Sepotong Hati untuk Malika

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Sepotong Hati untuk Malika

Sepotong Hati untuk Malika
01102016

Aku ingin mencatatkan peristiwa penting hari ini. Hari di mana wajah senja bukan lagi muram, tapi sembab. Pemandangan macam begini sangat dinantikan. Telah berbulan-bulan lamanya langit keras kepala menahan linangan gerimis maupun hujan. Sawah jadi kerontang, sungai kering, hutan dan lahan membara oleh api dan asap. Pun, para gadis jelita segan menghiasi jalan dan pematang sawah yang berdebu, sebab betah di dalam rumah. Mereka takut kulitnya gelap karena terik matahari yang menggila sepanjang pagi hingga menjelang petang.

Tapi lihatlah hari ini, langit mendadak berubah pikiran. Angin dingin datang membunyikan sirine kesejukan. Genderang geluduk terdengar bersemangat menggiring ketumpahan hujan yang diperkirakan turun beberapa menit lagi.

Hampir. Sebab senja baru saja berbisik padaku. Ia akan melepaskan air hujan setelah tangis Malika usai.

Syarat macam apakah?!

Aku tak habis pikir. Begitu pentingnya kah Malika bagi umat sejagat, sehingga kedatangan hujan pun bergantung pada keputusannya menghentikan tangisan?" Aku bertanya pada langit yang angkuh. Ia hanya melotot, mempertanyakan keinginanku bertemu dengan hujan.

Ini sudah kesekian kalinya Malika datang dengan air mata yang berlinang. Putus cinta baginya seperti liburan. Terjadi setiap pekan. Pada hari Senin ia jatuh cinta, berpacaran di Selasa hingga Kamis, bertengkar di Jumat, lantas diakhiri fase pertengkaran dan putus cinta pada akhir pekan. Setelah segala tangis yang terlalui, mengapa Malika tak kunjung terbiasa. Tak juga ia sekalipun menyerah untuk mengadu, melampiaskan sakit hatinya di hadapanku.

"Aku hanya ingin sembuh, Namima!" katanya selalu dengan nada lirih yang pilu.

Padahal ia tahu, aku benar-benar malas mendengarkan cerita lara itu, tiada pula menawarkan solusi agar tangis itu sirna. Tak pernah pula aku terpikir untuk sekadar melontarkan basa-basi pelipur lara, sepatah kata pun. Aku memang jahat, memang pula tak berperasaan. Tapi akulah yang paling mengetahui kondisi hati Malika. Benda itu telah rusak sepenuhnya. Akut. Mengapa harus memberinya harapan kesembuhan?

Sebagian orang menasihati Malika agar senantiasa sabar karena mengalami putus cinta setiap pekan. Sebagian lainnya meyakinkan bahwa suatu saat nanti Malika akan menemukan cinta sejati, asalkan ia sudi menjalani proses penyembuhan yang muluk-muluk. Misalnya dengan cara menjalani training motivasi, atau melakukan terapi. Malika, kata mereka, harus terus berjiwa besar, sebab di masa depan yang tak pasti, akan ada hadiah atas kesabaran dari kesakitannya.

Malika terlalu lugu dan menelan mentah-mentah semua janji manis itu. Kebohongan itu. Ia selalu termotivasi untuk sembuh dan berbahagia di masa depan.

Tapi pada akhirnya ia sadar juga, itu semua hanya tipuan dari mereka yang tak mau berlama-lama ngilu mendengarkan kisah pilu Malika. Di saat-saat seperti ini, aku sangat berharap Malika menjadi zombi saja. Makhluk macam itu kabarnya hanya tahu caranya makan dan bertahan hidup. Tanpa perasaan, tanpa tangisan. Biar cepat ia berhenti menangis. Biar cepat hujan mengguyur kepalanya. Mungkin saja sanggup mengobati hati yang luka.

Semua orang tak tahu, luka hati Malika dimulai jauh-jauh hari sebelum dia tahu apa itu luka. Malika patah hati, bahkan sebelum dia mengetahui dan mengenal dengan baik cinta itu apa. Dia sudah membenci, bahkan sebelum dia tahu benci itu apa. Ia jatuh cinta untuk pertama kalinya di usia belia, lalu segera merasa kecewa. Sesosok Ayah yang ia pikir akan menjadi pelindung terbaiknya, tapi kemudian tampak membiarkan Ibunya berjuang sendirian. Patah hati begitu terasa ketika ia merasa dibuang oleh ayahnya, cinta pertamanya.

Malika seharusnya tak pernah jatuh cinta sejak awal. Mungkin tak mengapa jika ia kesepian. Sebab lebih aman jika bersembunyi di kolong meja sembari mengurusi diri sendiri. Dunia ini kejam sehingga tidak ada yang bisa dipercaya, pun tak ada yang andal menjadi tempat bergantung. Seharusnya Malika mendengarkan nasihatku untuk tetap berjarak dengan siapapun. Jangan sampai diketahui kerentanan hatinya, perasaan lemahnya, lukanya yang perih di masa kecil.

Tapi Malika membandel. Ia terus-menerus terpesona dengan pribadi-pribadi baik yang berseliweran di sekelilingnya. Ia bersikukuh, ingin turut memberi bahagia kepada orang-orang tertentu yang dianggapnya istimewa. Meski kemudian di akhir pekan, seperti hari ini, ia datang lagi padaku dengan air mata yang tumpah. Berkali-kali ia jatuh cinta, lalu kemudian patah hati.

Baiklah. Tangisan ini harus segera diakhiri. Sebab aku sangat haus rindu hujan jatuh sekarang juga. Sawah harus ditanami padi, sungai harus berlimpah air dan membuat ikan menari, hutan harus damai tanpa asap yang menyesakkan pernapasan, jalanan harus sejuk dengan gadis-gadis yang bersolek pamer kecantikan.

Satu hal terpenting lainnya, Malika harus bahagia.

Demi turunnya hujan, kucabut hati Malika yang sudah compang-camping keadaannya, kusimpan di tempat seharusnya, keranjang sampah. Lantas kuambil hatiku yang utuh dan segar bugar. Kuberikan padanya mentah-mentah. Tidak ada cara lain lagi. Hati yang rusak perlu diganti. Masa lalu harus dimaafkan. Orang tua harus diterima bagaimana pun keadaannya. Sebab mereka ada sebagai harta berharga, hanya dimiliki oleh Malika, satu-satunya.

Aku percaya, Malika cukup tahu diri untuk menjaga hatiku, hatinya yang baru. Tak mudah berganti hati, butuh waktu untuk adaptasi. Aku akan sabar menunggunya menyesuaikan diri setelah pengorbanan yang tidak kecil ini. Ketika nantinya hati yang baru patah lagi, Malika akan cukup cerdas untuk membuatnya semakin kuat. Tidak dengan mengeluhkan luka akibat cinta pertama maupun yang kesekiannya, tapi dengan terus-menerus berbagi cinta tanpa memilah.

Beruntungnya, aku tak lantas menjadi zombi. Sebab aku orang sakti. Namima tak pergi ke mana-mana. Ia hanya melebur menjadi Malika yang baru. Siap berbagi cinta diantar hujan yang baunya wangi.

***

*sambil menunggu kereta Bandung-Kediri 01102016

  • view 250