Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 13 Desember 2017   12:57 WIB
Tarian Lego-lego

 
Desa Lewalu terletak di kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor. Desa ini berada di pinggir pantai. Di desa inilah Santi pertama kali dapat menghirup udara segar sejak di lahirkan. Desa Lewalu mempunyai penduduk yang cukup banyak, tetapi kebanyakan dari masyarakat tersebut lebih memilih merantau dibandingkan tetap tinggal di desa itu. Suasana di desa itu sangat tenang apalagi pada malam hari. Nelayan dan bertani, adalah Mata pencaharian masyarakat di desa Lewalu. Di desa itu, masyarakatnya masih mempercayai dan memegang erat adat istiadat yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang mereka. Salah satu acara yang sering dilakukan di desa ini adalah “acara makan baru” sehabis panen jagung maupun beras di rumah adat Lakatuil yang terletak di tengah hutan sekitar Desa Bampalola.
Alkisah di tengah hutan itu, tinggallah sepasang suami istri yang menjaga rumah adat tersebut. Pagi itu sang istri terlihat kerepotan membersihkan rumah dan halaman yang akan digunakan untuk mengadakan acara makan baru, sedangkan sang suami sedang bersiap diri untuk menyambut kedatangan para tamu dari beberapa desa tetangga. 
“Ina, kalau sudah selesai membersihkan rumah, segeralah bersiap karna kita akan kedatangan tamu,” kata sang suami. 
Sang istri mengangguk pelan, “Tahun ini acaranya pasti ramai lagi, desa mana sajakah yang akan datang ama?” 
“Tentu akan sangat ramai, karna panen jagung tahun ini sangat banyak, Ama rasa kali ini yang hadir dari Desa Lewalu, Ampera, Albes, Sebanjar dan bahkan orang dari Kalabahi pun akan datang,” jawab suaminya. 
Di lain tempat, Santi yang sejak masih kecil memang jarang sekali diajak ke acara tersebut oleh ibunya. Mengapa ? Sebab ditempat itu masyarakat mempercayai jika salah mengucapkan kata-kata maka kita akan sakit. Tetapi belakangan ini ia ingin sekali melihat acara makan baru karena ada temannya dari Jawa yang sedang berlibur ke kampung halamannya serta ingin melihat tarian khas masyarakat desa Lewalu yaitu tarian lego-lego di setiap penghujung acara makan baru. 
 “Mama?” suara Santi memanggil ibunya yang tengah menyiapkan bawaan yang hendak dibawa ke acara makan baru.
“Iya Santi, Mama di dapur, ada apa ?” jawab Mama dari belakang, “Saya ingin ikut ke acara makan baru kali ini bu, sama Ani dan teman-teman yang lain,” tambah Santi. Ibunya tidak banyak berbicara dan langsung mengiyakan keinginan anaknya.  
Masyarakat desa biasanya berangkat ke tempat acara mulai dari pukul 06.00 pagi. Waktu yang dibutuhkan tiga puluh menit dari Desa Lewalu ke tempat acara makan baru, dan tepat pukul 10.00 pagi barulah acara itu dimulai. Kebetulan acara makan baru kali ini jatuh pada musim jagung sehingga banyak sekali jagung muda yang dibawa ke rumah adat. Kegiatan inti di mulai dari mengantar jagung ke rumah adat terbesar dan dilanjutkan dengan berdoa dan makan bersama. Acaranya sangat meriah dan Santi sangat menyesal baru bisa menghadiri acara makan baru selama ini. 
Akhirnya, acara yang ditunggu-tunggu Santi, Ani dan teman-temannya pun tiba, yaitu penutupan acara dengan lego-lego bersama. Ani sangat penasaran kira-kira seperti apa tarian lego-lego tersebut. 
“Santi, apa itu tarian lego-lego?” tanya Ani sambil melihat lingkaran yang di buat oleh warga.
“Tarian ini merupakan tarian khas masyarakat alor. Tarian ini ditarikan secara secara berjamaah atau beramai-ramai. Tarian Lego-lego merupakan salah satu tarian tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Alor dan masih dilestarikan hingga sekarang,” jawab Santi pelan. 
“Apa semua kegiatan selalu di akhiri dengan menarikan tarian ini san?”
“Tarian ini awalnya merupakan tarian yang sering diadakan saat upacara atau setelah melakukan kegiatan bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan mereka. Ungkapan rasa syukur tersebut mereka lakukan dengan mengelilingi mesbah sambil bergandengan dan menyanyikan lagu-lagu pujian. Mesbah sendiri merupakan suatu benda yang disakralkan oleh masyarakat Alor. 
 “Oh begitu,” Ani mengangguk pelan. 
“Alat musik apa saja yang biasa di gunakan San?” tanya Ani lagi.
“Tarian ini diiringi dengan alat musik tambur, moko dan gong serta diiringi dengan lagu-lagu pengiring sesuai dengan jenis kegiatan yang dirayakan. Lagu pengiring ini biasanya didahului oleh seorang pengiring yang disebut pemantun dan disambut oleh pemain.”
“Selain pengungkapan rasa syukur, kira-kira tarian ini menggambarkan tentang apalagi?” rasa ingin tahu membuatnya terus bertanya.
“Jadi Ani selain itu, dalam tarian ini menggambarkan semangat persatuan dan kebersamaan masyarakat Alor yang terjalin erat melalui sebuah gerak tarian. Hal ini terlihat dari para penari yang saling bergandengan dan berkumpul menjadi satu untuk merayakannya bersama tanpa membedakan status sosial, jenis kelamin dan lain sebagainya,” jawab Santi dengan bangga.
Santi teringat kembali akan kata-kata gurunya bahwa Tarian Lego-lego memiliki simbol kebersamaan, artinya di setiap ada acara adat atau apapun itu, Lego-lego ditarikan secara bersama-sama yang menjadi arti persatuan dari masyarakat yang mendiami suatu desa. Lego-lego juga menjadi suatu tarian yang menjadikan masyarakat Alor satu tanpa membedakan ras, suku, maupun agama yang dianut. 
 Santi pun tak mau ketinggalan, ia pun mengambil kain Kafate atau kain sarung untuk dipakai karena pada tarian lego-lego itu setiap orang harus menggunakan kain Kafate. Ia pun masuk ke dalam lingkaran tarian lego-lego yang sudah menyerupai lingkaran obat nyamuk yang begitu rapi dan indah. Santi juga melihat hampir semua para penari menggunakan pakaian adat, dan pada bagian kepala penari pria menggunakan penutup kepala yang dibentuk dari kain, Sedangkan untuk rambut penari wanita dibiarkan terurai. Selain itu sebagai atribut menari, penari dilengkapi dengan gelang kaki yang menghasilkan suara mengikuti langkah kaki pada penarinya, bahkan tidak ikut ketinggalan banyak sekali anak-anak kecil yang sudah pintar melakukan gerakan tari lego-lego tersebut. 
Saat Santi sudah berada di dalam lingkaran lego-lego itu, ia terlihat agak lamban menyesuaikan gerakannya dengan para penari lainnya, karena memang ia tidak tidak begitu lancar memainkan tari lego-lego. Begitu meriah acara tersebut sehingga membuat semua masyarakat desa bersuka cita. Tetapi, pikiran Santi mulai tertuju pada lagu pengiring tarian, ia merasa tidak mengerti dengan lagu yang dinyanyikan. 
Niatnya setelah keluar dari lingkaran tari lego-lego itu, ia ingin bertanya kepada temannya Siti yang memang dari kecil sering mengikuti acara makan baru, ia yakin temannya itu pasti tahu arti lagu itu. Lagu pengiring itu sangat panjang, tapi yang diingat santi hanya beberapa. 
“ Ohee ... Panggili panggalasa pati o ohe ole duka dai e pati o he …
Ohee ole duka dai ee pati o he ole duka dai e pati o he …
Ohee lele kuli mati mati haki tifang lefo o hee …
Haki tifang lefo ee tifang lefo ee …
Liling he teba ee liling hena he nala koro hena …
Lele o le lela …
Liling he teba ee liling hena he nala koro hena …
Lele o le lela liling he teba ee liling hena he nala koro hena lele o le lela liling he teba e liling hena he nala koro hena … koro hena hena te hena nai le nala fulang o a inang …
Lele o le lela …
Liling he teba ee liling hena he nala koro hena …
Lele o le lela liling he teba ee liling hena he nala koro hena lele o le lela liling he teba e liling hena he nala koro hena …
Setelah beberapa kali putaran Santi pun keluar dari tarian karna merasa sudah lelah, maklumlah karna ia baru sekali itu mengikuti tarian tersebut. Di sela-sela pertunjukan tarian lego-lego itu, Santi memanggil seorang temannya dan bertanya, 
“Siti, kamu tahu tidak arti dari nyayian itu?” Siti tidak langsung menjawab pertanyaan Santi, ia mungkin masih memikirkan jawaban yang pas untuk menjawab. 
Lima menit kemudian, dia langsung berbicara, “Keseluruhan arti dari nyanyian itu saya kurang tahu Santi, tapi inti dari lagu itu pada bait “Ohee lele kuli mati mati haki tifang lefo o hee Haki tifang lefo ee tifang lefo ee berarti walau kita pergi sejauh mungkin tapi jangan pernah melupakan alor tercinta ini,” kata Siti menjelaskan. Santi mengangguk pelan.
Kemeriahan acara itu berakhir pada malam hari tepat pukul 00.00. Para orang tua adat akan berkumpul bersama sepasang suami istri penjaga rumah adat kemudian membagikan sisa jagung dan makanan tersisa, kemudian membagikan kepada masing-masing warga yang hadir pada acara itu. Setelah pembagian selesai, masing-masing orang mulai meninggalkan rumah adat yang terletak di tengah hutan Desa Bampalola itu. Santi, Siti dan teman-temannya yang lain pun sedang bersiap-siap untuk hendak pulang. 
Di perjalanan pulang Santi merasa senang bisa menghadiri acara makan baru serta ikut menarikan tarian lego-lego. 
Di dalam hatinya ia berkata, “Acara dan tarian seperti ini mestinya harus tetap dilakukan sampai anak cucu mereka.”
 
 

Karya : Sri Sidik