Salib Harapan

Saverinus Suhardin
Karya Saverinus Suhardin Kategori Agama
dipublikasikan 21 Februari 2016
Salib Harapan

Seorang gadis kecil menarik tangan Ibunya sambil berlari kecil. Wajahnya semringah, menggambarkan antusiasme yang tinggi. Saya yang baru saja keluar dari pintu gereja, penasaran dengan pemandangan tersebut. Saya ikuti mereka yang ternyata menuju sebelah utara gedung Gereja.
?
Dari jarak beberapa meter saya perhatikan, anak tadi yang terus didampingi ibunya, duduk di dekat salib ukuran besar. Jika tidak salah, salib tersebut dibentuk dari rangkaian beberapa sangkar burung. Terlihat unik, dan tampak ditempeli banyak kertas berwarna-warni ukuran kecil.
?
Anak tadi mengambil satu kertas kecil yang tersedia dalam kotak di samping salib, kemudian menulis sesuatu. Sesekali dia menoleh pada Ibunya, berbicara sebentar atau mungkin bertanya, lalu menulis kembali. Saya terus memperhatikan dari jauh, sambil memotret. Setelah menulis beberapa saat, anak tadi menggantungkan kertasnya pada salib, kemudian tersenyum riang pada ibunya. Seperti baru saja melewati sebuah tantangan besar. Sang ibu merangkulnya, lalu keduanya berjalan menuju tempat parkir.
?
Giliran saya yang mendekat ke salib tadi. Saya penasaran dengan apa yang ditulis anak tadi. Ternyata, dalam kertas-kertas kecil itu, memuat informasi mengenai nama, umur/kelas, dan apa yang menjadi pantangan selama masa pra-paskah. Harapan yang mereka tulis itu sederhana dan unik, sangat khas sesuai usianya . Misalnya ada yang menulis, "Saya mengurangi makan cokelat; Saya harus rajin belajar, nurut sama orang tua; Saya tidak jajan sembarangan", dll.
?
Nah, barulah saya mengerti, itulah salib harapan yang telah disinggung atau dijelaskan Pastor saat pengumuman paroki. Salib harapan itu ditujukan bagi anak-anak SD. Harapan atau komitmen selama masa puasa atau berpantang, mereka tuliskan secara jelas di sana. Disaksikan oleh orang tua atau keluarga, dan tentunya mereka menyadari kalau digantungkan pada salib, sama halnya berjanji langsung pada Tuhan. Harapannya, sejak dini mereka semakin mengenal makna puasa dan berpantang.
?
Karena saat saya SD tidak pernah melakukan hal serupa, kejadian itu saya anggap unik dan menarik untuk diikuti. Saya ingin ikut menulis, tapi malu juga sama anak-anak yang berada di situ. Apalagi sudah diumumkan, kalau itu diperuntukkan bagi anak SD. Sudahlah, saya cukup membaca saja.
?
Akibat masa kecil tidak dibiasakan seperti itu, dampaknya hingga sekarang. Jumat kemarin, saya bersama teman kost membeli nasi di warung padang. Kami minta nasi ekstra, dengan lauk ikan dan ayam. Setiba di kost, kami langsung menyantap dengan lahap.
?
"Hmmm..., hari ini mestinya kita puasa dan berpantang" kata teman saya saat separuh nasi telah habis.
?
Waduh, sudah terlanjur bro. Kok, kita tidak mnyadari sejak tadi ? Semoga Tuhan memakluminya, Amin.
?

  • view 163