-nilai yang ada di dalam Pancasila yaitu nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Akhirnya ketika telah tertanam dalam diri masyarakat Indonesia nilai-nilai kepribadian bangsa tersebut maka menjadilah Masyarakat Pancasilais.

Masyarakat pancasialis adalah suatu masyarakat yang selalu dengan teguh mengamalkan nilai-niali yang terkandung dalam sila-sila Pancasila dengan sempurna sehingga secara otomatis dalam dirinya terdapat 5 gaya kepemimpinan yang dikombinasikan menjadi satu, karena nilai-nilai yang terdapat di masing-masing sila yang ada saling menjiwai antar satu sila dengan sila yang lain.

Dari sila ke-1 mengandung nilai ke-Tuhanan, yang melahirkan gaya Kepemimpinan Thesis yaitu kepemimpinan yang religius yang melaksanakan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan, dan menjauhkan diri dari setiap larangan Tuhan dan agamanya.

Pada sila ke-2 mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang akan melahirkan Kepemimpinan Humanis yaitu kepemimpinan yang berlandaskan perikemanusiaan yang menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia, etika sosial dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan serta keadilan kepada setiap orang yang dipimpinnya.

Dalam sila ke-3 mengandung nilai persatuan yang kedepan diharapkan mampu melahirkan gaya Kepemimpinan Nasionalis yaitu kepemimpinan yang memiliki rasa kesetiaan yang tinggi kepada bangsa atau tanah kelahirannya.

Pada sila ke-4 mengandung nilai kerakyatan yang dengannya lahirlah gaya Kepemimpinan Demokratik yaitu semua kebijakannya berlandaskan pada nilai-nilai kebijaksanaan yang diperuntukan dari, oleh dan untuk rakyat.

Dan dari sila ke-5 mengandung nilai-nilai keadilan yang besar harapan akan melahirkan gaya Kepemimpinan Social Justice yaitu pemimpin yang pandai dalam membaca situasi, mencari kearifan dan menemukan hal-hal yang tidak pernah dikemukakan oleh orang lain dan benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.

Melalui hal-hal inilah sebenarnya, sudah tidak akan ada masyarakat yang bertindak seenaknya sendiri. Bukan lagi mencari perbedaan apalagi mempertentangkan, tapi yang dicari adalah persamaan-persamaan yang bermuara pada tujuan persatuan untuk membangun Indonesia di masa depan.

Jika masih ada orang yang mempertentangkan agama dengan pancasila, mempertentangkan antar suku, ras, budaya dan lain sebagainya maka pada hakikatnya dia belum mengenal Indonesia. Belum mengenal nilai-nilai luhur dan kepribadian bangsa ini.

“Menurut teori politik, sikap diskriminasi bukan akibat latar belakang dan  kepribadian, tetapi akibat nilai & kepercayaan seseorang”

-Denny JA-

Karya : Sunali Agus Eko Purnomo