Kalah

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Agustus 2016
Kalah

Kekalahan, di situasi apapun, selalu tampak menyebalkan. Tidak ada piala, ucapan selamat, hadiah, kebanggaan. Lantas kenapa?

Pada suatu hari, saya kalah di suatu kompetisi. Lalu ketika saya mulai mengumumkan kekalahan tersebut kepada semua orang yang bertanya, mayoritas mereka berlaku serupa. Bertanya "Kenapa bisa kalah?", "Kita akan evaluasi untuk perbaikan di masa depan," diakhiri pernyataan semisal "Jangan sedih, Tetap semangat!", "Ini sudah hasil terbaik", "Sampai di sini juga sudah membanggakan!", "Coba lagi, masih ada kesempatan!" dan kalimat penggembira lainnya.

Maksud mereka pastinya baik. Entah itu sekadar basa-basi atau benar-benar peduli, terlepas dari bagaimana perasaan saya saat itu, mereka ingin saya tidak bersedih atas kekalahan.

Terima kasih.

Tapi mengapa kamu tidak berlaku seperti orang-orang kebanyakan? Mengapa malah seenaknya mengatakan, "Ya udah, berjemur sana di pantai!" Seolah tidak terjadi apa-apa. Kamu yang satunya lagi bahkan lebih ekstrem. Mengetahui saya kalah, langsung berkata "Dasar Payah! Sana jalan-jalan!".

Kelakuan kamu-kamu itu, sungguh saya tak bisa menjawab apa-apa lagi selain tertawa. Terima kasih karena tidak memperlakukan saya sebagai pecundang. Kalah memang payah dan kekecewaannya tak perlu dimanipulasi. Kalau saya sedih, ya memang begitulah keadaannya. Terlebih sudah banyak hal yang saya lakukan dan dikorbankan hingga di tahap ini. Kamu pun tahu itu.

Tapi jika pada akhirnya kalah, apa lagi yang bisa dilakukan. Juri sudah memutuskan. Pastinya ada kelompok orang yang kecewa, dan saya sedih karena tidak bisa menjawab harapan mereka. Meski tetap itu risiko mereka yang terlalu berharap pada saya. Mereka tertipu sehingga menganggap saya keren. Hehe.

Tapi kamu juga tahu, sedih ini hanya sedikit saja. Saya tidak terlalu menyalahkan diri sendiri, masih bisa tidur nyenyak dan berjalan-jalan menikmati kecantikan pantai. Selebihnya, kamu pun tahu saya menerima kekalahan ini dengan hati terbuka. Sebab sejak awal, sebagai orang yang kurang motivasi, saya tak terlalu terobsesi untuk menang. Saya justru hanya berdoa agar bisa tetap kalem ketika melewati proses lomba maupun persiapan lomba. Sederhana saja.

Kamu tahu, orang-orang kalah di sini kebanyakan mendadak pintar mencari-cari pembelaan dan kesalahan di luar dirinya. Pada awalnya orang-orang kalah mengatakan bahwa keberadaan mereka justru memberi kesempatan orang lain untuk menang, dan itu berpahala. Lalu mereka mulai menyalahkan kelakuan juri yang tidak fair atau berpihak pada peserta lain. Makanya, menurut mereka kalah itu tidak masalah karena menjadi bagian dari langkah menuju kemenangan. Kalah karena faktor A, B dan C sampai Z lalu mereka menjadi seolah-olah tenang atas kekalahan yang seharusnya tidak mereka dapatkan.

Saya bukan seperti orang-orang kalah kebanyakan. Mengapa mereka terlalu banyak bicara? Kalau kalah, ya kalah saja. Terima saja. Memang jadi tampak payah, tapi membela diri tanpa ada yang menyerang malah seperti orang gila. Tersenyum saja, bergandengan dengan ombak di tepi di pantai, lalu membeli oleh-oleh untuk teman-teman. Kenapa terlalu serius menanggapi kekalahan jika sebelumnya kamu sudah fokus mempersiapkan kemenangan?

Ya sudahlah, tertawakan saja. Orang payah ini hanya sedang merasa bahagia karena sekali lagi menyadari keberuntungannya karena memiliki teman-teman macam kalian.

04072016

 

  • view 196