Desire

Sri Eko Maryati
Karya Sri Eko Maryati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Maret 2016
Desire

Kilatan cahaya dari blitz kamera wartawan tak hentinya menyilaukan pandangan. Aku yang tidak terbiasa dengan situasi seperti ini sempat merasa gugup luar biasa. Tidak menyangka jika akan sebanyak ini orang yang menghadiri acara Meet and Greet untuk buku pertamaku yang berhasil terbit, dan best seller. Sebelum beranjak ke sesi book signing, sang moderator mempersilakan kepada semua peserta yang mau mengajukan satu pertanyaan terakhir.

?Selain keluarga, adakah orang yang juga berperan besar bagi Mbak Riana hingga lahirnya buku ini?? seorang wanita berkacamata tebal yang duduk di barisan depan, yang akhirnya mengajukan pertanyaan.

?Ada, namanya Desi Renata. Dia sahabat sejak SMA, yang selalu menyemangati saya untuk menulis. Bahkan jauh sebelum saya serius belajar tentang dunia kepenulisan, dialah orang pertama yang berkeyakinan kalau suatu saat saya akan berhasil. Dan hari ini, keyakinannya itu terbukti,? jawabku mantap. Pertanyaan terakhir itu membuat hatiku berdesir rindu. Rindu akan sosoknya yang kini entah berada di mana.

Kutolehkan kepala ke samping kanan panggung, tempat Mas Adit ?suamiku- berdiri. Anggukan kepala dan senyumannya sedikit menghibur hati ini yang tiba-tiba saja sendu. Reaksi yang selalu muncul jika ada hal yang mengingatkanku pada Rere ?begitu aku memanggilnya.

*

Sudah tak terhitung lagi berapa banyak e-mail yang kukirim untuk Rere, tak satu pun yang dibalas. Pun malam ini, kuceritakan semua detail acara siang tadi padanya. Besar harapanku kali ini ia membaca dan membalas. Aku ingin ia ikut merasakan kebahagiaan ini, salah satu mimpi kami akhirnya terwujud.

?Sudah malam, Yang. Kamu udah capek seharian ini, ayo tidur,? Mas Adit terbangun dari tidurnya. Suara jari-jariku yang beradu dengan keyboard laptop telah mengusiknya.

?Iya, ini sedikit lagi.?

Ada semangat lain ketika mengetik e-mail malam ini, sampai tidak langsung menuruti ajakan suami. Jari-jari ini semakin lincah menari di atas keyboard, berlomba dengan waktu sebelum Mas Adit kembali terbangun dan komplain.

Re, aku yakin suatu hari kita pasti akan bertemu lagi dan mimpi kita yang lain akan terwujud. Insya Allah.

Ku-klik ?Send? setelah selesai mengetikkan kalimat terakhir itu. Akupun beringsut ke balik selimut setelah sebelumnya mematikan lalu menyimpan laptop di meja tak jauh dari ranjang.

?Udah beres ngirim e-mail-nya?? tanya Mas Adit tanpa membuka matanya. Ia sudah sangat hapal dengan kebiasaanku hampir setiap malamnya, selama tiga tahun ke belakang.

?Udah,? jawabku sambil tersenyum puas dan mulai memejamkan mata. Kurasakan elusan tangan Mas Adit di puncak kepala, sebelum akhirnya terlelap dalam pelukannya.

*

?Yang, si Bos ngasih aku tiket ini tadi siang,? ucap Mas Adit sambil menunjukan dua lembar tiket padaku.

?Tiket apaan tuh??

?Mini concert gitu. Acaranya malam minggu ini di daerah Kemang, katanya bakalan ada pelelangan lukisan buat penggalangan dana gitu.?

?Lukisan?? mendengar kata lukisan aku langsung antusias.

?Iya. Bosku bilang penggalangan dananya tuh buat bantu si pelukis yang lagi sakit.?

?Oh. Kalo gitu kita mesti ke sana, Mas. Siapa tahu ada Rere di sana, dia juga kan pelukis.?

Konser mini yang kami hadiri malam ini ternyata diadakan di sebuah caf?. Alunan musik jazz membuat suasana caf? sangat cozy. Beberapa buah lukisan menyambut kami begitu masuk. Ah, seandainya ada Rere di sini.

Setelah sedikit berbincang dengan beberapa rekan kerja Mas Adit, aku pamit sebentar untuk ke toilet. Sepanjang perjalananku menuju toilet, ada satu hal yang tak lepas dari perhatianku ketika melihat semua lukisan yang terpajang di caf? ini. Semua lukisan di sini ada tulisan ?Desire? di pojok kiri bawah kanvasnya. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan ketika membacanya.

Acara pelelangan lukisan sudah dimulai ketika aku kembali dari toilet. Kali ini sebuah lukisan bergambar dua wanita sedang berpelukan yang sedang dilelang. Ekspresi kedua wanita dalam lukisan itu menyiratkan rindu dan kepedihan yang mendalam.

?Mas, aku pengen lukisan itu deh,? bisikku pada Mas Adit.

Setelah melalui proses pelelangan yang cukup panjang, akhirnya lukisan itu jatuh ke tangan kami. Ada perasaan senang luar biasa saat tahu aku bisa memiliki lukisan itu. Tanpa sadar aku menghadiahi sebuah kecupan di pipi kanan suamiku sebagai ungkapan terima kasih padanya. Hal yang tidak pernah kulakukan di tempat umum sebelumnya.

Ponselku berdering ketika mobil kami memasuki halaman rumah. Tanpa melihat caller ID-nya, kugeser ke kanan simbol telepon yang berkedip di layar.

?Hallo.?

?Nak Ari??

Di dunia ini hanya seorang yang memanggilku ?Nak Ari?. Allah, suara ini. Benarkah?

?Ibu??

*

Seorang wanita menyambut kedatangan kami di bandara. Tak sabar hati ini, segera kupeluk erat tubuh renta itu begitu beliau mendekat. Seperti mimpi, wanita yang selama tiga tahun ini ikut menghilang bersama sahabatku, saat ini berada dalam pelukan.

Bu Rahma ?Ibunya Rere- menyambut kami di rumahnya. Hujan deras mengguyur kota Surabaya sore itu. Mas Adit dan Bu Rahma kompak melarangku yang berkeras ingin segera mengunjungi Rere. Akhirnya kami sepakat akan mengunjungi Rere besok.

Setelah makan dan shalat Isya berjamaah, Bu Rahma menceritakan kenapa beliau sekeluarga tiba-tiba menghilang tiga tahun silam. Suara beliau sedikit bergetar dan lirih ketika menceritakan hancurnya rumah tangga anak semata wayangnya itu. Kepindahan mereka setahun setelah pernikahan Rere, menjadi babak baru dalam perjalanan hidup mereka. Tak hanya kekerasan fisik, suami Rere bahkan meninggalkannya begitu saja dan menikah dengan wanita selingkuhannya.

Tak cukup sampai di situ, suaminya itu bahkan menguras habis tabungan mereka selama ini. Tak lama berselang, ayah Rere meninggal. Rere sempat benar-benar terpuruk, tapi kekuatan hatinya membuat ia bangkit perlahan. Hobi melukisnya menjadi terapi psikis sekaligus jalan terbukanya peluang usaha. Seorang teman mengajaknya kerja sama. Rere diminta menjadi tenaga pengajar di sebuah sekolah dasar milik temannya itu.

?Kenapa selama ini Rere nggak menghubungi Ari, Bu??

?Dia bilang dia malu dengan keadaannya sekarang. Dia juga melarang ibu untuk menghubungi Nak Ari. Ibu harap Nak Ari nggak salah paham, Rere hanya tidak mau merepotkan kalian. Nak Ari pasti mengenal Rere dengan baik, kan??

Oh, Allah. Sakit sekali hati ini mengetahui kenyataan yang menimpa sahabatku.

?Ibu nggak sengaja baca buku yang baru Rere beli beberapa bulan lalu, ternyata itu buku yang Nak Ari tulis. Dari situ Ibu coba menghubungi nomor kontak Nak Ari.?

Bu Rahma menceritakan semua yang sudah kulewatkan dalam perjalanan hidup anaknya. Ternyata Rere tak pernah berubah, tetap seperti dulu. Seorang wanita dengan semangat hidup yang begitu tinggi.

?Kenapa nggak dari sore tadi kita telepon Rere, Bu? Suruh dia ke sini.?

?Kebetulan Rere lagi kurang sehat. Biar saja, kita nggak usah kasih tahu dia kalau Nak Ari ke sini. Besok kita langsung aja temui dia, kita bikin kejutan,? ungkap Bu Rahma dengan mata berkaca-kaca.

*

Sebelumnya aku mengira Bu Rahma akan mengajak ke rumah Rere. Tapi beliau mengajak kami ke sebuah Rumah Sakit. Semalam beliau memang bercerita kalau Rere saat ini sedang sakit, tapi tak sedikitpun menyinggung masalah penyakitnya apalagi Rumah Sakit.

?Rere ada di dalam, Nak Ari. Empat bulan lalu dokter mendiagnosa kalau Rere mengidap leukemia. Kondisinya terus menurun, sudah seminggu dia koma dan dirawat di ruangan ini. Masuklah. Rere memang tidak sadarkan diri, tapi dokter bilang ia masih bisa mendengar. Rere pasti senang kalau tahu kalian datang,? ucap Bu Rahma ketika kami berhenti di depan ruang ICU.

Pandanganku tiba-tiba buram terhalang cairan yang menggenang di mata ini begitu mendengar perkataan Bu Rahma. Rere, koma?

Kugenggam erat tangan suamiku. Air mata ini tak terbendung lagi saat melihat sosok yang terbaring lemah di hadapan kami. Mata indah itu kini terpejam, larut dalam tidur panjang yang damai. Tubuh enerjik yang dulu begitu terawat, kini hanya tinggal kulit yang membalut tulang.

?Re, ini aku, Ariana. Mas Adit juga ada di sini. Kamu bisa dengar aku, kan? Maaf, kami baru bisa datang sekarang.?

Tak ada reaksi dari Rere ketika aku menyapanya. Begitu banyak yang ingin kukatakan, tapi tenggorokan ini tercekat menahan tangis. Hanya satu kalimat yang bisa terucap sebelum tangis ini pecah, ? I?m awfully miss you, Sis.?

*

2 tahun kemudian

?Selamat, ya, Ri! Desire siap launching Ahad depan.?

?Alhamdulillah ?.?

Mas Adit tak dapat melepaskan tatapannya padaku yang sedang menerima telepon. Acara makan malam kami sedikit terganggu. Aku hanya bisa tersenyum lebar begitu mendengar kabar yang baru saja disampaikan seorang teman di penerbitan.

?Selamat ya, Sayang.? Ucap Mas Adit begitu aku memberitahu kabar baik ini.

Kami sepakat memilih caf? di daerah Kemang untuk acara launching buku keduaku. Belakangan baru kutahu kalau lukisan yang dilelang di caf? itu beberapa tahun lalu, adalah hasil karya Rere. Penggalangan dana malam itu tak lain adalah untuk membantu biaya pengobatan Rere.

Sejak awal, saat mimpi ini tercetus 15 tahun yang lalu, aku yakin suatu saat akan terwujud. Lagi, Allah mengabulkan doaku. Mimpiku dan Rere untuk bisa bekerja sama melahirkan sebuah karya, hari ini terwujud. Sebuah buku yang kutulis, dengan ilustrasi dari lukisan dan foto-fotonya.

Pertemuanku dengan Rere di ruang ICU saat itu, adalah pertemuan terakhir kami. Tepat keesokan harinya, Rere menghembuskan napasnya yang terakhir. Ia tak mampu lagi melawan sel kanker yang terus menggerogoti tubuhnya. Sebulan setelah kepergian Rere, aku mulai menjalankan misi mewujudkan mimpi kami. Dibantu Bu Rahma yang mengumpulkan lukisan dan foto-foto kenangan kami. Juga Mas Adit yang dengan pengertian dan kesabarannya, mau mengizinkan sebagian besar waktuku tercurah untuk menulis buku ini. Buku yang akan mengabadikan kenangan indah seorang Desi Renata.

The End

Bandung, 18112014.

Inspired by a true story

  • view 115