Buku Pernikahan

Saverinus Suhardin
Karya Saverinus Suhardin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Buku Pernikahan

Setiap kali singgah di kios Paroki SMTB Surabaya setelah misa, salah satu kebiasaan favorit saya adalah melihat koleksi buku yang mereka jual. Memang tidak begitu banyak, karena hany menjual buku-buku rohani atau paling tidak mempunyai kaitannya dengan ajaran kristen. Dari semua buku, saya perhatikan, paling dominan memuat topik tentang pernikahan. Sub topiknya macam-macam. Informasi mengenai hukum gereja tentang pernikahan, bicara soal cinta sejati, bagaimana membina rumah tangga kristiani, dll. Pada intinya, mau menjelaskan bagaimana sebaiknya berkelurga/menikah sesuai ajaran Kristus.

Dari semua bahasan itu, satu hal yang perlu diketahui, pasangan kekasih itu digambarkan antara laki-laki dengan perempuan. Tidak ada lagi kombinasi lain. Sesuai kisah penciptaan awal, manusia dipasangkan dengan sangat jelas, Adam-Hawa.

Kembali lagi soal dereta buku tadi, saya jadi bertanya sendiri, kenapa buku tentang pernikahan atau hidup berumah tangga banyak sekali dijual ? Apa karena banyak keluarga kristen yang salah langkah atau tidak berpedoman sehingga berakhir pedih ? Apa karena pemuda-pemudi kristen kurang mendapat didikan atau petuah dari orang tua atau pendahukunya ? Atau karena memang menikah atau hidup berkeluarga itu sulit, sehingga membutuhkan buku panduan ? Atau apakah ini menjadi suatu pertanda dari-Nya pada saya yang sudah tidak muda lagi namun belum menikah, agar segera meyakinkan diri, berani bertindak, dan segera menikah ?

Saat keluar kios buku tersebut, saya menengadah ke atas, terlihat awan hitam berkumpul menutup birunya langit. Hujan gerimis turun perlahan. Saya berdiri sejenak, berharap ada suara-Nya dari sana. Nihil. Sementara itu, hujan semakin deras. Saya berlari, kemudian berteduh di Gua Maria. Saya berlutut, menenangkan diri, hanya fokus pada-Nya. Saya dengungkan kembali dalam hati firman yang didengar saat misa tadi. Berharap, itulah jalan keluar dari beribu pertanyaan dalam pikiran.

Dalam hening, saya membayangkan dari kumpulan awan tadi terdengar suara : "Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Mat 17:5)

Bersabdalah atau berbisiklah Tuhan, hamba siap mendengarkan. Kiranya langkah yang saya tempuh tanpa ada rasa cemas dan lebih optimis, Amin. Selamat berhari minggu...GBU.

  • view 141