HAPPY ZAINUDINE'S DAY

Saverinus Suhardin
Karya Saverinus Suhardin Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
HAPPY ZAINUDINE'S DAY

HAPPY ZAINUDINE'S DAY

Apapun yang ada di muka bumi ini, tidak luput dari kontroversi. Selalu ada pro dan kontra. Ada kelompok yang membela dan melakukan keyakinannya. Ada pula kelompok lain yang tidak meyakini sesuatu hingga berkampanye agar sebanyak-banyak orang ikut bersama mereka.

Dari berjuta-juta perbedaan pendapat itu, salah satu yang lagi aktual bulan ini, ya tentu saja "Valentine day" (selanjutnya ditulis: VD) atau hari kasih sayang. Karena sudah paham dengan fenomena kontroversi tadi, saya memilih untuk netral saja. Memaklumi mereka yang merayakan maupun tidak, sesuai dengan argumentasi masing-masing. Tidak bisa kita memaksa kehendak pada yang lain. Biarlah setiap orang memutuskan hal terbaik untuk dirinya.

Mengapa lebih memilih netral ? Tidak ada alasan yang jelas. Mungkin pengalaman selama ini yang membentuk cara saya berpikir. Begini, saat tinggal di kampung (masa anak-anak hingga tamat SD), hampir tidak pernah saya mendengar VD itu. Begitu masuk SMP di kota, barulah saya mendengar dan selanjutnya melihat, kemudian mengikutinya. Bagus juga. Ramai. Makan-makan bersama, goyang, dan berdansa. Tidak kalah penting, kalau lagi beruntung bisa dapat hadiah dari pacar atau sahabat.

Ada juga saat dimana saya tidak ikut merayakannya. Saat di lingkungan tempat tinggal tidak diselenggarakan pesta VD; saat sedang berada jauh dari orang-orang tercinta/merantau, dll., ternyata tetap baik-baik saja. Tidak membuat saya merasa hampa atau seperti kehilangan sesuatu. Biasa saja. Toh, memang sebelumnya merayakan VD hanya ikut ramai saja. Tidak ada penjiwaan selama merayakannya.

Hingga kini, saat terbiasa menggunakan media sosial, saya pun menemukan begitu banyak penentang VD. Alasannya macam-macam. Tidak sesuai ajaran agama, melanggar norma, tidak sesuai budaya Indonesia, dan sebagainya.

Kalau direnung-renung, alasan mereka ada benarnya juga. Sehingga tidak perlu diperdebatkan lagi, apalagi sampai harus memaksakan kehendak. Bisa terjadi gesekan horizontal yang membuat semakin hilang makna kasih sayang itu sendiri.

Seperti kata Om Sule, "Tidak penting hari palentain atau tidak. Yang terpenting itu bagaimana kasih sayang itu kita nyatakan setiap hari pada sesama. Ituhh..".

Tapi, kalau tadi alasan tidak mau merayakan VD itu karena bukan budaya kita Indonesia, mungkin ide berikut bisa dijadikan solusi. Tokoh yang memperjuangkan cinta, saya kira bukan hanya Valentinus saja. Banyak sebenarnya, hanya saja luput ditulis sehingga tidak diketahui khalayak. Termasuk di Indonesia, banyak tokoh baik fiksi maupun nyata yang layak dijadikan panutan dalam memperjuangkan cinta sejati. Misalnya saja cerita tentang Habibie dan Ainun.

Saya tidak tahu pasti, apakah tokoh Zainudin dalam film "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" itu tokoh fiksi atau berdasarkan kisah nyata. Setelah saya menonton berulang kali film itu, kesannya Zainudin itu sosok yang luar biasa. Dia sangat mencintai kekasihnya si Hayati, melebihi apapun. Saat Hayati dengan terpaksa menikah dengan lelaki lain, Zainudin sangat kecewa, sakit hati, bahkan hampir gila. Tapi, itu hanya beberapa saat. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia tetap mencintai Hayati. "Cinta macam apa itu, Zainudin ?"

Jadi, kalau kita mau merayakan hari kasih sayang sesuai budaya kita, atau bersumber dari kisah dalam negeri, tinggal disepakati membuat perayaan "Zainudine's Day". Tentukan tanggal dan bulan yang tepat, kemudian usulkan ke pemerintah biar dijadikan libur nasional. Biar semakin banyak tanggal merah, kesempatan berkumpul dengan orang-orang terkasih semakin sering.

Ya sudah, karena "Happy Valentine Day" dianggap tidak sesuai budaya kita Indonesia, maka saya mengucapkan " Happy Zainudine's Day". Semoga ini lebih mudah diterima...

?

  • view 170