Guru yang Berhasil

Sara Kitchen Sunday
Karya Sara Kitchen Sunday Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Maret 2016
Guru yang Berhasil

"Guru yang berhasil mendidik adalah guru yang memiliki trik."

-Eka Sara D-


?

?

Tahun 2008, saat itu aku duduk di kelas 9 di sebuah SMP Negeri di Malang.

Ritme belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia selalu sama, banyak diremehkan oleh siswa. Ah, mengapa selalu begitu. Apakah merasa terlalu mudah, membosankan, atau dengan sombong menganggapnya pasti bisa? Beberapa teman merasa, "Ini kan bahasa kita sendiri, apa yang dipelajari?"

Saat usia labil level tinggi itu, aku pun sempat merasakan hal yang sama. Tapi, kucoba mencari hal-hal menarik dari mata pelajaran itu.

"Suka atau tidak, kita harus belajar."

Pak Arifin adalah salah satu guru Bahasa Indonesia (BI) di sekolah itu. Perawakan mungil, ramah dan lucu. Tampak sosok seorang guru yang sabar dan tidak membosankan.

"Lalu apa beliau berhasil untuk membuat kami tertarik dengan mata pelajaran BI?" gumamku dalam hati.

Di kelas itu aku termasuk murid terbebal yang pernah ada, mungkin. Apalagi untuk bab menulis, aku suka menunda mengerjakan tugas menulis. Kukira, ah nanti di rumah juga bisa? Toh Pak Arifin tidak akan marah. Benar adanya, beliau tak sedikit pun marah, agaknya sedikit kesal dalam hati. Sembari menghampiriku beliau bertanya, "Nak, mengapa kamu tidak mengerjakan tugas? Buatlah tulisan, sebentar saja." Dan aku hanya tersenyum, nampaknya beliau paham arti senyumku dan sebelum meninggalkan bangku beliau meninggalkan pesan, "Tapi nanti dikerjakan ya?" Aku hanya manggut-manggut.

Terhadap beragam cara belajar anak, beliau mendidik dengan beragam cara pula. Sampai di rumah, aku gamang. Ternyata kala itu, menulis tak semudah yang kubayangkan. Tapi, harus kukerjakan demi tanggung jawab, nilai, dan janjiku terhadap guru sabar.

Keesokan hari bertemu lagi jam pelajaran BI. Ada pertanyaan lugu oleh salah satu temanku yang nampaknya sama denganku, "Pak, mengapa kita harus menulis?" Dengan sabar lagi beliau menjawab, "Ya Nak, kita sedikit-sedikit harus bisa menulis. Malah hebat kalau bisa lebih. Itu akan berguna di mana pun."

Aku masih bebal, tapi gamang. Tulisanku amburadul, mungkin seperti menulis cerita ini juga. Tapi heran, saat kutunjukkan tugasku, beliau malah mengapresiasi, "Kamu hebat nak, tidak ada orang yang tidak bisa menulis. Belajar terus, awali dari menulis apapun." Kulihat kertasku dengan nilai 80. Cukup banyaklah untuk murid sebebal ini.

Anak seusiaku, apresiasi dan pujian dari seorang guru adalah satu hal yang menyenangkan. Dan saat ini, kurasa ini sebuah trik. Dengan apresiasi itu, aku akan tertarik dengan pelajaran BI dan bagaimana aku menulis dengan mendapat apresiasi positif.

Lain waktu, aku mampir ke kelas ekstrakurikuler jurnalistik dan pembinanya adalah Pak Arifin. Aku hanya tertarik pada materi fotografi jurnalistik. Lagi-lagi, tidak tertarik menulis. "Nak, mengapa tidak ikut sekalian?" tanya beliau padaku. "Tidak pak, tidak mampu menulis" jawabku. Beliau mengajakku ke beberapa gerombolan adik kelas dan mengenalkanku, "Nak, ini kakakmu kelas 9. Anak kecil yang hebat di kelasku." Wow, aku hanya meratap bingung ke wajah beliau. Waktu pulang, aku menghampiri beliau, "Mengapa bapak mengatakan bahwa Saya anak yang hebat?" Beliau hanya tersenyum. Sembari ke jalan pulang, aku merenung. Jika aku tidak sehebat yang dikatakan beliau, apa iya harus pasang muka tebal saat di sekolah sampai lulus?" Oh ya, aku merasa dijebak saat itu tapi sekarang aku sadar ini adalah trik. Trik yang berhasil membuatku untuk sesekali iseng menulis di rumah.

Tahun 2010, aku sudah duduk di sekolah lain. Di salah satu SMA Negeri di Malang. Aku tak lagi bebal di mata pelajaran BI. Apalagi nanti menulis esai menjadi ujian sekolah dan menunjang nilai ujian nasional BI.

2012 saat ujian, hatiku terpicu tanggung jawab. Bagaimana jika tulisanku terlampau buruk? Sekilas kuingat senyum Pak Arifin dan terngiang sepenggal kalimat, "...tidak ada orang yang tidak bisa menulis." Semaksimal mungkin aku kerjakan, selesai pas waktu bel tanda berakhir berbunyi. Hasilnya akan diumumkan saat jam kelas tambahan BI.

Dag, dig, dug, dooor! Hari pengumuman tiba, Ibu Tatik sebelumnya berjanji akan memberi reward dan hadiah bagi murid yang tulisannya masuk dalam kategori terbaik di sekolah. Diambil dengan kategori terbaik 1, 2, dan 3. Jantung masih berdegup kencang meski tidak yakin bahwa aku masuk dalam kategori itu. Kualihkan dengan cara bercanda dengan beberapa temanku, suara kubuat lirih supaya tak mengganggu. Terdengar mulai dari urutan 3, bukan judul tulisanku yang disebut. Dalam hati, 3 saja tidak apalagi 2, bahkan 1. Beranjak ke urutan 2, bukan lagi dan membuatku semakin yakin tidak mungkin 1. ?Kupikir mungkin teman sebangkuku Mega, yang memiliki hobbi menulis, "Mungkin kamu, Meg?" "Ah, belum tentu" sahutnya. Di sebutlah sebuah judul dan Bu Tatik memanggil namaku. Sejenak diam dalam bercandaan dan melongo belum ada rasa percaya. "Saya Bu?" sambil berdiri dan melangkah perlahan. "Iya kamu, Nak." Aku hanya tersenyum, mungkin ini kebetulan.

Setelah lulus, aku kembali ke SMP untuk mendaftarkan adik sepupuku. Sudah 3 tahun tak bertemu Pak Arifin akhirnya bertemu, "Hai, anak kecilku yang hebat sedikit bebal. Sudah mau menulis?" Seperti dulu, reaksiku hanya manggut-manggut. Rinduku tak tertahankan apalagi panggilan anak kecil itu masih melekat seperti 3 tahun lalu, memang saat itu aku paling pendek dan berwajah imut seperti anak-anak tak seusiaku. Segera kuhampiri, kuberikan salam, dan kucium tangannya.

"Terimakasih Pak, Saya mau menulis meskipun tak sesempurna kawan-kawan di luar sana dan Saya masih mau terus belajar."

Dalam pertemuan itu, kami saling bercerita banyak hal. Juga bahasan soal trik ini. Dan ternyata itu adalah perjumpaan terakhir. 5 Maret 2016, beliau berpulang. Aku semakin mengingat jasa dan kesabaran beliau. Dan tak henti-hentinya berterimakasih sembari mendoakan. Kuniatkan menulis cerita ini untuk mengenang beliau.

Tak lupa aku tersenyum dan dalam hati berbicara dan bercanda sendiri sebagai mahasiswa semester akhir, "Pak ternyata juga mau tidak mau Saya harus menulis, menulis skripsi. Hahaha. Anak kecilmu bisa sampai tahap ini juga karenamu, terimakasih atas trik-trik itu."

(foto dari google)

  • view 135