Kopi Sore

Saverinus Suhardin
Karya Saverinus Suhardin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Februari 2016
Kopi Sore

Setelah membaca, kemudian menonton filosofi kopi, ditambah beberapa kali menyaksikan acara viva barista, kesimpulan sementaranya kopi itu sangat kompleks untuk dibahas. Dari sumber informasi tadi, perlakuan terhadap kopi itu bermacam-macam. Mulai dari pemilihan bibit, cara menanam, perawatannya, teknik pemetikan dari ranting, pengolahan biji kopi yang matang, metode roasting, hingga menjadi bubuk, dan cara menyeduh. Alat bantu yang digunakan juga cukup bervariatif, mulai dari yang tradisional sampai peralatan moderen.

Saya pun semakin sadar, pengetahuan saya tentang kopi sangatlah minim. Dalam film filosofi kopi, saya merasa aneh dengan cara barista meracik kopi. Kecuali bagian yang mengisahkan tentang kopi tiwus, karena prosesnya cukup familiar dengan keseharian saya di kampung.

Di kampung saya, Flores, kopi sudah ditanam oleh kakek dan nenek dahulu kala. Kemudian diwariskan pada orang tua. Selanjutnya mereka merawat dan tentu saja panen kalau buah kopi di pohon memerah. Setelah dipetik, kopi tadi langsung ditumbuk atau bisa juga langsung dijemur. Tujuannya agar biji kopi terpisah dari kulit luarnya. Biji kopi selanjutnya digoreng, kemudian ditumbuk hingga menjadi bubuk yang berwarna hitam. Ambil sesenduk, masukan dalam cangkir. Tambahkan gula sesuai selera, lalau sirami dengan air panas. Jadilah minuman kopi yang nikmat. Seperti kopi tiwus, kan ?

Ketika biji kopi diolah oleh barista profesional, kesannya sangat 'wah'. Tidak salah kalau tiap cangkir harganya cukup mahal bagi kantong saya. Kalau sudah mahal, hilanglah sudah kenikmatannya. Bagi saya, kopi yang murah atau bila perlu didapat secara gratis, itulah yang paling nikmat.., hehehe...

Hari semakin sore, suasana Kota Surabaya sedikit mendung. Ada baiknya menikmati kopi sachet yang harganya cuma seribu rupiah saja. Memang, kopi itu rumit kalau dibicarakan, tapi sangat nikmat jika diminum. Begitu saja ya...

  • view 134