Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 27 Juni 2016   15:37 WIB
Hikmah dan Solidaritas Pemuda di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadan menumbuhkan solidaritas, memberi tanpa pamrih dan hilangkan perbebdaan.

 

Tinggal menghitung hari kita akan meninggalkan bulan ramadan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan kebersamaan. Bulan yang memberikan kita banyak manfaat, menghargai setiap dari perjuangan menahaan hawa nafsu, meninggikan setiap cinta kasih terhadap sesama, mengerti tentang arti berbagi dan memperbanyak setiap butir-butir pahala yang diberikan oleh Tuhan.

Jika saja sedikit menyimak kebelakang sebelum datangnya bulan ramadhan, banyak problem dan masalah-masalah sosial seperti masalah kasus tawuran antar kampung (tarkam), maraknya kasus minuman keras yang bebas beredar diluar kendali pihak keamanan, berita tentang kasus peredaran narkoba dan sindikat-sindikat yang ada didalamnya, pelecehan seksual merajalela, kasus prostitusi dan masih banyak lagi. Ini adalah rentetan masalah yang menghujani masyarakat khususnya melibatkan kaum pemuda di daerah ini.

Namun, problema-problema tersebut diatas seakan berkurang atau bisa dikatakan meredup dengan begitu drastis. Ini dapat dibuktikan dengan berbagai informasi dari surat kabar harian (koran) dan elekronik (Radio dan TV) yang sepanjang hampir satu bulan ini hanya sedkit memuat berita tentang tindak kriminalitas atau yang sejenisnya. Penyebab ini semua adalah sebuah sihir yang sangat kuat dari bulan suci umat muslim yakni bulan ramadhan. Dampak hadirnya bulan Ramadhan ini tak hanya dirasakan bagi kaum muslim semata tapi juga kaum non muslim juga, khususnya membantu menunjang dari sisi perekonomian warga.

Hikmah di Bulan Ramadhan

Peran bulan ramadhan sungguh sangat besar, satu diantaranya berperan dalam menyatukan tali silaturahmi bagi setiap insan manusia yang tak hanya pada sesama muslim, bahkan kepada yang non muslim sekalipun. Memberikan nilai persatuan yang besar kepada seluruh umat manusia, yang juga tak terkecuali bagi pemuda-pemudi disekitarnya. Kebersamaan dalam membagikan rezeki di setiap jelang menjemput matahari (waktu subuh) dan jelang terbenamnya matahari (waktu berbuka puasa). Saling mengingatkan berbuat baik tanpa memaksa, saling membujuk menuju rumah Allah (masjid), saling memanggil melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan masih banyak lagi.

Bulan ramadhan adalah media terbaik memotivasi seluruh gerak pemuda-pemudi dalam berbuat kebaikan, menuntun jejak-jejak langkah ke arah perubahan positif, menunaikan semangat solidaritas antar sesama serta turut menciptakan generasi penerus yang lebih religius.

Selama 30 hari, pemuda-pemudi mencari, menemukan dan menyebar setiap virus-virus kebaikan. Ada diantara mereka menggunakan media tulisan dalam memberi pesan kebaikan, juga melalui kumpul bersama melalui dialog, diskusi ringan dan berbagi rezeki (zakat) pada yang kurang mampu dan membutuhkan. Di bulan ramadhan pula, mereka menjadi pribadi yang ramah pada jiwa sosialisme, lebih kreratif, mengumpulkan ide-ide cemerlang yang pada dasarnya berguna untuk merekatkan tali persaudaraan.

Keanggunan bulan ramadhan menghiptnotis pemuda-pemudi dari pribadi kasar menjadi lembut, dari yang lupa waktu serentak menjadi alarm pengingat, dari yang bermalas-malasan menjadi sangat rajin, dari kurang peduli menjadi sangat peduli dan dari ketakutan menjadi keberanian. Begitulah bulan ramadhan dan pengaruhnya bagi ummat manusia.

Makna solidaritas yang tertuang dalam bulan penuh berkah ini, memberi cermin kesadaran kepada setiap jiwa pemuda-pemudi untuk segera melakukan instropeksi diri, membuat amalan-amalan kebajikan disetiap kehidupan, turut membersihkan setiap hati yang kotor, membasuh niat pada jalan kebaikan dan menambah semangat dalam menemukan setiap dari nikmat-nikmat Allah.

Ini bukan hanya tentang keyakinan kepada Tuhan, ini juga tentang tradisi yang begitu kuat melekat pada jiwa pemuda-pemudi dalam menjalankan ibadah dengan bahagia di bulan ramadhan ini. Sinyal kekuatan yang melekat disetiap diri umat muslim untuk bersatu menjaga persatuan dan keutuhan ibadah satu dan lainnya, ini  bukan hal baru melainkan tingkatan baru yang mana memupuk nilai-nilai kebersaman agar semakin kokoh dan kuat.

Mengantar Kepergian Bulan Ramadhan

Romantika bulan ramadan menyatukan pribadi yang berbeda, sudahkah kita berterimakasih ? sudahkah kita sadari ? lalu selanjutnya siapkah kita mengantarkan kepergian bulan ini dengan tetap menjadi pemuda yang solid ? Mengahindari hal-hal negative dan selalu mengutamakan pemikiran dan tindak positive ? jawabnya, kita harus siap.

Jika dari, dengan dan karena bulan ramadhan kita telah  mendapat banyak hikmah perubahan dalam diri dan lingkungan, seharusnya sebagai pemuda-pemudi yang dewasa, ini bisa dipupuk dan dijaga hingga menjemput kembali bulan ramadhan ditahun selanjutnya. Bukankah sudah dalam bulan ramadhan kita bahagia karena telah hidup berdampingan, berbagi, bersatu ? maka sudah sepatutnya kita jaga agar tetap utuh menjadi masyarakat yang bahagia dan tentram.

Sebagai pemuda-pemudi, kita tidak dituntut berbuat terlalu banyak dalam mengawal keutuhan dan solidaritas, hanya saja pasca kepergian bulan ramadhan nanti, kita hanya cukup saling mengingatkan untuk menghindari tindakan dan setiap sikap buruk. Entah buruk kepada diri sendiri dan buruk kepada orang juga lingkungan di sekitar kita. Buktikan dengan menjauhi MIRAS (minuman keras) sebab berimplikasi buruk terhadap pola pikir dan tindak tutur, kemudian hindari dan jangan pernah mencoba Narkoba dan zat-zat adiktif lainnya agar kita dan generasi selanjutnya terjaga masa depannya, selanjutnya menjaga ibadah kepada Allah serta bergaullah dengan orang-orang yang menjadikanmu semakin cerdas dan pintar.

Semoga kita adalah generasi cerdas dan yang selalu berada pada jalan Allah dan rasulnya.

 

Karya : Sri Wahyuni