Angin Pengantar Rindu

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Angin Pengantar Rindu

Kelana, mengapa orang-orang, termasuk kamu, senang mengunjungi pantai? Padahal ia sesuatu yang angkuh, gemar pamer keindahan, tapi pelit informasi alias misterius, labil, tak terprediksi. Seperti juga di pantai ini, Tambakredjo, Blitar. Di balik keindahan itu terdapat ancaman maut, entah tiba-tiba kamu tertiup angin amis, terseret ombak, terantuk pasir, terjerembab karang, dimakan ikan, datang tsunami.

Kamu tahu betul semua risiko itu, tapi kamu tetap bermain dengan ombak dan pasir di sini. Kamu tetap riang berburu sunrise, menulis di atas pasir, lalu mengabadikannya melalui lensa kamera, sebelum ia tersapu ombak atau terinjak-injak lagi. Kamu juga tetap berfoto manis bak foto model di segala tempat, seperti yang lainnya. Aku pun jatuh cinta padanya, selalu merindunya, Kelana. Laut disukai, mungkin saja karena kebanyakan orang ingin seperti Ia, selalu berupaya mengundang penasaran agar dirindukan.

"Pokoknya aku harus dapat view bagus untuk update Instagram," katamu sungguh-sungguh jeoang shubuh. Aku mengangguk, siap membantu menjadi fotografer. Aku juga siap untuk tidak bosan melihat sejuta gaya dan ekspresi andalanmu. Kamu tahu betul skill-ku yang sangat keren dalam bersabar, sembari mencari sudut pandang foto terbaik.

Agar nantinya kamu bisa bangga memamerkan foto-foto itu di Medsos, sesukamu. Mungkin demi eksistensi maya, demi kepentingan para penggemar-penggemarmu yang selalu kepo, mungkin juga demi menarik perhatian gebetan yang selalu kamu rindukan. Kebanggaan yang aku pun tak tahu, itu nyata atau ilusi. Yang jelas aku tak mau usil dengan standar bahagiamu, Kelana. Melihatmu tertawa riang saja, aku sudah ikut ceria.

***
Aku perhatikan, energi narsis mu belum habis, nafsu menjelajahmu masih menyala-nyala. Munhkin karena hari masih pagi dan buta. Pun tak pantai belum sesak oleh wisatawan lainnya. Jadi, mari beranjak barang sejenak ke sebelah timur. Temani aku menyusuri bibir pantai yang sepi, menyapa karang dan deretan warung tenda yang lesu.
Kamu pun tahu, tujuan utamaku hanya satu, yakni bertitip rindu untuk dia yang akan sangat kurindukan. Seseorang itu saat ini masih berada di hadapan, meski selalu berada di kejauhan. Aku selalu menyiapkan segudang antisipasi agar tak terlalu merasa kehilangan ketika nanti dia hilang.

Di sebelah timur pantai, kita melintasi pangkal sungai yang setiap hari bermesraan dengan pantai. Setelahnya ada bukit yang harus kita daki guna menjangkau kecantikan lainnya yang membuat nafsu berfoto mu semakin menggila.

Bergegaslah! Matahari terus mengintai semenjak ia pertama kali menampakkan diri dari balik lautan. Aku tahu, mendaki bukit ini sangatlah melelahkan. Sejenak kamu harus meninggalkan butiran pasir yang lembut dan dingin, menggantinya dengan melintasi belukar dan bebatuan terjal dengan kaki yang telanjang. Maaf karena kali ini aku memaksamu melakukannya. Kamu harus berani, merasakan sakit, mengambil risiko diterima atau ditolak. Sebab itulah bagian dari upaya menjangkau kecantikan Pantai Pasetran Gondo Mayit. Pasir putihnya minta segera diapresiasi.

***
Selamat datang di hamparan pasir putih, pantai bening. Panorama di sini indah, tapi jangan kamu menatapnya lama-lama. Jaga dirimu agar tak jatuh cinta padanya. Mengapresiasilah secukupnya jika kamu tak punya nyali untuk mengakui cinta.

Untuk mengalihkan perhatian, aku ingin memperkenalkanmu pada Angin yang berhembus di antara cahaya matahari yang hangat. Pejamkan matamu sejenak, Kelana. Jika kamu mendengarkan dengan baik, angin-angin itu adalah kumpulan peri yang tengah berbisik sambil bernyanyi.

Jika kamu mendengarkan dengan lebih baik lagi, kamu akan mendengarkan mereka bernyanyi dengan pilu. Para peri di sini bertugas mengumpulkan rindu yang dititipkan dari orang-orang pengecut yang datang kemari. Rindu itu tak tersampaikan dengan baik makanya ia terombang-ambing di bawa angin pantai ini.

Ketika pesan-pesan rindu itu semakin banyak, peri-peri angin akan menitipkan beban itu kepada awan, untuk kemudian tumpah menjadi hujan, lalu menyatu dengan limbah di lautan. Selepas hujan, sinar matahari akan membakar kerinduan itu sehingga menjelma uap, terlupakan. Begitulah siklusnya.

Akulah, Kelana, bagian dari orang-orang pengecut itu. Bahkan lebih dari mereka, aku mempersiapkan diri untuk menyambut kerinduan yang baru akan terasa keesokan harinya. Merindu kepada dia yang gemar berbagi kebaikan, tapi rasanya semakin jauh dari jangkauan.

Akan lebih mudah ketika kamu menyerah dan melepaskan semuanya, meski ada kemampuan untuk menggenggamnya. Lebih baik merelakan meski ada kekuatan untuk berjuang. Tapi rasa rindu dan cinta bukan pergerakan sepihak. Lebih baik tak menyampaikan rindu jika tak ada yang pasti dituju. Tak perlu terlalu memaksakan kehendak jika sebelah pihak tak berminat.

Alhasil, rindu ini tak akan terobati dengan hanya menitipkannya pada angin di sini. Tapi aku tahu betul, Kelana, memendam rindu di dada akan membuatmu sekarat. Maka beruntunglah ketika ada peri-peri yang siap menanggung rindu, membuatnya jadi seringan kapas.

Tambakredjo, Blitar, 22102016

 

 

 

  • view 207