MITOS; dalam wujudnya sebagai batasan

Andi Errorman
Karya Andi Errorman Kategori Budaya
dipublikasikan 11 Agustus 2017
MITOS; dalam wujudnya sebagai batasan

Sebuah batasan, tidak hanya kita temukan wujudnya dalam dan dengan adanya jarak saja. Kultur juga bisa menelurkan batas-batas. Kebajikan merupakan jalan bagi moral dan unsur-unsurnya dibudayakan—juga dikokohkan. Sebab itulah mitos-mitos lahir dengan tujuan—dalam pemaknaannya—memberi batasan pada masyarakat agar terhindar dari kemerosotan moralitas. Adanya norma dalam masyarakat dimaksudkan untuk  mengimbangi tuntutan zaman yang tidak menentu, yang mungkin saja, bisa menuju kegilaan—lepas dari batas-batas kemanusiaan. Dongeng-dongeng leluhur bisa saja seperti lelucon yang tak masuk akal, tetapi disanalah ke khawatiran akan ketidak-pastian masa depan disemayamkan. Kisah yang berupa larangan dalam mitos leluhur adalah anjuran untuk kita bisa mengenal sebuah batasan sehingga kita tidak melampauinya.

Akan tetapi, zaman berbicara dalam bahasa dan gayanya sendiri. Kita lihat di era sekarang, di dunia modern ini, mitos-mitos di pecundangi dan batas-batas robohkan. Betapa sering yang terlampau berlalu dan hilang. Kita telah kehilangan kepercayaan dan kepekaan akan ketakutan. Rasa hormat dan saling harga-menghargai kian terkikis. Tuntutan peradaban modern mengikuti kita dengan terburu-buru. Akibatnya, kepercayaan lama, dengan anjurannya tentang pertalian kemanusiaan yang erat dan batasnya yang tak boleh dilampaui, menjadi barang langka. Syahdan, dalam masyarakat modern, orang-orang berlomba-lomba ( dituntut ) menjadi pelupa— relasi kemanusiaan.

Untung saja pengecualian akan kelupaan, kehilangan, dan kemorosotan relasi kemanusiaan masih kita temukan, utamanya di desa-desa, yang sebahagian masyarakatnya masih memegang teguh penghormatan kesilsilahan dan makna kesusilaan. Budaya animisme misalnya, terlepas dari konteks keagamaan, merupakan wujud penghormatan yang mendalam pada apa yang tak berwujud sehingga bisa saja berimbas pada penghormatan tertinggi akan wujud seperti manusia dalam relasinya. Apa yang dilihat dan di rasakan oleh masyarakat pedesaan adalah yang immaterial semacam nilai. Sesuatu yang hadir sebagai kenyataan tanpa wujud tapi penting.

Benturan-benturan masa lalu dan masa sekarang merupakan bentuk pengajaran yang diberikan oleh hidup kepada kita. Kita hanya bisa memilih dan memilah yang baik bagi kita tanpa berusaha menolaknya. Baik-buruknya sebuah generasi di tentukan oleh kita sendiri. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap memiliki pikiran yg terbuka agar bisa membandingkan, lalu membedakan untuk kemudian uji oleh penalaran. Sebab, satu kesalahan kecil yang kita lakukan hari ini (mungkin) akan berdampak besar pada generasi yang akan datang.

Akan tetapi, Jika anda kesulitan untuk tidak berbuat kesalahan, Setidaknya jangan berusaha untuk lupa akan adanya sebuah batasan.

 

 

 

  • view 38