Negeriku Sayang Negeriku Malang

Suci Lestari Az Zahra'
Karya Suci Lestari Az Zahra' Kategori Puisi
dipublikasikan 26 September 2016
Negeriku Sayang Negeriku Malang

Kini malam menutupi Siang

Matahari pun enggan menampakkan diri

Bulan yang seharusnya memantulkan cahaya mentari pun kini bersembunyi

Embun pagi pun enggan beranjak

Kabut pekat pun demikian

Terlebih dengan hujan januari yang terus menari-nari

 

Kemudian, di hati kecil ini mulai bertanya

Gerangan apa yang sedang terjadi

Malapetaka apa yang sedang menghampiri

Berapa lama lagi semua ini harus ku lalui

 

Lalu, ku coba bertanya pada kabut pagi

Kecewa, tak ada jawab darinya

Sekali lagi, ku coba bertanya pada dedaunan yang berjatuhan

Malang, jawaban tak kunjung ku dapatkan

 

Ku lihat disana,..

Yah di sana, terjadi banyak bencana

Dimana-mana kemaksiatan

Pembunuhan, pegangguran, kemiskinan,

 

Di sana, yah disana…

Di sana begitu banyak air mata

Luka dan derita yang tak kunjung usai

Mereka melalui hidup dengan susah payah

 

Adakah kita peduli dengan nasib saudara kita?

Yang semakin terpuruk hari demi hari

Yang semakin jauh dari ajaran illahi

Halal haram Ia tak lagi peduli

 

Masihkah hati kita mampu memahami?

Memahami jerami-jerami nasib yang mulai terangkai

Pilu yang tak kunjung usai

Hari demi hari

 

Menangis, marah, teriak, itu yang ingin ku lakukan

Saat ku tahu negeriku di landa keterpurukan

Keterpurukan yang menyebabkan aku dan keluargaku menjadi korban

Korban dari system yang menyengsarakan kehidupan

 

Lelah, yah sungguh melelahkan memikirkan semuanya

Cobalah lihat kedua orangtua kita yang setiap harinya mencari nafkah

Namun mereka dipersulit dengan kebijakan pemerintah yang dzalim

Lihat mereka, dulu tubuh mereka kekar

Namun kini mulai melemah,

Penyakitpun mulai menggerogoti tubuh mereka

Adakah kita peduli?

Atau kita terlalu sibuk dengan urusan pribadi?

 

Lalu, bagaimana dengan adik dan kakak kita

Yang mungkin saat ini mereka telah menjadi pelaku maksiat

Akibat system yang mengizinkan mereka melakukan apa saja

Mereka pun tak mendapatkan didikan dan kasih sayang

Akhirnya terjebaklah mereka dengan kemaksiatan

 

Lalu, bagaimana dengan saudari-saudari kita yang belum memahami kemuslimahannya

Kehormatan tergadai demi sebuah harga yang murah

Membawa aib yang dahsyat, dunia dan akhirat

Mengapa itu terjadi?

Mengapa saudariku?

 

Mengapa kalian diam?

Coba lihat aku, dan jawab tanyaku..!!!

Lihat, lihat aku, mengapa kalian tertunduk?

Apakah kalian lau ntuk melihatku?

Melihat kemaksiatan yang terjadi di negeriku….

 

Tidak, tidak saudariku…

            Aku tidaklah malu memilikimu

            Aku datang untukmu

            Menwarkan sebuah perubahan yang akan menghantarkan kebangkitan

           

            Mari kita fikirkan,

            Hakikat keberadaan kita di dunia fana ini

            Apakah hanya untuk bersenang-senang

            Apakah hanya untuk tidur, makan lalu wafat?

           

Tidak, tidak saudariku,,,

            Aku tidaklah memaknai hidup ini sesempit itu

Lalu apa yang engkau inginkan di dunia ini?

 

Sesungguhnya diri ini masih bertanya-tanya

            Akan hakikat kehidupan ini

 

Saudariku, hdup ini tidaklah terjadi tanpa sengaja

            Ada rencana pencipta tentunya

            Untuk apakah kita hadir di dunia?

Tentunya untuk beribadah bukan

Lalu ibadah apa yang akan kita persembahkan

Bukankah setiap diri kita akan dimintai pertanggungjawaban

 

Iya saudariku…

Ku sadari hakikat hidup ini

Namun lingkungan ini menarikku

Aku tak berdaya menyelamatkan diriku

Apalagi untuk menyelamatkan ibu bapakku

 

Yah, sistem ini telah menghancurkan aqidah umat

Membinasakan pemahaman shahih di masyarakat

Maka dari itu, aku tawarkan kepada mu sebuah solusi

Yaitu kembalinya kita pada hokum dan aturan Illahi

 

Yah, itulah pilihan yang terbaik

Sebuah aturan yang bersumber dari sang Pencipta

Yang mengetahui segala urusan manusia

 

Terima kasih saudariku…

System ini memang telah menghantarkan manusia ke lembah kemaksiatan

Saya siap meninggalkan system ini dan menerapkan hukum-hukum Allah di muka bumi

 

Makassar,Januari 2015

  • view 182