Orang Itu yang Telah Pergi

Dayu Soraya
Karya Dayu Soraya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 November 2017
Orang Itu yang Telah Pergi

Mungkin aku terlalu lama menatap matanya hingga ia bertanya “Kamu kok lihatin mataku terus sih, Yu? Ada apa? Lucu ya?”

Aku mungkin tersenyum kecil, mengalihkan pandanganku sebentar pada vas bening berisi dua tangkai mawar merah segar yang menjadi pajangan di sudut meja kasir sambil bilang “Nggak apa-apa kok” dengan pelan untuk kemudian menatapnya lagi. Awalnya kita membicarakan aitem instrumen penelitian, kapan pertama kali mengenal lipstick dan teman-temannya, berlanjut pada kakak senior (yang dulunya) ganteng, kemudian tetiba saja menyinggung “orang itu yang telah pergi”.

Dalam hati aku bertanya “Mengapa masih membicarakan ini? Bukankah apapun alasannya “orang itu yang telah pergi” telah pergi dan demi apapun juga dia tidak akan kembali?”. Tapi kukira ia hanya ingin didengarkan. Ada nada tidak ikhlas atas kepergian orang itu yang tertangkap gendang telinga, tapi ketika kutuduh begitu secara langsung pasti dia akan bilang “aku wes ikhlas kok, Yu”.

Berpisah dengan orang tercinta, kata Seno Gumira merupakan kematian kecil yang begitu menyiksa, sebab dalam kematian yang besar kita tidak akan merasakan apa-apa. Aku tidak begitu paham definisi kematian kecil versi Seno Gumira, namun bagiku kematian kecil yang menyiksa mungkin seperti ketika kamu memejamkan mata dengan damai pada awalnya, tapi kemudian terbangun di tengah malam, tetiba cemas, jantung berdebar lebih dari biasanya, kamu merasa butuh menghirup oksigen banyak-banyak tapi nggak tahu harus diletakkan di mana sebab rongga dadamu sudah penuh, tenggorakan terasa nyeri hingga kamu menangis terisak-yang seolah-olah tidak bisa berhenti.

Akupun pernah berpisah dengan orang tercinta, baik sementara maupun selamanya. Rasanya? Hatiku berlubang, sudah begitu, aku merasa ada yang mencabut paksa hatiku untuk dibawa entah kemana. Remuk, tak bisa lagi melihat bentuknya seperti apa. Pada suatu kelas Psikologi Faal, Ibu Dosen berparas tegas dan memakai kacamata itu pernah mengatakan "kadar luka setiap orang itu berbeda-beda, maka jangan pernah bandingkan". Karena itu, otomatisa lukaku dan lukanya tidak akan pernah sama.

Tulisan ini untukmu, yang duduk dihadapanku empat siang yang lalu

di Café Pustaka, sambil mengudap roti bakar dan minum es coklat.

Malang, 14 November 2017

  • view 123