SIKAP PROFESIONAL GURU DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

SIKAP PROFESIONAL GURU DALAM MENGHADAPI TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Suhardi Sulaiman
Karya Suhardi Sulaiman Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 29 Januari 2018
SIKAP PROFESIONAL GURU DALAM MENGHADAPI  TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

Nama    : SUHARDI SULAIMAN

NIM       : 1422111105

KELAS : C ( VII )

UNIVERSITAS : MUHAMMADIYAH KUPANG

 

 

ARTIKEL KONSEPTUAL

SIKAP PROFESIONAL GURU DALAM MENGHADAPI

TANTANGAN PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI

 

 

Abstrak

 Sikap professional seorang guru sangat diperlukan dalam menghadapi pendidikan di era globalisasi ini. Tugas guru tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik, mengasuh, membimbing dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia. Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Sehingga akan mengakibatkan hubungan antara guru dan siswa yang semula saling membutuhkan akan berubah menjadi hubungan yang saling acuh tak acuh, tidak membahagiakan dan membosankan.

 

Pendahuluan

Di era globalisasi saat ini, Indonesia harus mampu meningkatkan mutu pendidikan, sehingga tidak kalah bersaing dengan negara lain. Negara kita harus mencetak orang-orang yang berjiwa mandiri dan mampu berkompetisi di tingkat dunia. Saat ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang dapat berfikir secara efektif, efisien dan juga produktif. Hal tersebut dapat diwujudkan jika kita mempunyai tenaga pendidik yang handal dan mampu mencetak generasi bangsa yang pintar dan bermoral.

 

Guru merupakan komponen pendidikan yang sangat berperan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Kedudukan guru merupakan posisi yang penting dalam dunia pendidikan khususnya di lembaga pendidikan formal. Oleh karena itu, kebijakan sertifikasi bagi guru dan dosen memang suatu langkah yang strategis untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Secara konseptual guru sebagai tenaga profesional harus memenuhi berbagai persyaratan kompetensi untuk menjalankan tugas dan kewenangannya secara profesional, sementara kondisi riil di lapangan masih jauh dari yang diharapkan, baik secara kuantitas, kualitas maupun profesionalitas guru. Persoalan ini masih ditambah dengan adanya berbagai tantangan ke depan yang masih kompleks di era global.

Kompetensi guru merupakan seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerja secara tepat dan efektif. Sedangkan guru yang profesional adalah guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga mampu melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.

Guru merupakan orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Sudah selayaknya seorang guru itu diberikan kesejahteraan berupa sertifikasi. Dapat dipahami bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang disertai dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.

 

Bagian Inti

  1. Profesionalisme Guru

Ahmad Tafsir mendefinisikan bahwa profesionalisme adalah paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Istilah profesional aslinya adalah kata sifat dari kata ”profession” (pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda, profesional lebih berarti orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesi sebagai mata pencaharian.(Mc. Leod,1989).

Profesionalisme guru merupakan kondisi,arah, nilai,tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Adapun guru yang profesional itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompeten, dan guru yang dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi proses belajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik.

Secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat atau tidak memperoleh pekerjaan yang lainnya.

Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan pengabdian tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus untuk itu. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi). Dengan keahliannya itu seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik secara pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.

Kita tidak perlu menciptakan definisi atau kriteria guru profesional sendiri. Karena di dalam undang-undang guru dan dosen sudah dijelaskan mengenai definsi atau kriteria guru profesional. Berdasarkan UU NO. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, pasal 10 ayat 1, guru disebut profesional jika sudah memiliki 4 kompetensi. Kompetensi tersebut antara lain: (1) Kompetensi Pedagogik,yaitu kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, (2) Kompetensi Kepribadian, yaitu kemampuan guru yang mencerminkan sebuah kepribadian yang mantap, berbudi pekerti   luhur, wibawa dan bisa menjadi tauladan yang baik bagi siswa-siswanya, (3) Kompetensi Sosial, yaitu kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan siswa, sesama guru, orang tua siswa dan masyarakat, (4) Kompetensi Profesional, yaitu kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam, itu adalah point pokoknya. Dari point pokok tersebut tentunya masih bisa dijabarkan lagi ke dalam hal-hal yang lebih kompleks. Itulah definisi atau kriteria guru profesional menurut undang-undang guru dan dosen. Semoga definisi atau kriteria guru profesional tersebut mampu kita amalkan di lapangan dengan sebaik-baiknya.

Guru Profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya.Yaitu bahwa dirinya adalah pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar.guru dituntut untuk mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka apabila ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari jalan keluar bersama dengan peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan menyalahkannya (Baskoro Poedjinoegroho E, Kompas Kamis, 05 Januari 2006).

Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Tampaknya kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir hayat nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh yang lain, terlebih pada masyarakat Indonesia yang multikultural dan multibudaya, kehadiran teknologi tidak dapat menggantikan tugas-tugas guru yang cukup kompleks dan unik.

Oleh sebab itu, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang potensial untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara berkesinambungan mereka dapat meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun professional.

Menurut Arifin, guru yang profesional dipersyaratkan mempunyai, (1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengeta­huan di era globalisasi, (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia, (3) pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan yang lemah.

Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru yang profesional di era globalisasi, yaitu; 1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang, 2) penguasaan ilmu yang kuat, 3) keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi, dan 4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang professional. Ada beberapa karakteristik yang harus dimiliki gueu dalan menghadapi tantangan di era globalisasi ini diantaranya adalah, (1) Guru sebagai fasilitator, (2) Guru sebagai kawan belajar, (3) Penyelidikan dan perancangan, (4) kolaboratif, (5)   Hasilnya terbuka, (6) Keanekaragaman yang kreatif, (7) Komputer sebagai media belajar, (8) Interaksi multimedia yang dinamis, (9)   Interaksi multimedia yang dinamis, (10) Unjuk kerja diukur oleh pakar, penase­hat, kawan sebaya dan diri sendiri.

Berdasarkan poin-poin diatas penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan bahwa; 1) Pada era globalisasi menginginkan paradigma belajar melalui proyek-proyek dan permasalahan-permasalahan, inkuiri dan desain, menemukan dan penciptaan. 2) Betapa sulitnya mencapai reformasi yang sistemik, karena bila paradigma lama masih dominan, dampak reformasi cenderung akan ditelan oleh pengaruh paradigma lama. 4) Praktek pembelajaran di era globalisasi lebih sesuai dengan teori belajar modern. Melalui penggunaan prinsip-prinsip belajar berorientasi pada proyek dan permasalahan sampai aktivitas kolaboratif dan difokuskan pada masyarakat, bela­jar kontekstual yang didasarkan pada dunia nyata dalam konteks pada peningkatan perhatian pada tindakan-tindakan atas dorongan pembelajaran sendiri. 5) Pada era globalisasi praktek pembelajaran tergantung pada piranti-piranti pengetahuan modern yakni komputer dan telekomunikasi, namun sebagian besar karakteristik era globalisasi bisa dicapai tanpa memanfaatkan piranti modern. Meskipun teknologi informasi dan telekomunikasi merupakan katalis yang penting yang membawa guru pada metode belajar era globalisasi, tetapi yang membeda­kan metode tersebut adalah pelaksanaan hasilnya bukan alatnya

  1. Karakter guru menghadapi arus globalisasi.

Arus globalisasi siap mendobrak semua aspek kehidupan termasuk pendidikan. Dengan dalih globalisasi orangtua dan peserta didik menghendaki lembaga pendidikan bertaraf internasional, peroleh ijazah dan sertifikat yang dapat diakui oleh dunia luar. Alhasil, globalisasi menuntut pendidikan sanggup mempersiapkan diri. Jika lembaga pendidikan (sekolah) tidak mampu memenuhi harapan itu, maka sangat tidak mungkin akan ditinggalkan oleh siswa/ masyarakat, dan tidak ada lagi yang mau belajar di sekolah konvensional. Globalisasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi para guru, terlebih yang telah memperoleh legalitas pengakuan akan professionalitas keguruannya, yaitu sertifikat guru. Apabila guru tidak siap menghadapinya maka akan diterjang, dan jika tidak mampu menyesuaikan diri maka akan menjadi orang tidak berguna dan hanya akan menjadi penonton.

Menghadapi tantangan demikian, diperlukan guru yang benar-benar profesional. Dalam konteks ini Maka Giansar menawarkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru guna menghadapi era global, yaitu kemampuan antisipasi, kemampuan mengenali dan mengatasi masalah, kemampuan mengakomodasi, dan kemampuan melakukan reorientasi. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh guru yang profesional bukanlah pengetahuan yang setengah-tengah tetapi merupakan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tuntas, karena ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri berkembang dengan cepat. Guru yang tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang kuat, tuntas dan setengah-setengah akan tercecer dan tidak mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia akan berada jauh di belakang, dan akhirnya akan tertinggal dari profesinya.

Dalam upaya meningkatkan kualiatas pengajaran, guru dengan profisionalitasnya harus bisa mengembangkan tiga intelejensi dasar peserta didik, yaitu, intelektual, emosional, dan moral. Tiga unsur tersebut harus ditanamkan pada diri peserta didik sekuat-kuatnya agar terpatri di dalam dirinya. Kecuali itu guru harus memperhatikan dimensi spiritual siswa.

Guru yang bermutu ialah mereka yang dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu guru harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya. Setidaknya ada empat prasyarat bagi seorang guru agar dapat bekerja professional, yaitu

 Di era global karakteristik guru harus jelas dan tegas dipertahankan antara lain adalah

 (1) Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, tuntas dan tidak setengah-setengah,

 (2) Memiliki kepribadian yang prima,

 (3) Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.

  1. Tantangan profesional guru di era globalisasi

        Globalisasi sebagai suatu produk pembangunan dimotori Barat selaku pemegang   konstelasi dunia dalam sains-iptek dan ekonomi. Namun, perlu disadari bahwa keberhasilan Barat menjadi pihak paling berpengaruh di dunia sesungguhnya tidak terlepas dari keberadaan dan  peranan lembaga pendidikan. Jadi, persoalan globalisasi tidak terlepas dari keberadaan lembaga pendidikan selaku pencetak Sumber Daya Manusia (SDM). Munculnya kategori negara berkembang (developing countries) dan negara-negara maju (developed countries), pada dasarnya sebagai konsekuensi atas perbedaan tingkat kualitas SDM untuk keperluan modernisasi. Sebagaimana moderisasi, globalisasi merupakan kehalusan sejarah. Globalisasi merupakan bagian dari dinamika peradaban manusia. Islam memandang menuntut ilmu dengan orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah). Manusia harus berupaya mengejar ilmu tentang bagaimana sesungguhnya syariat dan akhlak Islam. Seorang mewujudkan dimensi praktik agama (syari`ah) dan dimensi pengalaman (akhlak), dia harus mendahlukan dimensi pengetahuan (ilmu). Sebab dimensi ilmu merupakan prasyarat bagi terlaksananya dimensi peribadatan dan dimensi pengalaman. Sejalan dengan berkembang sains-teknologi dan meluasnya pengaruh globalisasi, pendidik senantiasa dituntut dapat mengimbangi perkembangan sains-teknologi yang terus berkembang. Seorang pendidik diharapkan mampu pula menghasilkan anak didik sebagai SDM yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh percaya diri. Untuk mencipatakan SDM berkualitas tersebut.

 Sejumlah kecenderungan dan tantangan globalisasi yang harus diantisipasi pendidik dengan pentingnya mengedepankan profesionalisme. Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar. Dengan kondisi ini, seorang pendidik diharapkan dengan menyesuaikan diri dengan responsif, arief, dan bijaksana. Responsif artinya pendidik harus bisa mengusai dengan baik produk iptek, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan, seperti pembalajaran dengan menggunakan multimedia. Tanpa penguasaan iptek yang baik, pendidik akan tertinggal dan menjadi korban iptek.

                 Kedua, krisis “moral” yang melanda bangsa dan negara Indonesia akibat pengaruh iptek dan globalisasi telah menjadi penggeseran nilai-nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tradisional yang sangat menjunjung tinggi moralitas bisa saja dapat bergeser seiring dengah pengaruh iptek dan globalisasi. Di kalangan remaja sangat begitu terasa akan pengaruh iptek dan globalisasi. Pengaruh hiburan baik berasal dari media cetak maupun media elektronik yang menjurus pada hal-hal pornografi telah menjadikan sebagian remaja tergoda dalam suatu “pilihan” kehidupan yang menjurus pada pergaulan bebas dan materialisme. Mereka sebenarnya hanya menjadi korban dari globalisasi yang selalu menuntut kepraktisan, kesenangan balaka (hedonisme) dan budaya cepat saji (instant).

Ketiga, krisis sosial, seperti kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat dunia. Akibat perkembangan industri dan kepitalisme maka muncul masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Tidak semua lapisan masyarakat bisa mengikuti dan menikmati dunia industri dan kapitalisme. Mereka yang lemah secara pendidikan, akses, dan ekonomi akan menjadi korban ganasnya industralisasi dan kapitalisme, ini merupakan tentangan bagi guru dalam merespons realitas ini, terutama dalam kaitannya dengan unia pendidikan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang formal dan sudah mendapat kepercayaan (trust) dari masyarakat harus mampu menghasilkan peserta didik yang siap hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Dunia pendidikan harus menjadi solusi dari suatu masalah sosial (kriminalitas,kekerasan, penganggura, dan kemiskinan) bukan menjadi bagian bahkan penyebab dari masalah sosial tersebut.

           Keempat, krisis identitas sebagai bangsa, sebagai bangsa dan negara di tengah bangsa lain di dunia membutuhkan identitas kebangsaan (nasionalisme) yang tinggi dari warga negara Indonesia. Semangat nasionalisme dibutuhkan tetep eksisnya bangsa dan negara Indonesia. Nasionalisme tinggi dari warga negara akan mendorong jiwa berkorban untuk bangsa dan negara sehingga akan membuat perilaku positif dan terbaik untuuk bangsa dan negara. Dalam dekade terakhir, ada kecenderungan menipisnya jiwa nasionalisme di kalangan generasi muda. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti kurang apresiasinya generasi muda terhadap “kebudayaan asli” bangsa Indonesia, pola dan hidup remaja yang kebarat-baratan, dan beberapa idikator lainnya. Melihat realitas perilaku generasi muda ini, pendidik/guru sebagai penjaga nilai-nilai termasuk nilai nasionalisme harus mampu memberikan kesadaran kepada generasi muda akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima, adanya perdagangan bebas, baik tingkat ASEAN, Asia Pasifik, maupun dunia. Kondisi ini membutuhkan kesiapan yang matang terutama dari segi SDM. Indonesia, ke depan, membutuhkan SDM yang andal dan unggul yang siap bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Dunia  pendidikan mempunyai peranan yang penting dan strategi dalam menciptakan SDM yang berkualitas.dibutuhkan pendidik/guru yang visioner, kompeten, berdedikasi tinggi dan berkomitmen agar mampu membekali peserta didik, output, dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan di tengah masyarakat sedang dan terus berubah.

Penutup

Kesimpulan/Saran

Setelah penulis membaca dan mereviu beberapa artikel dalam jurnal kependidikan, pada artikel ini sudah penulis menegaskan kembali tentang bagaimana sikap seorang guru yang dikatakan sudah memiliki sikap profesional yaitu jika sudah memiliki empat kompetensi diantaranya,

(1) Kompetensi Pedagogik,

(2) Kompetensi Kepribadian,

 (3) Kompetensi Sosial,  

(4) Kompetensi Profesional, yaitu kemampuan guru dalam menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam, serta penulis juga menjelaskan tentang bagaimana karakter seorang guru menghadapi tantangan dalam dunia pendidikan di era gloobalisasi ini

(1) Memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat, tuntas dan tidak setengah-setengah,

 (2) Memiliki kepribadian yang prima,

 (3) Memiliki keterampilan untuk membangkitkan minat peserta didik kepada ilmu pengetahuan dan teknologi,  dan yang terakhir adalah sikap yang harus dimiliki guru dalam menghadapi tantangan di era globalisasi ini diantaranya guru harus

 

 (1) seorang pendidik diharapkan dengan menyesuaikan diri dengan responsif, arief, dan bijaksana,

2) seorang guru diharapkan mampu menerapkan dan menjelaskan bagaiama pentingnya menjunjung tinggi nilai moralitas dalam kehidupan bermasyarakat hal ini dilakukan sebagai bentuk pencegahan pengaruh buruk yang bisa saja timbul  dari perkembangan iptek dan globalisasi, (3) seorang guru harus cepat merespons berbagai permasalahan yang terjadi dilingkungan pendidikannya terutama dalam kaitannya dengan kriminalitas, dan  kekerasan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang formal dan sudah mendapat kepercayaan (trust) dari masyarakat harus mampu menghasilkan peserta didik yang siap hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun, (4) pendidik/guru sebagai penjaga nilai-nilai termasuk nilai nasionalisme harus mampu memberikan kesadaran kepada generasi muda akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, (5) pendidik/guru yang visioner, kompeten, berdedikasi tinggi dan berkomitmen agar mampu membekali peserta didik, output, dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan di tengah masyarakat sedang dan terus berubah.

Di era globalisasi saat ini, Indonesia harus mampu meningkatkan mutu pendidikan, sehingga tidak kalah bersaing dengan negara lain. Negara kita harus mencetak orang-orang yang berjiwa mandiri dan mampu berkompetisi di tingkat dunia. Saat ini, Indonesia membutuhkan orang-orang yang dapat berfikir secara efektif, efisien dan juga produktif. Hal tersebut dapat diwujudkan jika kita mempunyai tenaga pendidik yang handal dan mampu mencetak generasi bangsa yang pintar dan bermoral.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

`Daftar Rujuk

Arifin. 1995. Kapita Selekta Pendidikan (islam dan umum). Jakarta: Bumi Aksara.

Idi,Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan: Individu, Masyarakat, dan Pendidikan

Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Opini Baskoro Poedjinoegroho E, Kompas Kamis, 05 Januari 2006.

Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Samana, A. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta: Kanisius.

Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Uzer, Usman. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Undang-Undang Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Bandung: Citra Umbara.2005.

  • view 951