Kembali Kepada Kenangan

Kembali Kepada Kenangan

Stephanie Lucia
Karya Stephanie Lucia Kategori Renungan
dipublikasikan 20 Mei 2017
Kembali Kepada Kenangan

Sejauh mana kaki ini melangkah,, tiada lepaskan resah yang tersimpan jauh di dalam kalbuku. Aku lupa bagaimana aku harus menjadi seorang yang terlihat dewasa dan bijak dengan semua keadaan yang pernah aku alami. Saat ini aku lupa bagaimana aku bisa menjadi cermin manusia seumurku. Aku lupa banyak hal yang harusnya aku tidak boleh lupakan sama sekali. Aku lupa bagaimana proses aku sejak kecil yang tak mengerti apapun hingga aku setua sekarang ini. Ada proses dan waktu di sana itu, ada byk cerita di sana itu. Aku harusnya bisa mejadikan semua itu proses pembelajaran bagi kehidupanku di masa yang akan datang.

Pernah ada luka, pernah ada airmata perih, pernah ada duka panjang yang membuatku tak sanggup menikmati kehidupan keseharianku, bukan berarti tiada nikmati bahagia. Ada bahagia di sana, ada senyum kebanggaan,  juga ada tawa kemenangan. Entah bagaimana harus kuungkapkan dengan semua kata dan kalimat saat ini untuk menggambarkan seperti apa rasanya. Hanya bisa katakan bahwa hidupku seperti warna pelangi setelah hujan.

Aku hanya bisa ungkapkan syukur, bahwa Tuhan amat sangat menyayangiku, melepaskan aku dari hujatan yang berkepanjangan. Tuhan selamatkanku dari kenistaan dunia. Tuhan angkat aku dari jalanan yang penuh kehinaan bagi manusia lainnya. Walaupun aku tidaklah pernah anggap semua nya adalah keburukan. Aku hanya tau semua itu adalah awal dari kemapanan jiwaku. Aku belajar perlahan dari tempat-tempat dimana aku pernah singgah. Aku belajar memaknai hidupku, bahwa semua tak selamanya indah terlihat, semua tak selamanya merdu terdengar. Kerasku hatiku untuk semua kebaikan yang aku harus jaga demi masa depan keluargaku kelak. Walaupun masih ada hinaan hingga kini , tapi aku abaikan semuanya karena aku tahu mereka yang menghinaku adalah insan yang hatinya sedang tertutup kegelapan dunia dengan semua kemewahan yang mereka terima saat ini. Mereka lupa bahwa mereka hidup di dunia yang palsu, mereka khilaf bahwa mereka bisa kehilangan semua yang mereka trima hanya dengan sekejab mata bila Tuhan sudah berkehendak.

Setidaknya, aku tidak belajar menjadi manusia munafik, aku hanya menjalani semua dengan keadaanku yang apa adanya aku. Aku yang tidak ingin kecewakan mereka yang masih perduli denganku, dengan menyelimuti tampilanku layaknya penari bertopeng. Aku tidak ingin memoles tampilanku dengan kemunafikan dan dosa dosa yang akan berimbas kepada anak-anak yang kukasihi dengan segenap hatiku. Aku tetap akan belajar untuk tersenyum walaupun aku tahu mereka takkan mengerti apa arti dari semua senyumku.

Kelak, waktu akan memberikan bukti dari semua yang pernah dijalani, karena bagiku bukti adalah harga mati.

 

Stephanie Lucia

Mencong - Ciledug,, 20 Mei 2017

00.22 WIB

  • view 84