Doa Untuk Ayah

inc
Karya inc  Kategori Tokoh
dipublikasikan 13 November 2017
Doa Untuk Ayah

Doa Untuk Ayah
 
Dari sekian banyak derai tawa mengalir setiap detikku, akhirnya aku meneteskan air mata yang begitu tak kuingini untuk keluar. Aku tidak ingat sudah berapa lama dan berapa banyak waktuku untuk menyesali perpisahan. Aku hanya bisa berdiam, sementara tanganku menggenggam sepotong baju kenangan dan mulutku tak henti merapal doa. 
Jika ditanya seberapa besar arti seorang ayah bagiku, akan kujawab tak terdefinisikan. Artinya sangat tak terhingga sampai-sampai tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Jika mampu diibaratkan, ketika matahari yang selalu setia menyinari bumi setiap hari, maka ayah adalah matahari itu di dalam keluarga kecil kami. Ayah adalah seorang yang mampu menghangatkan hati.
Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup dengan ibu dan satu adik perempuanku. Kami bertiga tinggal di rumah sementara ayah bekerja. Tempat kerja ayah tidak dekat. Butuh melintasi beratus-ratus kilometer jalan udara untuk sampai ke sana. Bukan hanya beda kota, provinsi atau pulau. Tetapi tempat dimana untuk mencapainya saja harus dengan melintasi batas antarnegara. Tempat yang jauh dari anganku, ibu dan adik untuk sekedar berkunjung dan melihat keadaan ayah saat bekerja. 
Saat ayah pulang ada rasa yang tidak dapat kujelaskan. Bahagia itu pasti dan syukur adalah lebih-lebih aku panjatkan. Aku masih ingat ketika suara mesin motor ayah berbunyi dan distarter setelah beberapa lama tidak dipakai lagi. Aku sangat senang ketika ayah mengantarku ke sekolah dan bercerita di sepanjang jalan. Aku bisa merasakan hangat genggaman tangan ayah dan bau khas jemarinya menguar tanda kerja kerasnya. Aku merasa seperti satu-satunya anak perempuan yang paling berkecukupan dengan kehadiran ayah di sisiku. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi. Sungguh.
Satu hal yang membuatku resah adalah soal waktu. Aku tak pernah mau mengingat sudah berapa lama ayah pulang ke rumah. Karena bagiku waktu bersama ayah adalah seperti dua busur anak panah yang melesat ke arah yang berlawanan. Satu waktu itu menawarkan kebahagiaan kepada keluarga kami karena memberikan kesempatan untuk tinggal lebih lama bersama ayah, sementara waktu yang lain pelan tapi pasti memangkas kebersamaan kami. Aku tak pernah lupa dan tak boleh serakah. Bahkan untuk memohon agar ayah tidak pergi lagi itu hanya ada di dalam angan-anganku saja. Aku tahu ayah harus kembali ke sana. 
Sampai akhirnya suatu waktu aku bertanya pada ayah, kenapa ayah harus bekerja ke tempat yang jauh. Kenapa ayah tak tinggal disini bersama kami dan jangan pergi lagi. Ayah hanya diam, dan beberapa detik kemudian tersenyum simpul yang membuat guratan-guratan di wajahnya timbul. Kata-katanya tertahan dan suaranya tak terdengar seperti di ruang hampa. Hanya tangannya yang hangat membelai lembut rambut kepalaku. Seketika itu hatiku runtuh. Aku bertanya hal yang sudah kuketahui jawabannya. 
Sama seperti anak perempuan lainnya, aku memiliki ayah. Ayah yang memiliki hati dan tangan yang hangat untuk memeluk keluarga kecilnya. Dengan kekuatan doa, aku bingkiskan hadiah untuknya. Sebuah doa sederhana permohonan kepada Yang Kuasa semoga ayah selalu dalam lindungan-Nya, diberikan kesehatan dan kebahagiaan dalam setiap detiknya. Aku sayang ayah.
Selamat Hari Ayah! 
 
 
Yogyakarta, 12 November 2017

  • view 25