Berbeda karena Istimewa

Suci Lestari Az Zahra'
Karya Suci Lestari Az Zahra' Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 September 2016
Berbeda karena Istimewa

 Senin, 19 Agustus 2013

Hari-hari berlalu dan waktu terus melaju. Kini ku pandangi sosok diri yang baru dicermin. Masih melekat kuat di benakku, hari-hari yang terlewati tanpa jati diri. Kini, aku berdiri dengan sisa-sisa kejahiliyaan. Sudah 1 tahun berlalu semenjak aku mulai mengenal Islam Kaffah melalui kajian rutin 2 jam per pekan. 1 tahun ku lalui untuk belajar dan menerima ilmu baru dari tempat kajian. Pemahaman yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya. Termasuk pakaian khusus bagi wanita Muslimah ketika hendak keluar rumah. Ku tatap lekat penampilan baruku ini. Aneh, sangat aneh dengan jilbab warna abu-abu yang akan ku kenakan ke sekolah. Yah, sangat aneh, karena ini adalah hari pertamaku menggunakan jilbab (baju kurung yang menutupi seluruh tubuh) ke sekolah, pakaian syar'i untuk seorang Muslimah.

Kakiku belum ingin beranjak dari depan cermin, masih ku tatapi diriku yang baru, perlahan ku pakai baju putih SMA yang akan berada di atas jilbab baruku, setelah itu ku kenakan juga rompi khas sekolahku, rompi ini yang membuatku lebih sedikit lega, karena ia menutupi baju putih yang aku ikat dengan seutas tali agar terlihat rapi, namun sangat terlihat bahwa aku melipatnya ke dalam, tapi untunglah ada rompi yang menutupinya.

“Aku masih aman jika hari senin dan selasa karena menggunakan rompi, namun bagaimana dengan hari rabu dan kamis, yang ku kenakan hanya baju batik ? akan terlihat jelas, jika aku tidak menggunakan rok dan ikat pinggang seperti teman-teman yang lainnya. Ini tentunya akan jadi pusat perhatian.”Ketakutan mulai membayangiku

“Dan... bagaimna nanti ketika aku olahraga ? yang lain menggunakan celana olahraga, lalu aku? Jilbab yang panjangnya sampai menyentuh tanah, dengan diameter 2 kali lipat dari ukuran rok SMA ?? “ ketakutanku semakin menjadi-jadi.

Dengan menarik nafas panjang,

“Bismillaah, mudahkanlah ya Allah. Aku percaya pada janjimu.”

“Hai orang-orang yang beriman, jika engkau menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (TQS. Muhammad ayat 7)

Bismillaah.. ku langkahkan kaki menuju kelas tercintaku, XII IPA 1. Yah, kelas baru yang akan aku tempati belajar kurang lebih selama 8 bulan. Setelah tiba di depan kelas, nyaliku jadi ciut, ketika melihat teman-teman yang telah berhamburan di depan kelas. Beberapa teman telah mengarahkan pandangannya padaku. Kemudian, seorang teman yang tak asing bagiku langsung menarikku masuk kelas, dan ternyata ia telah menyiapkan kursi untukku, tepat di sampingnya. Kursi yang berada di bagian paling depan dan tepat di depan meja guru,.. Wah... Tak bisa aku bayangkan jika guru-guru akan mengetahui pakaian ku.

"Aku bukanlah tawanan, mengapa mesti ada ketakutan, bukankah ini kebenaran, yang harus aku syiarkan. Siapa yang akam menyalahkanku pada sesuatu yang ku yakini kebenarannya. Hasbunallaah wa ni'mal wakiil, ini pasti dapat ku lalui. Setiap pilihan pasti ada konsekuensi dan aku harus siap dengan semua konsekuensinya ! karenaku percaya resikonya adalah Ridha Allah, aamiin."Gumamku dalam hati.

Semua siswa(i) berhamburan ke lapangan upacara. Ku langkahkan kaki keluar kelas dengan cepat, aku baru ingat, ternyata hari ini OSIS yang menjadi petugas upacara, dan seperti biasa aku bertugas sebagai pembaca susunan upacara.

"Stopp !" Seorang teman menghentikan langkahku.

"Ada apa?" Jawabku penuh tanda tanya.

"Aku perhatikan, hari ini ada yang berbeda dengan penampilanmu." Jawabnya penasaran.

"Hhee... Iya, hari ini aku lebih cantik dari biasanya." ku jawab sambil tertawa padanya, lalu ku buang pandanganku dari arah wajahnya yang mulai merasa aneh dengan penampilan baruku.

"Tunggu, aku tahu apa yang berbeda darimu, rokmu !” sergapnya.

“Rok? Ini bukan rok tapi...” tiba-tiba lidahku terasa kaku untuk menjelaskan.

“Tidak usah banyak alasan, haha.. Kenapa rokmu begitu besar dan panjang ? Dikelas ini masih ada penyapu, tak usah repot-repot meyapu lantai, hahaha." Katanya sambil tertawa terbahak-bahak dan teman yang lain juga menertawakanku karena suara temanku yang satu ini saingan dengan speaker Masjid.

Rasanya aku ingin berlari dari hadapan mereka. Malu, sedih, rasanya ingin menangis.

"Ini bukan rok, tapi jilbab!" Tegasku kepada mereka sambil berlalu meninggalkan mereka.

Air mataku tak tertahankan. Meledak tangisku dalam keadaan yang tertahan. Ku raih ponsel dari saku, lalu ku buka panggilan keluar, ketemukan sebuah nama yang telah menghantarkanku pada keberanian menggunakan pakaian ini, ‘Kak Tari’. Ingin aku menelfonnya namun bel pertanda upacara akan segera dilaksanakan pun berbunyi.

Begitu berat kaki ini melangkah. Lalu kata-kata kak Tari pun terbayang kembali. Akan firman-firmanNya yang menwajibkan ini atasku dan seluruh muslimah. Akan sabda-sabda RasulNya yang menjelaskan kewajiban ini serta balasannya.

Ini adalah perubahan bersejarah dan terbesar dalam hidupku. Perubahan yang diawali dari keaktifanku mengikuti kajian rutin yang diadakan oleh LDS (Lembaga Da’wah Sekolah) di Kotaku. Yang menyadarkanku akan hakekat kehidupan yang sementara ini dan kehidupan akhirat yang abadi. Aku melihat langkah-langkah perubahanku menuju RidhaNya, in Syaa Allah. Seorang anak sekolahan yang bagitu awam mengenai Islam kini aktif mengkaji, menda’wahkan dan memperjuangkan agamaNya. Sekali lagi bahwa awal semua ini adalah dengan bersungguh-sungguh mengkaji agamaNya!

Ku pandangi jilbabku yang terjulur melewati mata kaki, sambil berkata dalam hati.

"Siapapun yang menegur jilbabku, aku harus kuat untuk menjelaskannya. Yah, inilah aku, berbeda karena istimewa!”

  • view 145