Bukan Dia

Sri Eko Maryati
Karya Sri Eko Maryati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2016
Bukan Dia

“Cha, ada yang mau Mbak omongin sama kamu. Tapi kamu jangan tersinggung dulu, ya?” Mbak Hani –teman sekantorku- membuka percakapan saat kami makan siang di kantin.

“Emangnya mau ngomongin apa sih, Mbak?” tanyaku penasaran.

“Gini. Saat ini kamu lagi terikat sama seseorang, nggak? Maksud Mbak, sampai saat ini belum ada ikhwan yang menyatakan niat baiknya ke kamu, kan?”

“Nggak,” jawabku mantap. “Emangnya kenapa gitu, Mbak?” lanjutku kemudian.

“Umm, kamu mau nggak dikenalin sama temen suami Mbak?” tanya Mbak Hani yang sukses membuatku terkejut.

“Maksud, Mbak?”

“Gini lho, Cha. Ada temen kantor Mas Yanto yang lagi nyari calon istri. Mbak juga kenal sama anaknya, dia ikhwan yang baik dan dari keluarga yang baik juga. Insya Allah. Namanya Wahyu, dia minta bantuan Mas Yanto dan Mbak buat cariin calon istri. Kita jadi langsung inget kamu. Cuma masalahnya dia 3 tahun lebih muda dari kamu. Gimana, mau nggak?”

Aku memang percaya pada penilaian Mbak Hani dan suaminya. Tapi begitu mendengar kalau usianya lebih muda, ada sedikit keraguan dalam hati. Dari pertama aku mulai tertarik pada seorang pria, belum pernah sekalipun dengan yang usianya lebih muda dariku.

Seolah mengerti, Mbak Hani mencoba meyakinkanku untuk mencoba. “Ini kan sebagian dari usaha kamu, Cha. Kenalan aja dulu. Kalo nanti kamu kurang sreg dan nggak mau, ya nggak apa-apa,” begitu kata Mbak Hani.

Setelah dipikir lagi, apa kata Mbak Hani benar juga. Allah sudah memberi jalan dari apa yang selalu kupinta. Bismillah, aku pun menerima tawaran perkenalan ini.

“Oke kalo gitu, Ahad ini pulang ngaji kamu ke rumah Mbak dulu, ya? anaknya biar Mas Yanto suruh datang juga,” ucap Mbak Hani. Wajahnya tampak sumringah dan antusias. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.

Oh, bahkan Mbak Hani pun menyebut pria itu “Anak.”

*

Keluargaku begitu senang mendengar kabar tentang tawaran perkenalan itu. Seperti biasa, ruang TV jadi base camp Papa, Mama, aku, dan Nadia bertukar cerita setiap malam. Kali ini tawaran perkenalan itu yang menjadi topik utama.

Melihat kelegaan kedua orang tuaku setelah mendengar cerita ini memang sangat menyenangkan. Aku sadar, Papa dan Mama begitu khawatir karena anak gadisnya masih tetap melajang di usia 30 tahun. Tapi ada kekhawatiran yang sulit kujelaskan, terlebih ketika tahu usia pria itu yang lebih muda.

 “Kamu harus berani melangkah, sayang. Siapa tahu memang dia orang yang Allah kasih buat kamu?” ucap Mama menenangkan.

“Setuju, Ma,” ucap Nadia mantap. Kali ini dia mengubah posisi duduknya jadi menghadap aku. “Sorry to say, ya, Teh? Mindset Teteh tentang hal yang kayak gini tuh kudu dibenahin, positive thinking dong! Nggak semua cowok sama ngibulnya kayak Mas ….”

“Ade!” potong Mama sedikit membentak Nadia.

Mama tidak berkomentar lagi, beliau tahu ini masalah yang sensitif bagiku. Batalnya pernikahanku dengan dia –yang tak ingin kusebut namanya, memang berdampak besar bagiku dan keluarga. Masa pacaran yang kami jalani selama enam tahun, kukira akan berujung manis. Tak lama setelah kami bertunangan dan mempersiapkan pernikahan kami, tiba-tiba dia menerima e-mail yang memberitahukan kalau pengajuan beasiswa untuk melanjutkan S3-nya di Jerman, diterima. Tentunya dia lebih memilih berangkat, karena memang ini kesempatan emas baginya. Masih kuingat dengan jelas kalimatnya saat itu, “Ini bukan ngebatalin kok, Hon. Cuma ditunda aja sampe aku kelar kuliah. Aku janji bakalan cepet balik lagi, dan kita menikah.”

Nyatanya, setahun kemudian komunikasi kami semakin jarang. Jangankan bertemu muka, sekadar telepon, SMS, BBM, atau e-mail pun nyaris tak ada. Di tahun kedua dia di Jerman, kudengar dari adiknya bahwa dia sudah menikah dengan teman sekampusnya di sana.

Unik memang cara Allah memberikan hidayah-Nya padaku. Dia buat aku terpuruk dulu, lalu perlahan menuntunku untuk lebih dekat dengan-Nya. Butuh waktu 3 bulan untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Selama 3 bulan itu pula atas ajakan Mbak Hani, aku mulai rutin menghadiri majelis ta’lim, lalu kemudian memutuskan untuk berhijab. Mbak Hani satu-satunya teman kerja yang tahu tentang ceritaku ini. Perlahan aku belajar untuk bangkit dan menata diri juga hati ini.

“Aku udah nggak apa-apa, kok, Ma,” ucapku sambil tersenyum dan memegang tangan kirinya, meyakinkan. “Ade bener, Teteh harus berpikir positif.”

“Papa dan Mama percaya sama kamu, Teh. Jalani aja dulu, nggak usah terlalu banyak pikiran.”

“Iya, Pa,” jawabku singkat. Tak lama setelahnya obrolan kami selesai, lalu beranjak ke kamar masing-masing.

*

Seperti yang sudah direncanakan, sepulang dari majelis ta’lim aku berkunjung ke rumah Mbak Hani di daerah Karang Tengah, Pondok Labu. Ini bukan kali pertama aku ke rumahnya, sudah sering bahkan. Tapi entah kenapa siang ini langkahku terasa berat, jantungku juga bekerja lebih cepat. Terlebih ketika sudah memasuki halaman depan rumah Mbak Hani, sudah terparkir sebuah Nissan terano dan pintu depan rumah yang terbuka.

“Bismillah …,” ucapku dalam hati.

Mengerti kegugupanku, Mbak Hani menggenggam tanganku lalu menuntun masuk ke rumahnya. Dua suara membalas salam kami. Suara yang satu tak asing, karena itu suara Mas Yanto. Suara yang lainnya berasal dari sosok pria berbadan tegap, berkulit putih, dengan hidung mancung dan rambut agak ikal. Keduanya bahkan berdiri menyambut kedatangan kami sambil tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Aku pun membalas dengan perlakuan yang sama.

Aku duduk di kursi tak jauh dari pintu. Pria itu kemudian duduk lagi di kursinya, tepat di hadapanku. Begitu juga Mas Yanto yang duduk di kursi utama di antara kami. Mbak Hani pamit ke belakang sebentar. Rumah ini memang sepi, karena Mbak Hani dan Mas Yanto belum punya anak. Suasana sepi ini membuat aku semakin gugup. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungku sendiri. -Oke, yang ini berlebihan memang.

“Cha, kenalin ini temen Mas. Namanya Ahmad Wahyudi,” ucap Mas Yanto padaku.

“Panggil aja Wahyu,” pria itu buka suara. Senyum tak lepas dari wajahnya.

“Icha,” ucapku memperkenalkan diri. Lagi-lagi dia tersenyum.

Perkenalan kami berlanjut, saling menanyakan tentang pribadi masing-masing. Berbeda denganku yang asli Bandung, Wahyu yang asli Semarang ini ternyata juniornya MasYanto di kantor. Mereka sama-sama wartawan di salah satu stasiun TV swasta nasional. Kami sama-sama anak pertama, bedanya dia punya dua orang adik, laki-laki dan perempuan.

Satu hal yang perlu diingat, ketika Mbak Hani mengatakan kalau Wahyu ini seorang ikhwan yang baik. Mendengar kata ‘ikhwan’ yang pertama terlintas di otakku adalah seorang pria yang serius, kaku, pakai baju koko atau bahkan gamis yang panjangnya di atas mata kaki, berjanggut, dan ada tanda hitam di kening. Tapi kenyataannya Wahyu jauh dari itu. Dia pria muda yang menyenangkan, tidak kaku sama sekali, wawasannya luas, dan dari cara bicaranya bisa terlihat kalau dia cerdas. Dilihat penampilannya pun, oke. Hari ini dia memakai celana jeans biru dan kemeja dengan warna senada, yang lengannya dilipat sampai bawah siku. Wajahnya yang putih itu tampak bersih, tak berjanggut apalagi tanda hitam di keningnya.

Well, ini awal yang baik, kurasa. Ucapku dalam hati.

Hari sudah sore ketika aku pamit pulang. Secara halus kutolak tawaran Wahyu untuk mengantar pulang. Selain karena jarak rumahku yang cukup dekat dari rumah Mbak Hani, aku juga merasa tidak enak jika harus berduaan dalam mobilnya tanpa ada orang ketiga.

“Dari sini ke Cinere cuma butuh waktu beberapa menit. Kalo ke Rawamangun kan bisa sejam, bahkan lebih. Belum lagi kalo kejebak macet,” ucapku ketika dia memastikan kalau aku benar-benar tidak mau diantar pulang. Aku yakin dia pasti mengerti.

*

Komunikasiku dan Wahyu terus berlanjut setelah pertemuan pertama kami. Waktu itu dia memang secara langsung minta nomor handphone-ku. Meskipun tidak sering, tapi paling tidak seminggu sekali dia menelepon. Sekadar menanyakan kabar dan sedang sibuk apa aku di kantor. Selanjutnya, obrolan kami akan melebar ke sana sini. Aku jadi tahu kalau dia penggila bola, Manchester United klub favoritnya. Dia juga bukan tipikal pria gombal dan suka basa basi, buta masalah masak dan fashion, tapi suka ngulik segala sesuatu yang berhubungan dengan otomotif.

Soal bola, aku cukup paham memang. Tapi aku lebih suka nonton drama Korea daripada pertandingan sepak bola. Dia langsung tertawa ketika aku mengatakan hal ini. Aku juga bukan tipikal wanita yang suka digombali. Kalau untuk masak dan fashion, meskipun tidak bisa dibilang ahli, tapi aku cukup menguasai kedua hal itu. Wajar saja bukan untuk seorang wanita? Terlebih aku bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan garment, jadi aku sedikit tahu urusan fashion. Sebaliknya, aku buta untuk urusan otomotif.

Tak terasa sudah lebih dari 3 bulan aku mengenal Wahyu. Sejauh ini aku selalu merasa nyaman dan ‘nyambung’ dengannya. Tapi jujur, aku merasa was-was apakah dia juga merasakan hal yang sama? Maksudku, apa dia juga merasa nyaman dan nyambung denganku? Semoga.

Semua kekhawatiranku itu hilang ketika tiba-tiba Wahyu telepon dan mengatakan kalau keluarganya akan berkunjung ke rumahku untuk silaturahim. Bukan hanya aku, tapi semua anggota keluarga merasa senang mengetahui hal ini. Apalagi Mama, beliau paling antusias menyiapkan segala sesuatunya. Dan kunjungan keluarga Wahyu ke rumahku, jadi pertemuan kedua kami.

*

Melihat respon dari keluargaku dan Wahyu yang cukup positif, aku sedikit merasa optimis dengan kelangsungan hubungan kami. Mama bahkan tidak hentinya memuji sikap Wahyu, dan Papa juga berkata pada kedua orang tua Wahyu bahwa dalam waktu dekat akan berkunjung ke rumah mereka.

“Dengan senang hati kami tunggu kedatangannya lho, Mbakyu,” ucap Bu Ratih –Mama Wahyu- pada Mama, ketika pamit pulang.

“Iya, Insya Allah,” jawab Mama.

Sebulan setelahnya, keluargaku baru bisa menepati janji untuk berkunjung ke rumah keluarga Wahyu. Ini pertemuan ketiga kami. Kali ini akhirnya aku bertemu dengan anggota keluarganya yang lain. Aruni –adik bungsu Wahyu- yang saat kunjungan mereka ke rumahku tidak bisa ikut karena sedang ada kegiatan di kampus. Sedangkan Fauzi –adik laki-laki Wahyu- memang tidak tinggal di Jakarta. Dia sudah menikah dan tinggal di Inggris karena bekerja di sana.

Tak hentinya aku bersyukur karena Allah telah mengenalkan aku dengannya. Semua kekhawatiranku tentang usia dan apapun itu sungguh tak beralasan. Karena semakin mengenal sosoknya, aku semakin merasa semua yang aku cari dari seorang pria ada di diri Wahyu. Belum lagi keluarga kami masing-masing juga tampaknya sudah setuju, dan semakin sering berkomunikasi. Tak jarang kutemukan Mama sedang berbicara dengan Bu Ratih di telepon ketika aku pulang kerja.

Kami sedang berkumpul di ruang TV seperti biasanya. Papa dan Mama juga Nadia sedang asyik nonton acara talkshow di TV, sedangkan aku asyik membaca novel yang baru kubeli bersama Mbak Hani tadi sore ketika ponselku berdering. Wahyu, nama yang sudah tak asing lagi bagiku itu muncul di layar. Jantungku nyaris selalu berdetak lebih cepat ketika menerima telepon darinya. Tapi malam ini, jika saja tidak ada tulang rusuk, mungkin jantungku sudah loncat keluar ketika mendengar apa yang dikatakan Wahyu. Menyadari perubahan sikapku, Mama mengecilkan volume televisi dan tak lama aku menyudahi percakapan kami di telepon.

Kutarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan dan berkata, “Pa, Ma, barusan Wahyu telepon dan bilang, bulan depan keluarga mereka mau berkunjung lagi ke sini. Untuk ngekhitbah Teteh.”

“Alhamdulillah …,” ucap Papa, Mama, dan Nadia bersamaan. Mama bahkan tidak bisa menahan haru lalu memelukku erat.

“Terima kasih, Ya Rabb,” ucapku dalam hati sambil membalas pelukan Mama tak kalah erat.

*

Acara khitbah yang semula direncanakan bulan depan, terpaksa dipercepat karena tiba-tiba Wahyu ditugaskan mengganti rekannya yang sakit untuk meliput Piala Dunia di Brazil. Bukannya senang, aku malah ketakutan mengetahui hal ini. Pengalamanku yang sebelumnya juga seperti ini, tiba-tiba dia pergi jauh ketika hubungan kami masuk ke tahap yang lebih serius. Aku takut semua itu terulang untuk kedua kalinya.

“Kuserahkan semuanya pada-Mu, Ya Rabb. Kau Maha Tahu mana yang terbaik bagiku. Kumohon, kuatkan dan ikhlaskan hati ini jika memang dia bukan yang terbaik untukku,” pintaku dalam doa malam itu.

Disaksikan beberapa anggota keluarga terdekat, juga Mbak Hani dan Mas Yanto, acara khitbah berjalan lancar. Jika Allah mengizinkan, atas persetujuan kedua keluarga, dalam waktu 3 bulan ke depan aku dan Wahyu akan menikah. Meskipun rasa syukur tak henti terucap, tapi kegelisahan ini juga begitu kuat hingga terungkap.

“Kamu percaya aku, kan, Cha?” tanya Wahyu ketika akhirnya aku menceritakan semua kegelisahan ini. Satu pertanyaan yang seolah menyatakan kalau dirinya layak untuk kupercaya, Wahyu bukanlah dia yang dulu pernah membohongiku. Dan aku sedikit bisa bernapas lega mengetahui hal itu.

Tiga hari setelah percakapan kami itu, akhirnya Wahyu berangkat ke Brazil. Aku tidak mengantarnya ke bandara karena tidak bisa izin, jadi harus puas hanya dengan mendengar suaranya di telepon.

“Aku tinggal dulu, ya, Cha? Kamu jangan banyak pikiran yang nggak-nggak. Insya Allah aku pasti pulang dan menepati janji aku ke kamu,” ucap Wahyu sesaat sebelum boarding.

*

Sudah seminggu Wahyu di Brazil, biasanya aku bisa melihatnya di TV ketika dia melaporkan hasil liputannya. Atau mendengar suaranya di telepon jika kebetulan dia ada free time, biasanya ketika sudah kembali di hotel. Tapi karena perbedaan waktu dan kesibukannya di sana, dia memang jarang menghubungiku. Bahkan memasuki minggu ketiga tidak ada sama sekali kabar darinya. Membuatku kembali khawatir dan gelisah, juga rindu.

Kekhawatiranku semakin bertambah ketika tiba-tiba mama jatuh sakit. Mama memang jadi orang paling antusias menyiapkan segala keperluan pernikahanku. Tapi keantusiasan beliau ini membuatnya kurang memperhatikan pola makan dan istirahat, apalagi ini bulan Ramadhan.

Hari ini aku cuti mendadak untuk mengantar Mama ke Rumah Sakit, karena Nadia dan Papa ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Ternyata Mama hanya kelelahan dan tensi darahnya sedikit naik, dokter menyarankan Mama istirahat yang cukup dan hindari stress. Melihat kondisi mama yang masih lemas, aku meminta sopir untuk mengantar beliau pulang lebih dulu. Aku masih harus menebus resep di apotek.

Dua orang anak kecil berlarian dengan riang dari arah luar, lalu bersembunyi di balik kursi yang kududuki di ruang tunggu apotek. Tak lama seorang wanita yang tampak sebaya denganku mencari dua anak itu. Wajah wanita yang kuduga adalah ibu anak-anak yang bersembunyi di belakangku ini, terlihat familiar. Kuperhatikan terus wanita itu, pandangan mata kami bertemu. Kulempar senyum dan memberi isyarat bahwa anak-anak yang dia cari ada di belakangku.

“Farisa?” tak terduga wanita itu menyebut namaku. Aku terkejut, kenapa wanita ini tahu namaku? Atau Farisa itu nama salah satu anaknya? Tanyaku dalam hati. “Kamu Farisa, kan? Anaknya Tante Ira yang dulu tinggal di Antapani?” lanjutnya kemudian.

Otakku langsung berusaha mengingat siapa wanita ini. “Kamu … Manna?” tanyaku ragu.

“Iya. Kamu apa kabar?” tanyanya sambil memelukku.

“Baik, Alhamdulillah,” jawabku sambil membalas pelukannya. Pantas saja wajahnya tak asing, ternyata wanita ini adalah Manna Al Mulkan. Teman kecilku sewaktu masih tinggal di Bandung dulu.

“Ka Zahra, De Fia, ibu tahu kalian ada di situ. Ayo keluar sini,” ucap Manna pada kedua anaknya yang masih betah bersembunyi. Tak lama mereka keluar dari persembunyiannya. Manna pun mengenalkan kedua anakya yang lucu itu padaku.

 “Ayaaaah,” teriak si kecil Fia, sambil berlari ke arah ayahnya. Pandanganku mengikuti arah larinya Fia, lalu terkunci pada satu titik. Orang yang dipanggil Fia dengan sebutan ayah itu ….

“Cha, kenalin ini suamiku,” ucap Manna yang mengenalkan suaminya menyadarkanku dari keterkejutan.

“Ahmad,” ucap pria itu sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Seperti orang tolol, aku hanya bisa melongo melihat sosok yang berdiri di hadapanku saat ini. Sosok yang beberapa bulan terakhir selalu mengisi hari-hariku. Sosok yang saat ini kurindukan hingga membuat gelisah karena tak kunjung ada kabar darinya. Lalu tiba-tiba dia muncul di hadapanku sebagai suami temanku? Tidak mungkin! Sanggahku dalam hati. Wahyu jelas-jelas sedang meliput di Brazil, dia hanya terlalu sibuk sampai tak sempat menghubungiku. Lagipula, mana mungkin ada dua orang dengan wajah yang sama, kecuali mereka kembar identik. Tapi aku tahu kalau Wahyu tidak punya saudara kembar. Aku pasti berhalusinasi. Tapi pria yang mengaku Ahmad ini sangat mirip dengan Wahyu, matanya, senyumnya, tinggi dan postur tubuhnya, semuanya mirip. Tunggu, dia bilang siapa tadi namanya? Ahmad? Oh, ini pasti kebetulan. Nama calon suamiku Ahmad Wahyudi. Allah, tidak mungkin Wahyu tega melakukan ini.

Jika benar Wahyu tidak jujur padaku, dia pasti sudah kabur dan menghindar bertemu denganku. Tapi, apa mungkin ini semua hanya aktingnya saja karena tadi Fia terlanjur memanggilnya? Oh, dia layak dapat penghargaan best actor untuk aktingnya yang pura-pura tidak mengenalku ini.

Hatiku terus berkecamuk, otak ini juga terus berpikir keras. Berbagai kemungkinan terus terbentuk dan berkelebat di kepala, menghantui. Tapi tak satu kata pun yang bisa terucap. Aku terlalu shock dengan kenyataan ini.

“Nyonya Irayanti,” sebuah suara dari balik counter menyebut nama Mama, mengembalikan kesadaranku yang sempat ‘kocar-kacir’ tadi.

“Oh, ma-maaf, Manna. Resep obat Mama udah selesai,” ucapku akhirnya dan langsung berjalan menuju counter.

Selesai membayar resep Mama, aku langsung pergi tanpa pamitan pada Manna dan suaminya. Dapat kulihat dari sudut mata, mereka melongo melihat sikapku yang terlihat aneh, mungkin.

Tak satupun orang yang aku ceritakan kejadian di apotek waktu itu. Aku takut akan menambah runyam suasana, dan malah membuat Mama tambah stress. Tapi ini malah membuatku semakin tertekan, terlebih ketika seminggu berikutnya tidak ada juga kabar dari Wahyu. Nomornya tidak aktif ketika dihubungi, SMS, BBM, Whatsapp, dan semua akun sosial medianya sudah aku coba hubungi, tapi hasilnya tetap nihil. Kemana dia? Kepanikan membuat otak ini tumpul, tidak bisa bekerja dengan benar. Tidak juga membuatku berusaha mencari kebenaran dari apa yang ditakutkan. Aku hanyut dalam semua pemikiran itu.

“Ya Rabb, apakah ini pertanda bahwa dia bukan yang terbaik untukku?” pikirku saat itu.

Lima hari kemudian aku hampir dibuat senewen dengan segala kekhawatiran tentang Wahyu dan pernikahan kami. Ponselku berdering ketika sedang mengerjakan laporan, nomor tidak dikenal. Setelah tersambung, ternyata orang yang 2 minggu ini menghilang menelepon.

“Apa kabar kamu, Cha?” tanya Wahyu di ujung sana.

“Baik,” jawabku singkat.

“Alhamdulillah,” walaupun suaranya terdengar lemah tapi dari nadanya terdengar ada kelegaan yang entah karena apa.

“….”

“Kok diem? Kamu sakit?”

“Nggak. Kan udah aku bilang, aku baik.”

“Oh, ok ok. Aku tinggal sebulan ternyata kamu jadi lebih pendiam, ya? kamu … nggak kangen gitu sama aku, Cha?” tanyanya hati-hati.

Ingin sekali menjawab, I miss you half to death. Don’t you know that? tapi tentu saja tidak kuucapkan. Hati ini hampir meledak karena rindu dan khawatir yang membuncah. Dia tidak tahu betapa leganya hati ini hanya dengan mendengar suaranya lagi.

“Cha, are you still there?” tanpa disadari selama beberapa detik aku hanya diam, pikiranku kembali berkeliaran entah ke mana. Pertanyaannya barusan mengembalikan aku ke saat ini.

“Kamu ke mana aja sih dua minggu ini? nggak ada telepon, SMS, BBM, atau whatsapp aku juga nggak dibales. Aku juga nggak bisa liat kamu report di TV. Apa kamu beneran di Brazil? Atau kamu sebenernya ada di Jakarta?” apa yang mengganjal di hati ini akhirnya terucap sudah.

“Astaghfirullah, Farisa Larasati, segitu kangennya kamu ke aku sampe membombardir gitu pertanyaannya?” terdengar kekehan di ujung sana, membuatku geram. Jawabannya yang aku butuhkan saat ini, bukan kekehan.

“Kenapa nggak dijawab?”

“Ok ok, calm down dong. First, aku beneran ada di Brazil sebulan ini. Second, aku sibuk banget seminggu terakhir di sana sampe nggak ada free time bahkan istirahat juga kurang. And third, handphone-ku hilang, sepertinya jatuh waktu ngeliput. Jadi aku nggak bisa ngehubungi siapapun di Indonesia, karena aku nggak hapal nomor kalian. And I’m sorry ‘bout that.

“Kenapa aku nggak bisa lihat kamu di TV?” tanyaku lirih.

“A-aku sakit, Cha. Jadi temen gantiin aku report. Maaf baru telepon kamu, padahal aku udah landing beberapa hari lalu. Aku nggak mau bikin kamu khawatir.”

But you did,” jawabku semakin lirih. Tak terasa pipi ini sudah basah oleh air mata.

I know, and I’m extremely sorry ‘bout that.

Baru kutahu setelahnya bahwa Wahyu terkena typhus. Suaranya terdengar lemah karena memang dia masih sakit saat meneleponku dari Rumah Sakit. Aku jadi merasa bersalah karena sudah berburuk sangka padanya.

Aku, Mama, dan Nadia menyempatkan untuk menjenguknya di Rumah Sakit. Rindu ini terobati ketika akhirnya bisa melihat wajahnya. Ada perasaan lega menyusup dalam hati, setelah melihat keadaannya yang tidak seburuk bayanganku ketika tahu dia sakit. Mungkin karena aku terlalu terkejut mendengar kabar yang sama sekali tak terlintas di otak yang penuh dengan prasangka buruk. Ampuni hamba, Ya Rabb.

Yang lebih mengejutkan aku bertemu lagi dengan Manna di Rumah Sakit. Allah benar-benar ‘menegurku’ saat itu. Dia ingin menunjukkan kalau prasangka buruk telah mebutakan mata dan hati ini. Ternyata Ahmad Fauzi –suami Manna- adalah adik kandung Wahyu yang tinggal di Inggris. Wajah mereka sangat mirip. Kami memang belum pernah bertemu sebelumnya, dan Wahyu juga belum pernah menunjukan foto adiknya itu. Hati ini luar biasa lega sekaligus malu ketika tahu fakta ini.

“Jadi ini yang udah bikin kamu berpikiran kalo aku nggak di Brazil?” tanya Wahyu ketika aku menceritakan kejadian di apotek waktu itu.

Semua yang ada di ruangan itu tertawa melihatku yang hanya bisa tertunduk, menahan malu. Pasti wajahku saat ini sudah seperti lobster rebus.

“Kamu nggak usah khawatir lagi ya, Cha? Ini aku, bukan dia yang sudah melukaimu sedalam itu. Aku minta kamu percaya, kalau aku tidak akan melakukan hal yang sama padamu,” ucap Wahyu ketika aku pamit pulang.

*

Betapa Allah sangat menyayangiku. Dia tidak membiarkan diri ini mengalami kegagalan untuk kedua kalinya. Prasangka buruk nyaris membuatku jatuh dalam lubang yang sama. Seandainya saja saat itu aku mengikuti emosi, kemungkinan besar saat ini aku tidak bisa berstatus sebagai istri seorang Ahmad Wahyudi. Ya, pernikahan kami akhirnya dapat terlaksana dengan lancar.

Sejam yang lalu Wahyu mengucapkan janji sucinya. Kalimat terindah penuh makna yang dapat mengubah segalanya tentang kami berdua. Tak ada lagi kekhawatiran tentangnya, aku percaya dialah sosok terbaik yang Allah ciptakan hanya untukku. Dia, Ahmad Wahyudi, suamiku.

The end.

 


  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    2 tahun yang lalu.
    baca ini jadi inget mantan :") yg udah jadi suami org.
    nyuruh org buat yakin. taunya dia sendiri yg ninggalin.

    • Lihat 3 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    2 tahun yang lalu.
    hikss icha, cha,,, huwaaaaa namaku ide siapa pula itu kakandaaaaa ahmaaddddd.....=))

    • Lihat 4 Respon