Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 17 Juli 2018   20:05 WIB
Surat Terbuka Mahasiswa Sampang Madura Untuk Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo

Kepada Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia
Di Tempat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak Presiden yang saya hormati.
Sebelumnya mohon maaf, Bapak Presiden. Sebab saya adalah seorang mahasiswa, perkenankan saya menyebut diri dengan Ananda: sebagai anak bangsa sekaligus “putra” dari Bapak Presiden yang Ananda tahu, sangat mencintai putra-putra bangsa sebagai penerus tongkat estafet.
Permohonan maaf selanjutnya Ananda sampaikan karena telah mengganggu aktivitas padat dan ikhtiar Bapak yang luar biasa untuk membangun dan memajukan negeri ini. Bekerja siang-malam tanpa henti untuk mewujudkan mimpi-mimpi bangsa ini. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai harapan. Ananda meyakini hal itu, sebagaimana keyakinan Ananda, bahwa Bapak pasti menyempatkan diri untuk membaca surat dan keresahan rakyat kecil seperti saya ini.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Ananda adalah seorang mahasiswa dari Sampang, salah satu Kabupaten di Madura yang hingga kini masih termasuk daerah paling tertinggal dan termiskin di Jawa Timur, dan selalu konsisten masuk dalam daftar “daerah mengenaskan” dalam konteks Nasional. Bapak pernah kesana, mengunjungi sekaligus meresmikan Waduk Nepa yang indah dan luar biasa seakan representasi dari kesejahteraan khususnya rakyat sampang.
Tapi satu hal, Bapak Presiden, bahwa Sampang seperti tak pernah merangkak. Selalu saja ada kejadian buruk yang kemudian menjadi isu nasional, sebut saja soal seorang guru yang meninggal karena dipukul muridnya, perolehan nilai ujian akhir terendah di Jawa Timur, atau persoalan narkoba dan TKI, dan tentu saja persoalan pesta demokrasi yang selalu istiqamah menjadi isu nasional karena selalu terjadi kecurangan dan ketidak-adilan yang nyata. Problem terakhir inilah yang ingin Ananda sampaikan kepada Bapak karena kondisinya sudah sampai pada titik mengkhawatirkan, terutama pasca pelaksanaan Pilkada Sampang 2018 kemarin.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Ibu Khofifah Indar Parawansa sudah dua kali “dikerjai” oleh kecurangan, tempat, dan mungkin orang-orang yang sama. Begitu pula dengan yang dialami oleh Achsanul Qosasi ketika pada akhirnya ia memberikan saran agar lebih baik tidak usah ada Pemilu saja di Sampang. Tidak hanya itu, Bapak juga pernah menjadi “korban” dari kecurangan yang sama. Bapak tentu masih ingat, bagaimana pada tahun 2014 lalu Jokowi-JK tidak mendapatkan satu suara pun di beberapa TPS di Ketapang Kabupaten Sampang. Ibu Khofifah, yang waktu itu menjadi Tim Pemenangan Jokowi-JK, mengatakan bahwa kecurangan itu adalah pengulangan dari Pilgub sebelumnya. Entah pertimbangan apa yang disampaikan ketika itu, tapi yang jelas tak ada tindakan apapun atas peristiwa yang terjadi sehingga kecurangan yang sama terjadi lagi dan lagi. Termasuk pada pelaksanaan Pilkada Sampang 2018 ini.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Dari beberapa berita, video, tulisan serta status teman-teman Ananda di media sosial, dan bahkan perbincangan masyarakat di pasar, warung kopi, dan tempat nonkrong lainnya, Ananda mendapatkan kenyataan, bahwa kecurangan yang terjadi begitu nyata. Pada satu video, Ananda melihat pencoblosan dilakukan di emperan, bukan di TPS. Ananda juga melihat video dimana satu orang bisa membawa sekian surat C-6. Ananda melihat bagaimana orang-orang yang tidak berkepentingan masuk ke TPS, lalu penghitungan dilakukan dengan “kongkalikong” sebab suara Paslon yang lain dihitung suara Paslon yang sudah “memesan”.
Termasuk juga Ananda melihat bagaimana instruksi kecurangan dilakukan oleh salah satu oknum pelaku politik dengan cara mengambil surat undangan sisa, dan ketika ditanyakan kepada panitia, tidak ada yang membantahnya. Saya mendengar di beberapa daerah di Kecamatan Ketapang, ada banyak yang tidak mendapatkan surat C-6, tapi anehnya, perolehan suaranya 100%. Termasuk yang juga ikut mencoblos adalah orang yang sudah meninggal dan orang yang menjadi TKI diluar negeri juga ada suaranya. Sekitar dua atau tiga hari sebelum hari pencoblosan, beberapa orang dari desa Ketapang Laok mendatangi Bawaslu untuk melapor karena tidak ada satupun dari mereka yang mendapatkan surat C-6.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Dari beberapa analisa, informasi, dan peristiwa yang terjadi, semua pihak sudah membaca bahwa “kecurangan khas ala Sampang” ini terjadi karena kuatnya pengaruh tokoh tertentu. Tokoh yang awalnya disebut masyarakat sekitar dengan bajingan atau blater ini kemudian bermetamorfosa –dalam setiap Pilkada– menjadi mafia politik tanpa tanding. Terutama di Ketapang, sekali ancam, masyarakat langsung tiarap diam.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Sampai saat ini, kondisi perpolitikan di Sampang masih memanas. Hal ini semakin diperkuat dengan ketidak-tegasan dan ketidak-adilan penyelenggara yang diwujudkan dengan kebijakan-kebijakan kontraproduktif. Misalnya, pada tanggal 07 Juli 2018 Bawaslu mengirimkan surat permohonan untuk melihat C-7, tapi pada hari itu juga, Bawaslu mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan penghentian atas penyelidikan karena laporan salah satu Paslon tidak cukup bukti. Bagaimana mungkin Bawaslu Sampang mengeluarkan surat keputusan kontraproduktif pada tanggal yang bersamaan dan secepat kilat dalam mengambil keputusan apalagi keputusan berpotensi menciderai Demokrasi?. Akal sehat kita akan tergelitik mengetahui keganjilan semacam ini.
Lalu sampai kapan kecurangan yang sama ini terjadi? Sampai kapan pula para mafia-mafia politik itu merajalela, mempermainkan hukum seenaknya? Sampai kapan masyarakat Sampang terlepas dari ancaman dan intimidasi yang bahkan tak menemukan solusi saat disampaikan kepada para penegak hukum?, lalu kapan masyarakat dapat menikmati pesta demokrasi dengan baik dan sempurna?.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Cara-cara yang dilakukan oleh para mafia itu sangat menguntungkan bagi para politisi culas, tapi sekaligus merusak demokrasi yang sedang dibangun oleh bangsa ini. Ananda meyakini, bahwa Bapak tidak bisa menerima praktik-praktik kecurangan seperti ini. Bapak pasti menolak cara berpolitik yang menistakan demokrasi ini. Hati nurani Bapak pasti tersakiti melihat bagaimana para mafia bermain seenak hati membangun kekuatan dengan ancaman dan intimidasi. Bahkan menanggalkan undang-undang, hukum, dan aturan yang berlaku, padahal undang-undang dan aturan tersebut dibuat dengan susah payah, kajian yang sangat matang, dan tentunya menghabiskan biaya yang sangat besar. Terlalu mahal harga yang akan kita bayar jika membiarkan kecurangan di Sampang ini terus-menerus terjadi.
Untuk apa menghabiskan uang negara puluhan milyar jika pemilu yang dihasilkan penuh kecurangan? Setiap Pemilu dilaksanakan, tak ada perubahan. Bagaimana mungkin ada perubahan jika pemimpin dan wakil rakyat yang terpilih tak pernah kami kenal? Kerja politik “dicukupkan” hanya dengan konspirasi dan “kerjasama” dengan para mafia untuk memperoleh suara. Wajar saja jika Sampang tetap begini-begini saja.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Surat terbuka ini Ananda buat untuk menyampaikan aspirasi dari masyarakat Sampang yang terdholimi oleh perilaku culas saudara sendiri. Ananda mengerti bahwa Bapak tidak mempunyai hak apapun untuk intervensi, tapi Bapak adalah pemimpin tertinggi negara ini. Bapak bisa menginstruksikan kepada penyelenggara untuk bersikap jujur dan adil. Bapak juga bisa menginstruksikan kepada penegak hukum untuk berlaku adil tanpa kepentingan, memberikan perlindungan dan menjamin keamanan.
Ananda meyakini, kalimat dan ketegasan Bapak akan membuat semua pihak gemetar, siapapun itu. Komitmen Bapak untuk membangun demokrasi dan menegakkan keadilan dapat mengembalikan proses demokrasi yang kita jalani kepada jalur yang semestinya: jalur kebenaran, jujur, dan penuh rasa keadilan.

Bapak Presiden yang Ananda hormati.
Demikian surat terbuka ini Ananda buat setelah melalui berbagai pertimbangan yang akut, memukul rasa takut dan mengumpulkan keberanian yang sempat surut. Bapak Presiden adalah harapan Ananda dan masyarakat Sampang untuk mendapatkan rasa keadilan. Permasalahan Pemilu di Sampang tidak bisa terus-menerus dibiarkan. Berulang-ulang terjadi dan menafikan rasa keadilan. Selalu menjadi isu nasional yang memalukan. Pihak-pihak terkait selalu berkelit dibalik jawaban-jawaban normatif, tapi tak solutif. Jika hal semacam ini terus dibiarkan, tentu kita tidak ingin masyarakat memakai caranya sendiri untuk mencari keadilan, dijalanan.

Terima kasih Bapak Presiden yang Ananda hormati. Masyarakat (diam-diam) selalu awas dan mengamati.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sampang, 15 Juli 2018

Hormat Ananda
MUKHLISUL AMAL
Mahasiswa Sampang Madura

Tulisan ini diambil dari sebuah akun / Facebook Fanpage "Cerita Kampung". Lihat tulisan aslinya disini: Cerita Kampung

Karya : Suara Demokrasi