Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 Desember 2017   17:39 WIB
Saya

Saya. Seorang laki-laki yang kadang menjadi anda, menjadi dia, menjadi mereka dan menjadi sangat extrem yaitu menjadi tuhan.
 
Saya menjadi tuhan. Menghakimi semua perkara. Tuhan yang bisa mengatur segala sesuatu dan setiap nasib, kadang mempermainkannya tapi selalu ada maksud. Tuhan yang memegang kendali atas takdir setiap sesuatu. Tuhan untuk saya sendiri. Saya bisa memiliki setiap apa yang saya mau dan menolak apa yang saya tidak mau. Jadi tak ada urusan dengan apapun.
 
Saya. Seorang yang sebenarnya baik dan mempunyai hati yang lembut seperti malaikat yang suka menolong, tapi terkadang sangat jahat dan penuh tipu daya seperti setan alas. Segala cara saya lakukan untuk memenuhi hasrat dan kemenangan diri. Saat menjadi anda, saya bisa melakukan apa saja termasuk memanipulasi semua kebenaran. Hanya menyelipkan beberapa keping emas ke kantong anda, selesailah semua perkara. Kadang hidup itu hanya butuh kelicikan untuk sebuah eksistensi.
 
Saya. Seorang laki-laki yang kadang tak beruang dan menunggu kesempatan lengahnya orang-orang di pasar dan metro mini untuk saya ambil dompetnya, atau hanya mengubah beberapa angka nol pada kuitansi dan lembaran-lembaran kertas sebelum ditanda tangani. Menunggu proyek-proyek besar dari pemerintah, atau apa sajalah saya garap asal saya mendapatkan uang. Termasuk memangsa daging sendiri. Karena saya hidup di negeri yang kecurangan, kemunafikan dan kelicikan sudah menjadi hal yang biasa. Orang-orang di negeri saya tak bisa makan tanpa kelicikan.
 
Setelah saya mempunyai banyak uang, saya bagikan saja pada para tetangga, anak-anak di depan rumah atau mendatangi langsung ke pengungsian-pengungsian banjir atau bencana yang lainnya untuk membagi-bagikannya untuk sekedar pencitraan diri atau untuk suatu tujuan tertentu. Disaat itulah saya terlihat sangat tampan sekali dengan setelah jas yang mahal dan sepatu yang mengkilap turun dari sebuah mobil yang mewah pula. Menyombongkan diri dengan dada tegap, berjalan dengan wibawa tinggi seperti tak ada orang lain selain saya.
 
Saya yang lain. Seorang laki-laki tulen yang kadang menjadi perempuan yang luwes dan lembut, kadang juga menjadi setengah perempuan setengah laki-laki. Saat saya menjadi seperti perempuan, saya bisa mangkal di persimpangan menjajakan badan saya sekedar iseng dan mencari kenikmatan atau bila kepepet sekali tak ada uang untuk membeli beras. Terkadang saya menyukai menjadi banci di jalan. Macam-macam orang-orang mendatangi saya untuk sekedar menggoda atau beberapa orang memakai saya. Pernah suatu waktu orang yang mendatangi saya adalah seorang keparat negara. Mukanya muram durja. Keputus asaan terbaca jelas di garis wajahnya yang sudah mulai menua. Hanya berbagi cerita. Keluarganya sedang berantakan karena perselingkuannya, karir politiknya terancam, kedudukannya di ujung tanduk. Setelah bercerita perihal permasalahan hidupnya pulanglah dia dengan gontai.
 
Saya. Sebagai seorang laki-laki normal yang mempunyai istri dan dua anak, saya masih bisa menggagahi istri saya bahkan tak berhenti menyetubuhinya sampai istriku menyerah pada keganasanku. Saya juga bisa tegas menegur anak saya jika pulang malam dan keluyuran tak jelas. Saya juga bisa sangat emosional layaknya suami-suami yang lain jika istri saya tak becus mengerjakan pekerjaan rumah dan abai pada keinginan-keinginan saya. Bahkan sesekali memukulinya.
 
Tapi saya. Sebagai seorang laki-laki yang juga mempunyai selingkuhan seorang laki-laki tetangga saya sendiri saat saya menjadi perempuan, juga bisa mendesah nikmat dan tak kuat pada keganasan selingkuhan saya, sama seperti yang istri saya rasakan. Diam tak bersuara dan hanya menunduk jika selingkuhan saya menuding saya dengan telunjuknya jika dia marah.
 
Saya juga bisa menjadi binatang apapun. Yang terbang, yang mendengus-dengus, yang bersiul-siul indah, bahkan yang menerkam siapa saja dengan ganasnya. Tapi yang paling sering, saya menjadi binatang yang mencuri makanan di dapur. Beberapa kali saya kepergok sang pemilik rumah, spontan dia mengambil pentungan dan memukul-mukul saya. Untung saya pintar dalam urusan berkelit. Jadi sudah beberapa tahun dalam karir saya menjadi tikus tak ada seorangpun yang bisa menangkap saya. “Dasar tikus got tak tahu diri. Kerjaannya hanya mencuri dan merusak barang-barang di dapur.” teriak sang pemilik rumah. Saya hanya tersenyum, merayakan kemenangan. Ternyata tikus tak kalah hebat dari manusia.
 
Saya sebenarnya adalah seorang yang pemalu. Tak berani tampil di depan umum bahkan saya tak mempunyai banyak teman karena saya jarang bersosialisasi dengan orang-orang. Keluar rumah jika hanya ada pekerjaan atau kepentingan, setelah itu di rumah saja menikmati acara televisi dan minum kopi seharian. Bahkan sempat dituduh sebagai teroris karena saya selalu diam dan tak pernah bercakap dengan tetangga.
 
Begitulah, kadang orang-orang terlalu sentimentil untuk sebuah keberadaan yang tak bisasa. Sering saya dihukum oleh tatapan-tatapan tak bersahabat mereka dan terdengar pula mereka menggunjingkan saya di warung-warung kopi. Tapi tak apa lah, karena kebebasan tertawa, menangis dan berpendapat tentang saya adalah hak setiap diri. Jadi tak ada larangan untuk merantai kebebasan orang lain selama itu tidak mengganggu kebebasan yang lainnya.
 
Tapi mereka sudah merampas hak saya dalam hal kenyamanan. Merampas hak saya untuk membawa diri kemana dan bersikap seperti apa. Saya tak bebas menjadi diri saya sendiri. Batin saya.
 
Sudahlah, maklumi saja, kita hidup di masyarakat yang sensitivitasnya lebih tinggi dari kadar seksualitasnya. Jawab saya yang lain.
 
Iya sajalah dari pada panjang urusan.
 
Tapi saat saya menjadi anda atau orang lain saya juga bisa menjadi seorang yang aktif, lantang dan vokal menyuarakan apapun. Tentang hak asasi manusia, gender bahkan sesekali menjadi orator dalam aksi demo atas ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di lingkungan dan di pemerintahan entah untuk suatu kebutuhan atau tidak. Tapi lebih banyak hanya ketika ada kepentingan tertentu saja.
 
Di waktu yang lain, saya juga sebagai bayang-bayang bergerak tanpa rencana apapun. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain mengikuti sang empunya tubuh, entah tubuh siapa. Hingga suatu waktu saya terperangkap pada tubuh tegap, rapi, klimis dan sepertinya mempunyai kedudukan penting di lingkungannya. Saya tahu itu karena saya perhatikan setiap orang-orang yang berpapasan dengannya menyapanya dengan ramah dan hormat.
 
Tubuh itu duduk di sebuah ruangan bermeja yang sepertinya di dalam kantor. Udara AC nya terasa sangat dingin. Tiba-tiba pintu terbuka, seseorang masuk. Ow, ternyata sedang menunggu seseorang. Saya terus mengamatinya, tentunya mereka tak menyadari keberadaan saya karena saya hanya bayang-bayang. Sekalipun mereka menyadari keberadaan bayang-bayang pastilah mereka tak peduli. Toh hanya sebuah bayang-bayang.
 
Terdengar mereka membicarakan sesuatu yang tak jelas. Saya lihat tamu itu mempunyai betis panjang yang indah. Kakinya yang kecil bersepatu hak tinggi merah mudah. Kulitnya halus putih dan terawat. Aduhai ternyata seorang perempuan yang pintar mengurus diri.
 
Sesekali di tengah obrolan mereka terdengar tawa mereka sangat renyah, tawa yang sesaat kemudian menjadi desahan terpatah-patah. Setelah itu, tak usahlah saya tulis di sini.
 
Menjadi apapun saya, saya merasa sangat sepi dan kosong.
 
Saya bisa menjadi apa saja, tapi siapa sebenarnya saya?

Karya : Suci Ambarwati