Kambing Butung

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Kambing Butung

Kambing Butung
Oleh Sonia Fitri

Akhirnya kamu berpijak lagi di sini. Di depan gerbang masuk menuju kampung sederhana mungil terpencil, jauh dari perkotaan yang serbasibuk dan terasa busuk. Namanya Lembah Butung. Aku tertawa ketika kamu pertama kali menyebut nama itu. Bahkan berkali-kali menegaskan tak salah dengar. Namanya Butung, bukan Buntung, Burung, Busung atau Butuh. Kata-kata yang barusan kusebut setidaknya masuk dalam daftar kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia dan masih eksis sampai revisi teranyar. Tapi memang ini kampung namanya Lembah Butung. Bukan yang lain. Kamu kemudian memaklumiku yang repot mempertanyakan nama Butung. Kamu juga mengakui asal usul nama Butung maupun artinya secara harfiyah masih menjadi teka-teki hingga kini. “Butung membiarkan dirinya dimaknai sendiri-sendiri sesuka hati,” katamu diakhiri tawa.

Sekitar sepuluh menit, kamu masih belum beranjak. Menyapu pandangan ke sekitar kampung. Menelanjangi Butung yang dikelilingi persawahan kering kerontang tinggal ilalang. Maklum, kemarau panjang belum selesai sampai bulan depan. Kamu berkomentar, sudah banyak yang berubah di Butung. Jalan masuk dilapisi aspal sehingga debu dan batu di musim kemarau tak terlalu mengganggu kendaraan. Perumahan penduduk makin padat. Tembok-tembok bilik bambu berganti batako berpelur. Dilapisi cat warna-warni. Sebagian dipagari tralis besi. Tampaknya perekonomian cukup bagus di sini. Pemuda setempat banyak yang merantau ke kota. Lantas pulang bawa uang “sebesar pintu”.

Kemudian matamu mengarah ke tenggara gerbang Butung, mengajakku beranjak. Di situ ada tempat yang memang menjadi sebenar-benarnya tujuan. Adalah pondok pesantren sekaligus madrasah di mana dulu kamu bersekolah. Anak-anak Aliyah tampak berjalan bergerombol menuju masjid. Pakaian seragam mereka sama seperti anak SMA pada umumnya, namun dengan setelan panjang. Yang perempuan pakai kerudung, yang lelaki berpeci. Adzan Dzuhur berkumandang, waktunya santri mengakhiri kegiatan belajar mengajar di madrasah lalu shalat berjamaah.

Sepuluh tahun berlalu, fisik Pesantren Butung masih bertahan dalam kesederhanaan. Tapi ia tak pernah terasa rapuh. Justru karena itulah, aroma damai begitu kuat terendus. Kedua bola matamu tampak memancarkan rindu. Ingin rasanya segera bertemu Kiayi Jaeni. Sosok itu menjadi satu-satunya alasan kamu tergopoh-gopoh menuju Butung. Shubuh tadi kamu dapat kabar dari Aisyah, anak bungsu Sang Kiayi, agar segera datang kemari. Kamu pun merasa harus segera datang. Sembari menduga-duga, pasti ada sesuatu yang genting. Jika pun tidak, tak ada alasan untuk menampik undangan Kiayimu.  

Sepuluh tahun yang lalu, pertama kali kamu menjejakkan kaki di Butung. Emakmu kala itu mendafarkanmu sebagai santri sekaligus siswa Tsanawiyah di sana. Waktu itu kamu menangis. Mana sudi tinggal di tempat kumuh dan terpencil macam ini. Kamu waktu itu menuduh Emak membuangmu. Adakah Emak kerepotan mengasuh anak bebal. Tapi bocah seusiamu tak berdaya membangkang. Kemudian dimuailah proses penggemblengan di pondok, diawali pemberontakan demi pemberontakan. Lalu segala hukuman menderamu, dari mulai setrap, membersihkan WC, lari di lapangan, menghafal juz amma atau kosa kata bahasa Inggris dan Arab, hingga digunduli.

Kamu waktu itu memang sengaja berulah karena muak dengan keadaan. Masih tak sudi tidur berdesak-desakan dengan santri lainnya di kamar yang sempit, sebal karena makanan dan alat pribadi kerap dipakai seenaknya oleh santri senior, malu karena terjangkit budug dan kutu rambut, kesal karena harus melakukan segala kegiatan berdasarkan jadwal yang ketat, padahal mandi, makan dan berwudlu pun harus dijatah dan mengantri. Beruntung, kamu merupakan anak yang cerdas dalam urusan akademik. Baru jadi anak madrasah, kamu berhasil merebut peringkat satu. Makanya, meski kamu super nakal dan pemalas, guru-guru menyayangimu.

Ketika beranjak ke bangku Aliyah, kamu mendadak jinak. Orang-orang menyangka kamu sudah lelah berulah. Padahal alasan sebenarnya kamu sedang jauh cinta pada anak sulung Pak Kiayi. Namanya Mutia. Selayaknya anak kiayi, Mutia dikenal cantik, sholehah dan ramah namun sulit dijangkau. Sebab sulit didekati, kamu ganti strategi. Pendekatan bisa dimulai dari bapaknya dulu. Kamu pun mendadak rajin bertandang ke rumahnya di antara waktu dzuhur dan ashar. Waktu tersebut paling aman, karena kegiatan santri berjudul “Istirahat”.

Awalnya Kiayi Jaeni selalu mengusir. “Jangan berkeliaran, istirahat saja!” katanya tegas. Tapi bukan Sanusi kalau kehilangan akal. Kamu kemudian datang dengan sekarung rumput untuk segelintir kambing dipelihara Pak Kiayi. Tak masalah jika Pak Kiayi sama sekali tak menggubris apa yang kamu lakukan. Tak dilarang ataupun diberi pujian. Yang penting ada bayaran segelas air bening yang dibawakan Mutia. Sesekali ditambah bonus senyum manis dari candaan yang garing. Bonus lainnya, kamu jadi sering ngobrol sama Bu Kiayi. Khayalanmu waktu itu, lumayan sembari pendekatan, siapa tahu jadi calon menantu. Itu semua lebih dari cukup memulihkan rasa lelah setelah ngarit di sawah berjam-jam. Bahagianya.

“Kenapa, sih, gak istirahat saja di kobong?”

“Gerah Bu Kiayi, di asrama terlalu sesak, masa satu kamar kecil begitu diisi lima orang, itu gak manusiawi, Bu,” jawabmu kala itu. “Lagi pula, mana tega saya membiarkan Pak Kiayi yang ngarit, dia fokus saja mendidik santri.”

“Memangnya Akang tidak lelah? Jadwal di Pesantren super padat begitu,” Mutia menimpali. Kamu sudah tentu sangat senang waktu itu. Meyakini diri, bahwa pernyataan Mutia disebabkan ia sangat memperhatikanmu.

“Anak lelaki harus kuat, Mutia,” katamu bangga.

Jadilah setiap hari ada sekarung rumput untuk kambing, segelas air untuk Sanusi dan sepuluh menit membahagiakan sebab bisa berbincang dengan perempuan-perempuan Sang Kiayi, terutama Mutia. Kamu makin semangat sebab tahu si kambing kalau sudah cukup usia akan dijual. Uangnya akan dipakai untuk berobat Mutia yang mengidap kanker pankreas tingkat akut. Pokoknya, Mutia harus selamat dan sehat sampai tua.

***

Kami pun sampai di rumah sederhana namun asri milik Kiayi Jaeni. Di depan rumah tampak pohon cabe, seledri dan lidah buaya tertata rapi. Di samping ada kandang kambing yang sangat kamu kenali. Kandangnya kini makin luas. Kambingnya juga sudah banyak. Rupanya Bu Kiayi mempekerjakan dua anak yatim untuk mengurusi kambing-kambing itu. Kamu menghela nafas. Situasi tampaknya semakin baik di pesantren, juga di kehidupan Pak Kiayi sekeluarga.

Setelah mengucap salam, segera terdengar jawaban dari dalam. Suara yang sangat kamu kenal. Ibu Kiayi. Dua menit kamu tertegun menatapnya. Bu Kiayi sudah semakin tua. Di wajahnya tampak gurat-gurat kesabaran yang terukir lewat keriput di pipi, mata dan dahi. Bu Kiayi mempersilakan masuk, segera menggiring kami ke ruangan Kiayi Jaeni. Makin dekat menuju Pak Kiayi, tanganmu makin gemetar. Dari dalam, lantunan dzikir terdengar samar-samar.

Gemetarlah, Sanusi. Ini bukan gemetar karena marah seperti yang kamu lakukan dulu, sebelum angat kaki dari Butung. Adakah kamu bergetar sebab mengingat kejadian enam tahun lalu. Ketika itu juga tengah kemarau panjang seperti saat ini. Tapi situasi kampung kala itu sedang payah. Kekeringan terjadi di mana-mana. Penduduk setempat kekurangan pangan dan air bersih. Situasi tersebut berdampak pada situasi di pesanren yang makin compang-camping. Sebagian besar santri absen dikirimi bekal dari orangtua di rumah, termasuk dirimu.

Alhasil, Pak Kiayi harus putar otak memberi makan puluhan perut anak-anak yang tengah mencari ilmu. Setiap datang waktu makan, Kiayi hanya tersenyum sambil meminta anak santri pandai bersyukur. Setiap datang waktu mandi dan shalat, Pak Kiayi tertawa. "Wudlunya pakai tayamum dulu, ya," katanya. Kalau mandi, kamu, santri dan penduduk lainnya termasuk Pak Kiayi harus pergi ke gunung yang jaranknya berpuluh-puluh kilometer.  

Pak Kiayi tak pernah mengeluh di hadapan santri. Keluhan justu kamu dapatkan dari Bu Kiayi. “Kita sudah lama hidup kekurangan, pesantren susah, Mutia sakit-sakitan, kalian harus tahu diri, belajar yang sungguh-sungguh, itu sudah cukup bikin Bapak bahagia,” kata Ibu pada para Santri. Dari Bu Kiayi, kamu juga jadi tahu kalau Bapak sibuk mengajukan proposal bantuan pada pemerintah maupun swasta. Tapi hasilnya nihil.

Kata Ibu, kamu harus punya “orang dalam” jika mau kebagian bantuan pemerintaah. Atau jika tak punya, setidaknya ada uang pelicin untuk ditambal di sana sini. Maklum orang daerah, jangankan duit sogokan, lobi sana-sini pun tak piawai. Proposal bantuan pun selalu diakhiri penolakan bin gagal total. Padahal kalau ada uang, Pak Kiayi ingin sekali membuat sumur dan beli pompa, memperbaiki listrik dan kelas serta memperluas asrama. Tujuannya agar santri betah belajar agama.

Sebab Pak Kiayi kalem, intensitas keluhan para santri pun tak terlalu bergejolak. Pemimpin memang selalu jadi penentu karakter bawahannya. Sampai-sampai, kamu pun baru //ngeh// dengan situasi genting ini saat kamu mulai susah dapat rumput untuk kambing. Semua rumput mengering. Sikap Pak Kiayi secara tak langsung mengisyaratkan agar santri tak gemar pamer keprihatinan. Hati yang besar akan memudahkan kedatangan pertolongan Tuhan. Didikannya menurutku berhasil. Buktinya saat ini aku mendapati seorang Sanusi yang terbiasa berdiri dengan kepala dan punggung yang tegak, ketika menghadapi situasi tersulit sekalipun. Kesusahan bukan untuk diratapi, tapi dihadapi.

Hingga kemudian Pak Kiayi dihadapkan pada pilihan yang sulit. Pesantren makin genting sementara Mutia sekarat di rumah sakit. Kambing yang setiap hari kamu beri makan lantas dijual. Bukan untuk biaya pengobatan Muti, tapi untuk membuat sumur. Pak Kiayi berharap, Mutia bisa bertahan lebih lama lagi, hingga Pak Kiayi punya uang lagi di musim panen. Tapi sayang, di saat air melimpah, Mutia keburu dipanggil Tuhan. Situasi ini sangat menyakitkan buatmu, buat warga Pesantren Butung, pun tentu saja buat Pak Kiayi sekeluarga.

Kesedihanmu ditunjukkan dengan kemarahan. Kamu berhenti ngarit, karena memang tidak ada kambing, 1berhenti belajar, minta pindah sekolah lantas pergi dari Butung dengan tangan bergetar. Kamu pergi begitu saja, hingga kemudian hari ini datang. Pak Kiayi memanggil di saat kamu memang menantikannya. Hati kamu sudah menerima. Begitu pun hati Pak Kiayi. Bahwa Mutia bukan tumbal. Ia justru berkah, menjadi muasal si kambing tak terbengkalai. Si kambing Butung lantas menjadi modal untuk membangun sumber air di pesantren dan untuk warga sekampung.

***

Makin dekat menuju Pak Kiayi, sayup-sayup suara dzikir makin jelas terdengar. “Allahumma anta rabbi la ilaha illa anta khalaqtni. Wa ana abduka. Wa ana ala ahdika. Wa wa’dika mastatho’tu. Audzubika min syarri maa shana’tu. Abu u laka bini’matika alayya wa abu u bidzanbi. Faghfirli fainnahu la yaghfiru zunuba illa anta”.

Aku hapal betul lafal dzikir itu. Kamu selalu melantunkannya juga seusai shalat lima waktu. Mengajarkannya padaku, juga kepada Rafi dan Rizal, anak-anak kita. Namanya Sayyidul Istighfar. Bukan hanya dihafal, tapi juga diupayakan paham maknanya. Itu merupakan lafal dzikir yang membuat diri merasa kecil di hadapan Tuhan. Di mana segala pelindungan dan pertobatan, dipasrahkan sepenuhnya pada Tuhan.  

Lantunan dzikir Pak Kiayi terhenti saat menyadari keberadaan kami. Ia menoleh. Menampilkan wajah teduh dan damai. “Mari kita berangkat, temani Bapak dan Ibu, kita sama-sama ziarah ke makam Almarhumah Mutia,” kata Pak Kiayi. Bu Kiayi tersenyum, menggandeng tanganku. Kami berangkat.

-tamat-
30102015
 

 

 

 

 

 

  • view 189