hujan di bulan desember

suci indah sari
Karya suci indah sari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Maret 2017
hujan di bulan desember

"hai rindu", sapaku.
iya masih terlalu sulit kakiku melangkah ke depan saat aku lihat punggungmu mulai menjauh perlahan-lahan dari tempat ini.
hujan di bulan desember itu mengantarkan kepergianmu sekaligus mengembalikan keadaan terpurukku dahulu. mungkin kamu masih ingat saat pertama kali aku bercerita tentang masa kelamku yang membuatku takut untuk jatuh cinta kembali. "aku berbeda dari masa lalumu, aku akan ada untukmu sampai kau lupa rasanya sakit seperti yang kau rasakan dahulu" katamu saat meyakinkanku di hutan pancar. 

sampai engkau mengingkari perkataanmu, dan aku kembali terpuruk. "berhentilah" katamu. bagaimana mungkin aku bisa berhenti sekaligus menghilangkan ingatanku tentang rindu dan bahagia yang pernah kau hadirkan? bukankah allah memberikan pikiran pada hambanya untuk mengingat? jika memang fungsi pikiran untuk mengingat apa yang harus diingat dan hati untuk merasakan, lalu kau menyuruhku untuk berhentikan ingatanku dan perasaanku?

tidak ada perpisahan yang bahagia, tidak ada perasaan lapang begitu saja. terkadang bagian terpenting dari sebuah perjalanan adalah bukan tempat tujuannya, akan tetepi momen dalam perjalanan itu sendiri. lucu ya kamu datang saat aku terpuruk merubah semuanya kemudian kamu pergi mengembalikan keterpurukan itu(lagi). bahkan hujan di mata ini pun tak mampu membuat keadaan kembali seperti semula.

kamu tahu yang tersulit dari kepergianmu?  saat membiasakan diri ini tanpamu, saat melihat senyum itu terbentuk karna orang lain, saat rindu ini sedang berada di titik puncak namun harus dipendam, saat aku tahu kabarmu hanya melalui sosial media. lihatlah mata ini sembab karena sebab pergimu. kamu tahu mengetahui kau baik baik saja itu adalah ketenanganku. aku hanya ingin kau baik baik saja. meski kini aku tidak selalu menjagamu. iya, seberantakan bagaimanapun perasaan ini, hidup harus tetap berlanjut. 

hapus air matamu wahai hati! segala yang telah terjadi dan sudah menjadi bagian dari takdir.  aku tidak bisa mengulang waktu, pena telah diangkat, lembaran telah mengering, dan tangisan ini hanya akan melemahkan jiwa.

  • view 92