Pilkada Sampang 2018: Ketika Penyelenggara Takluk Pada Mafia

Suara Demokrasi
Karya Suara Demokrasi Kategori Politik
dipublikasikan 12 Juli 2018
Pilkada Sampang 2018: Ketika Penyelenggara Takluk Pada Mafia

Membicarakan Pilkada Sampang 2018 ini sebenarnya adalah membicarakan tragedi memalukan dan memilukan yang terus menerus terjadi ketika pesta demokrasi. Di Sampang, Pemilu yang mestinya menjadi cara untuk menyaring pemimpin dan wakil yang terbaik, justru menjadi ajang merajalelanya mafia. Tak ada pesta demokrasi di sebagian daerah disana (khususnya Kecamatan Ketapang), kecuali suara-suara yang direkayasa.

Khofifah, Jokowi-JK, Achsanul Qosasi, dan nama-nama lainnya pernah merasakan bagaimana mafia itu bermain dengan jelas di depan mata. Bukti-bukti rekaman, video, foto menjadi saksi sunyi, bahwa penyelenggara pun tak cukup punya nyali untuk melawan hegemoni sosok “The Godfather”. Sebegitu takutkah?

Tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana Sampang menjadi perbincangan nasional ketika terjadi kecurangan pelaksanaan pemilu yang sangat luar biasa dan massif. Tentu masih terekam dalam otak kita bagaimana sosok Haji Sahid menjadi perbincangan ketika berhasil mengendalikan perolehan suara sesuai kehendaknya. Siapa Haji Sahid itu? Sehebat itukah hingga bisa “menaklukkan” penyelenggara meskipun bukti-bukti kuat sudah di depan mata?

Link di bawah ini perlu ditonton untuk mengetahui bagaimana Pilkada Sampang begitu memalukan. Terjadi setiap pelaksanaan, seperti tak ada perubahan. Untuk menang rumusnya sederhana, cukuplah koalisi dengan Mafia.

https://www.youtube.com/watch?v=uuD5dj9evS0

https://www.youtube.com/watch?v=iAvyc16Ps_4

https://www.youtube.com/watch?v=v5cqkrWWMcg

https://www.youtube.com/watch?v=pBa2wlTByN8

Tak jauh berbeda, pada pelaksanaan Pilkada 2018 ini pun tak bisa dilepaskan dari peristiwa kecurangan yang memalukan, dan karena itulah ada dua kubu yang hingga saat ini saling klaim kemenangan. Keadaan menjadi semakin runyam ketika masyarakat mulai membaca ada indikasi kongkalikong antara yang berkepentingan dengan pihak penyelenggara.

Demo dan tuntutan besar-besaran pun terjadi. Pada 09 Juli 2017, ribuan pendukung MANTAP melakukan tuntutan atas kejanggalan dan keanehan dari proses pelaksaan pesta demokrasi di Sampang. Bawaslu Sampang melakukan blunder dengan mengeluarkan surat keputusan pada waktu hampir bersamaan yang isinya kontraproduktif.

Bawaslu Sampang mengirimkan surat pengajuan untuk bisa melihat C-7 kepada KPU (sesuatu yang sebenarnya sudah diketahui jawabannya), ujug-ujug tanpa memberitahukan bagaimana tanggapan KPU, Bawaslu mengeluarkan surat keputusan yang menyatakan seluruh gugatan MANTAP ditolak. Tidak usah pintar hukum untuk mengatakan, bahwa ini terjadi keanehan. Sehingga tidak aneh ketika rakyat membaca, seperti ada tekanan dalam pembuatan keputusan.


Permohonan Untuk Melihat C-7


Keputusan Dihentikan, Pada tanggal 07-07-2018 (bersamaan, tanpa menjelaskan progres surat sebelumnya)

Kemudian, pasca demo, Bawaslu Sampang mengeluarkan surat pernyataan. Rasanya, tak perlu ahli hukum untuk membaca apa fungsi surat itu kecuali, bahwa surat pernyataan itu hanya sebagai upaya “mengelus” agar masyarakat dan pendemo “diam”. Inilah suratnya:

Soal tuntutan yang beredar serta viralnya video kecurangan-kecurangan yang terjadi secara massif, pihak penyelenggara juga terkesan menutup mata. Rakyat melihat, bahwa kecurangan itu nyata terjadi. Ada DPT yang jelas sudah meninggal dan orangnya tidak ada, ternyata bisa mencoblos. Ada yang C-6nya tidak dibagikan, dan mereka berdemo mendatangi Bawaslu. Ada juga saksi salah satu Paslon yang sampai saat ini tidak mendapatkan C-1. Ada yang membawa surat C-1 seabreg-abreg, melakukan pencoblosan sembunyi-sembunyi di teras rumah, serta masuknya orang-orang yang tidak berkepentingan ke TPS, termasuk juga penghitungan suara seenak hati; suara nomor 2 dibaca nomor 1.

Selengkapnya, coba lihat video berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=f65AsX-bJis&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=0OwaYnzkZMo&feature=youtu.be

https://www.youtube.com/watch?v=79W3AMgLk_U&feature=youtu.be

Siapakah sebenarnya sosok mafia dan perusak demokrasi di Sampang itu sebenarnya? Sebegitu hebatkah sehingga membuat pelaksanaan pesta demokrasi di Sampang menjadi seperti mainan? Betul, H. Syahid dari Ketapang. Seperti apa tindak tanduknya? Cukup mudah. Anda hanya perlu menuliskan keyword “kecurangan Pilkada di Sampang” atau yang sejenisnya di Channel Youtube, maka Anda kemungkinan akan mendapatkan penjelasan tentang siapa sosok “The Godfather” itu sebenarnya.

Barangkali, rakyat Sampang sudah sampai pada titik jenuh untuk mempertanyakan dan menyuarakan keadilan atas kejadian memalukan yang terus terulang-ulang saat terjadi kontestasi dalam pesta demokrasi. Tapi bagaimanapun, harus ada yang bersuara. Setidaknya untuk mengingatkan negara, penyelenggara, dan masyarakat bahwa keadilan dan hukum tidak boleh bertekuk lutut di ketiak para mafia.

Agar tidak terjadi ketidak-adilan dan kecurangan berulang-ulang, dan terkesan dibiarkan karena takut akan intimidasi dan ancaman. Sebab jika tidak, alangkah lebih baiknya tidak ada KPU dan Bawaslu, tidak perlu juga pemilu. Saat semua bukti tampak di depan mata, tapi dibiarkan begitu saja, mungkin memang sudah waktunya ke depan kita tinggal memesan suara, berkoalisi dengan tokoh bajingan, lalu menang.

Inikah yang kita inginkan? Tentu saja TIDAK! Sampang tak setakut itu untuk menghadapi para mafia-mafia itu. Mari kita perbaiki Sampang, dengan cara memperbaiki proses demokrasi yang penuh ketidak-adilan dan kecurangan; melalui keberanian pada para mafia yang merugikan; melalui penyedaran terhadap penyelenggara untuk tidak melakukan "perselingkuhan". Diam bukan pilihan, bersama kita lawan!

  • view 3.5 K