sehidup sesurga

Sulastri Khoirudinda
Karya Sulastri Khoirudinda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 September 2016
sehidup sesurga

SEHIDUP SESURGA

               

 

 

Bila pandangan pertama dari mata sang kekasih bagaikan sebuah benih yang ditaburkan dalam hati manusia, maka penyatuan dua kekasih dalam perkawinan adalah bagaikan buah pertama dari bunga pertama benih itu.

                Perkawinan adalah penyatuan dua keutuhan, sedangkan yang ketiga bisa dilahirkan dibumi.

Ia adalah penyatuan dua jiwa dalam cinta yang kukuh untuk menghapuskan pemisahan.

Ketika hari pernikahan itu menjadi sebuah kenyataan. Danishara hidup bersama Fathoni disebuah rumah kecil yang dipenuhi dengan kisah cinta mereka berdua.

Rumah kecil mereka merupakan sebuah surga yang indah dimana pertemuan dua insan yang sederhana dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang diridhoi Allah SWT.

Setelah pernikahan ini berjalan tiga bulan, Allah pun menghadiahkan rizki kepada mereka. Danishara pun mengandung,didalam rahimnya telah tumbuh janin yang diharapkan dari pernikahan keduanya.

“Mas ada kabar gembira untukmu.”Danishara begitu antusias ingin memberitahu suaminya tentang kabar gembiranya.

“Apakah kabar gembira itu wahai istriku tercinta?.”Fathoni bertanya dengan penuh penasaran.

“Aku hamil mas.”Jawabnya dengan wajah berseri-seri dan penuh dengan kebahagiaan.

“Apa kamu hamil sayang?,Alhamdulillah…..terima kasih YaAllah.”

Fathoni bersujud syukur pada Allah atas janin yang sedang dikandung istrinya.

            Hidup keduanya bertambah bahagia karena tak lama lagi rumah kecilnya akan dipenuhi keceriaan dengan kehadiran seorang bayi yang selalu diharapkannya.

Sehidup sesurga dirumah kecil dan sederhana selalu dibumbui cinta, kasih dan sayang diantara keduanya. Tak pernah saling menyakiti, saling mengerti dan memahami satu sama lain.

Sembilan bulan sudah Danishara mengandung janin dalam kandungannya, waktu yang ditunggu pun telah tiba. Dimana kehadiran bayi mungil yang sangat ditunggu-tunggunya.

Sebelum adzan subuh berkumandang  Fathoni sudah pergi kemasjid. Dari masjid Agung sudah  terdengar suara  puji-pujian dan shalawat.Tak lama kemudian adzan pun berkumanang membangunkan semua orang yang sedang tertidur lelap.setelah adzan selesai,  para jamaah mengerjakan shalat sunnah sebelum melangsungkan shalat subuh berjamaah.Setelah shalat sunnah selesai imam segera berdiri didepan makmum,sebelum memulai terlebih dahulu imam memberi tahu makmum agar meluruskan shafnya.imam mulai mengucapkan takabir. Semua para jamaah melakukan shalat dengan begitu khusyuk.Setelah shalat subuh selesai, Fathoni kembali pulang.

Sesampainya didepan rumah ia mengetuk pintu, namun sang istri begitu lama membukakan pintunya. Dengan perasaan khawatir Fathoni pun mendobrak pintu.Dilihatnya Dnishara medang terjatuh dari ranjang tempat tidurnya.Ia sedang merasakan sakit, perut yang begitu membesar sudah waktunya untuk  melahirkan.Fathoni segera membawanya kerumah sakit.Fathoni begitu panik karena ketuban istrinya sudah pecah.Ia hanya bisa pasrah dan berdoa agar istri dan anaknya bisa selamat dari operasi sesarnya.Kini Fathoni hanya bisa menunggu didepan ruang operasi.

 Setengah jam sudah operasi dilakukan,akhirnya dokter keluar dari ruang oprasi dan member itahu Fathoni bahwa istri dan bayinya berhasil diselamatkan.betapa bahagianya Fathoni mendengar berita dari sang dokter. Akhirnya Fathoni sekarang telah menjadi seorang Ayah bagi bayinya yang baru saja lahir.

Sebahagiaan Danishara dan Fathoni terasa lengkap sudah dengan kehadiran bayi dirumah kecilnya yang indah .”RUMAHKU SURGAKU”

Saat Danishara sibuk mengurusi dan menyusui.Ia merasa perutnya sakit karena menahan kelaparan. Tak sempat dirinya memikirkan makan.Seharian sibuk dengan bayinya,jika Ia meninggalkan bayinya, dikhawatirkan bayi yang sedang disusuinya akan menangis.

Sang suami beranjak melangkahkan kakinya menuju dapur, diambilkannya sepiring nasi dan segelas air putih untuk istrinya.Lalu Fathoni menghampiri istri tercinta dan menyuapi nasi yang ia bawakan untuknya.

Subhanallah….. Begitu pekanya seorang suami terhadap istri yang sedang kerepotan mengurus bayi. Sedang dirinya merasa kelaparan lalu sang suami membawakan sepiring nasi dan menyuapinya.

 

 

  • view 253