Timun Haji Imron (True Story)

Sri Eko Maryati
Karya Sri Eko Maryati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Maret 2016
Timun Haji Imron (True Story)

Siti lebih memilih menempuh jarak lebih jauh menuju rumah, daripada harus beresiko dikejar orang gila. Padahal jarak dari sekolah ke rumahnya hampir 3 km. Itu artinya siang itu dia harus menempuh lebih dari 3 km untuk sampai ke rumah. Tak apalah, aslkan tidak dikejar orang gila. Begitu pikirnya.

Bukanlah hal mudah bagi seorang anak kelas 3 SD untuk berjalan sejauh itu, setelah seharian belajar di sekolah. Di bawah teriknya matahari, tanpa alas kaki, tanpa bekal nasi atau air minum, apalagi uang jajan.

Tenggorokannya terasa kering ketika dia sampai di sawah Haji Imron. Beberapa pohon buah timun di pinggiran pematang begitu menggoda bagi tenggorokannya yang menjerit minta diisi air. Tapi rasa takut untuk memetik timun itu tanpa izin begitu besar.

Sepertinya kalau hanya satu kupetik tidak apa-apa. Begitu pikirnya. Akhirnya rasa takut kalah oleh haus yang begitu kuat. Siti pun memetik lalu memakan timun itu. Rasa haus seketika hilang, tapi anehnya rasa takut di hatinya semakin meraja.

Bahkan ketika Siti sampai di rumah, takut semakin menyelimuti. Takut perbuatannya diketahui orang lain. Dia telah mencuri timun milik Haji Imron.

?Ada apa to, Nduk?? tanya Ibu ketika Siti masuk ke rumah.

?Anu ?.? Siti tidak berani melanjutkan kalimatnya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.

?Anu apa?? desak Ibu, mulai curiga.

?Anu, Bu. Aku tadi metik timun di sawahnya Haji Imron,? aku Siti akhirnya.

?Kamu bilang dulu, ndak??

Siti hanya menggeleng kepala sambil tertunduk. Dia siap jika Ibu memarahinya.

?Berapa banyak timun yang kamu petik??

?Satu. Tadi aku haus,? jawab Siti sedikit mencoba memberi penjelasan.

?Ya sudah, sekarang kamu mandi, pakai baju yang rapi. Terus kamu pergi ke rumah Haji Imron. Bilang kalau tadi kamu metik timunnya,? tukas Ibu penuh kelembutan. Tidak ada sedikit pun amarah ketika mengetahui anaknya yang telah memetik timun tanpa izin.

Siti pun menuruti apa kata ibunya. Beban di hatinya sedikit berkurang ketika dia mengakui perbuatannya pada Ibu. Dikayuhnya sepeda menuju rumah Haji Imron.

?Assalamu?alaikum,? ucap Siti lantang.

?Wa?alaikumussalam. Eh, Siti, ada apa, Nduk?? jawab Haji Imron yang sedang duduk di teras depan rumahnya.

?Anu Pak Lik, tadi aku metik timun satu di sawahnya Pak Lik. Nggak apa-apa, ya, Pak Lik? Boleh, ya?? Siti langsung berterus terang kepada Sang pemilik timun.

?Masyaa Allah, Nduk. Ndak papa. Tak kira ada apa,? jawab Haji Imron sambil tersenyum.

?Matur suwun, Pak Lik. Siti pamit dulu. Assalamu?alaikum,? ucap Siti sumringah.

?Wa?alaikumussalam,? jawab Haji Imron.

Siti bergegas pulang. Hatinya terasa jauh lebih ringan sekarang. Kini dia mengerti hari ini ibunya mengajarkan sesuatu, bahwa kejujuran begitu penting. Dia tidak mau mengulangi perbuatannya. Masih terbayang betapa tidak nyaman hatinya ketika dihinggapi rasa bersalah.

***

Jakarta, 190116.

08:53 am

  • view 164