Mengarungi Pengalaman Menulis

Sugeng Riady
Karya Sugeng Riady Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 September 2017
Mengarungi Pengalaman Menulis

Selamat pagi tempatku menulis. Dulu, ketika mau menginjak semester dua aku bertekad untuk merutinkan menulis. Sampai-sampai di dalam laptopku sendiri aku membuat sebuah folder yang khusus untuk menampung segala tulisan-tulisanku. Folder itu kunamai dengan war. Dalam kamus bahasa Inggris war diartikan dengan perang. Memang folder yang kunamai war tersebut bukan berati tanpa arti, justru malah mempunyai arti penting. Karena nama war aku pilih sendiri untuk menandai perang cita-citaku dengan nafsuku. Iya...cita-citaku sebagai penulis dengan nafsuku yang selalu mengajak untuk pergi berkhayal ke pulau kapuk. 

Ibarat air yang baru digodok, panasnya tidak akan bertahan sampai satu hari. Begitu juga kegiatan rutin menulisku. Teringat, saya memprogam kegiatan menulis rutin ini mulai bulan Desember dan berakhir pada bulan Mei. Tema-tema yang ditulis bebas. Sepanjang itu memiliki muatan-muatan ide-ide maka bagiku wajib untuk ditulis. Bulan pertama dan kedua berbagai ide dan berbagai bentuk tulisan muncul. Aku senang sekali, sebab bayanganku layaknya kalkulasi matematika. Jika satu hari aku bisa menulis satu tulisan dengan satu judul dan satu gagasan, maka selama satu bulan aku bisa membuat kurang lebih tiga puluh judul dengan tiga puluh gagasan yang berbeda-beda. Wah...senang sekali dalam bayanganku, sebab dengan begitu selama enam bulan saya bisa membuat beratus-ratus tulisan dengan judul berbeda, tentunya dengan gagasan yang berbeda pula. Akan tetapi, itu hanya berlaku dua bulan, hanya dua bulan saja aku bisa merutinkan kegiatan menulisku. Di bulan-bulan selanjutnya aku seperti kehilangan ide-ide untuk menulis. Ditambah lagi semangat untuk menulis tidak menggebu-gebu seperti bulan-bulan sebelumnya. Tapi jangan dikira di empat bulan setelahnya aku tidak ada tulisan, aku tetap menulis namun tidak serutin dua bulan sebelumnya.

Teringat dahulu ketika aku masih sekolah di MAN (Madrasah Aliyah Negeri). Ada seorang guru yang senantiasa memotivasi murid-muridnya dengan cara yang unik. Beliau memperlihatkan berbagai prestasi dan karyanya yang sempat dipublikasikan dalam taraf nasional. Bahkan beliau pernah diundang untuk menjadi pembicara ditingkat nasional, dan hanya beliau sendirilah yang menjadi pembicara dengan status guru setingkat SMA. Ketika diceritakan perihal itu, saya merasa bangga sekaligus ada rasa ingin untuk seperti beliau. Menjadi orang yang cukup diperhitungkan di level nasional. Jujur keinginan itu masih tersimpan rapi di dalam anganku. 

Beliau selalu mengatakan kepada murid-muridnya untuk rajin membaca dan menulis. Apapun bukunya silakan dibaca, selama itu mengandung muatan positif. Setelah membaca pasti ada satu dua kalimat yang berkesan, nah dari kalimat yang berkesan itu kemudian tulislah. Terserah nanti bagus atau jelek tulisanmu, yang penting menulis saja. Tidak usah takut, yang penting ditulis. Atau kalau tidak begitu, tulis saja kegiatan sehari-harimu. Mulai bangun tidur sampai nanti mau tidur ada kegiatan apa saja yang kamu jalani. Tulislah, tidak usah takut. Ingat!!!, murid harus memiliki karya, minimal untuk dirinya sendiri dan minimal juga untuk dinikmati sendiri. Beliau juga menyinggung mahasiswa yang belum mampu menghasilkan karya-karya. Menurut kacamatanya, mahasiswa harus mampu menghasilkan karya. Lawong namanya sudah mahasiswa, maha itu kan artinya lebih. Apanya yang lebih?, ya lebih banyak membaca, lebih banyak menulis, lebih luas wawasannya, lebih dari apa yang telah dilakukan pada saat menjadi siswa, kurang lebih seperti itu kata-kata beliau yang terekam dalam memoriku.

Belakangan ini aku menyadari bahwa memang harusnya demikian. Kata-kata yang beliau sampaikan memang benar adanya menurutku. Sebab bagaimanapun juga, seorang akademisi harus memiliki karya. Dan karya yang paling mudah dijangkau adalah membuat tulisan, syukur-syukur bisa menerbitkan sebuah buku. Dan untuk mewujudkan karya tersebut cara yang paling mudah untuk dilewati adalah dengan memperbanyak membaca buku.

Kemudian ada satu momen lagi yang menjadi titik balik bagiku untuk kembali menulis. Momen tersebut ketika aku sudah betah di kota pelajar kurang lebih satu tahun. Kala itu, usai hari raya. Aku dibarengi dengan sahabat-sahabatku di asrama menghendaki untuk sowan kerumah salah seorang pengajar perguruan tinggi. Beliau menjadi pembicara tetap setiap minggunya di sebuah masjid dekat asramaku. Beliau telah aku anggap sebagai guruku, bahkan guru besarku untuk saat ini.

Saat sowan dirumahnya, teringat beberapa kalimat yang membekas difikiranku. Pertama, beliau mengatakan bahwa menulis itu harus nekad. Jika tidak nekad, tulisan itu tidak akan pernah menjadi tulisan. Modalnya hanya nekad, tidak perlu harus mengkhatamkan buku yang banyak untuk bisa menjadi penulis. Kalau perlu, setiap kali ada momen atau setiap kali melihat sesuatu tulislah sesuai keinginanmu. Tidak usah khawatir tulisanmu dibaca orang dan diberi penilaian jelak, itu tidak masalah karena tulisanmu memang jelak, guraunya. Gelak tawa kami menyambut gurauannya. Kedua, perihal waktu yang baik digunakan untuk menulis. Beliau mengatakan waktu-waktu baik yang digunakan untuk menulis adalah di pagi hari. Usai sholat subuh langsung pegang laptop, ketiklah sesuai arah jari-jemarimu menghendakinya. Pada waktu tersebut fikiran manusia masih fress, belum terkontaminasi dengan hiruk pikuknya duniawi. Jika tidak begitu, setelah sholat malam didirikan. Daripada habis sholat malam kemudian tidur lagi, lebih baik digunakan untuk menulis sembari menunggu adzan subuh berkumandang.

Perjalanan pulang dari rumah beliau, aku bertekad untuk menulis kembali. Namun cara yang kugunakan dirubah dahulu. Aku tidak lagi menarget sebulan harus mendapat berapa judul tulisan, atau sehari harus membuat satu tulisan dengan satu gagasan. Aku tidak lagi terpaku pada itu. Aku sadar, untuk bisa menulis yang ditulis apa saja yang dirasa perlu untuk ditulis. Menulis tidak perlu ada target. Sebab menulis itu mengikat, dan yang diikat itu adalah ilmu. Dan ilmu sendiri sifatnya selalu ada pembaruan, setiap waktu dan setiap saat ilmu itu berkembang. Mana mungkin sesuatu yang senantiasa berkembang harus diikat dengan target-target yang sifatnya membatasi?. Mungkin hal yang sama juga berlaku untuk kegiatan membaca. Pemahaman seperti ini kuperoleh melalui dua sosok yang kuceritakan di atas. Aku wajib berterimakasih kepada beliau berdua pada saatnya nanti. Nanti saat aku telah berhasil menjadi manusia yang mempu menuliskan tinta-tinta emas di level terbaikku. Sekian, semoga mampu memberikan inspirasi bagi penikmat tulisanku.

  • view 54