Sepatu Dolly

Saverinus Suhardin
Karya Saverinus Suhardin Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2016
Sepatu Dolly

Saya sudah lupa, lewat mana kalau ke gang Dolly. Sudah terlalu lama tidak jalan-jalan ke sana. Saya juga sudah lupa, kapan terakhir ke sana. Bahkan, kata atau nama "Dolly" itu hampir tidak terpikirkan lagi.

Tapi, semenjak sepatu Dolly menjadi bagian kabar utama saat pelantikan Ibu Risma sebagai Walikota Surabaya kemarin, bayangan tempat itu kembali muncul. Meski tidak begitu jelas. Yang terlintas hanya berupa gang kecil yang banyak jumlahnya, lampu jalan yang berwarna temaram, lampu kelap-kelip, serta dentuman musik keras.

Sudahlah, kenangan masa lalu itu tidak begitu penting. Kini, bicara soal gang Dolly, yang terpikirkan pertama kali itu soal sepatu. Tadi saya lihat foto Ibu Risma menggunakan sepatu Dolly. Warnanya putih, terlihat berwibawa dan anggun. Ibu Risma mengaku, sepatunya bagus. Nyaman dipakai, tidak membuat kulit kaki kecet meski berdiri lama dan banyak berjalan. Kabar baiknya lagi, harga sepatu di sana cukup terjangkau.

Nah, kalau sudah mendengar kabar begitu, siapa yang tidak penasaran ? Kalau Anda tidak, ya berarti saya sajalah. Saya ingin ke sana lagi. Mau melihat sepatu Dolly. Siapa tau ada yang sesuai dengan keinginan saya. Kalaupun tidak menemukan sepatu, siapa tau masih ada sisa-sisa Dolly tempo dulu. Semoga tidak tersesat. Tuhan, bimbinglah....

***

Kalau di Surabaya lokalisasi bisa ditutup dibawah tangan Ibu Risma, kini perhatian kita tersedot ke Kalijodo Jakarta. Hampir tiap hari dibicarakan. Seperti biasa, selalu kotroversi. Ada pihak yang setuju, ada pula yang tidak. Apapun responnya, Pemprov DKI sudah membulatkan tekat agar Kalijodo kembali pada fungsi semestinya, sebagai ruang terbuka hijau. Berita terkini, Pak Ahok secara tegas akan menggusur Kalijodo dengan memberikan SP 1 atau surat peringatan pertama.?

Menurut Pak Ahok, penggusuran Kalijodo bukan karena alasan ada lokalisasi di sana. Bahkan, secara pribadi Gubernur DKI Jakarta itu sepakat dengan adanya lokalisasi agar bisa terkontrol dengan baik. Tapi, karena lokasi tersebut seharusnya menjadi ruang terbuka hijau, terpaksa dilakukan penggusuran.

Mungkin kata 'penggusuran' itu kesannya tidak manusiawi, melanggar HAM, atau semacam penindasan bagi rakyat kecil. Tapi, tunggu dulu. Penggusuran itu bukan tanpa ada alternatif solusi. Misalnya, sudah disiapkan rumah susun bagi penduduk yang memiliki KTP asli Jakarta. Bagi pendatang yang ingin kembali ke kampung asalnya, akan difasilitasi oleh pemerintah. Sementara untuk warga yang kehilangan pekerjaannya (PSK atau yang lain), akan diberi pelatihan kerja, keterampilan khusus yang bisa dikembangkan sebagai UMKM. Apalagi setelah dilatih, diberi dana secukupnya untuk memulai usaha sendiri. Harapan selanjutnya, mereka bisa mandiri dan lebih bermartabat.

Solusi yang ditawarkan, tidak berbeda jauh dengan penanganan eks penghuni Dolly di Surabaya dulu. Kisah sukses penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya, sudah menjadi contoh atau pembelajaran yang baik bagi warga Kalijodo. Kiranya, lokalisasi di daerah lain bisa terinspirasi dengan cara tersebut. Memang agak sulit, pelan-pelan saja. Kelak, kalau di Surabaya terkanal dengan "Sepatu Dolly", mungkin saja di Jakarta ada "Pusat Aksesoris Kalijodo". Semoga...

  • view 179