Menang (Catatan Lebaran 2016)

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Juli 2016
Menang (Catatan Lebaran 2016)

Idul Fitri selalu disambut dengan mata yang berbinar-binar. Hari Kemenangan, begitulah mayoritas orang Indonesia menyebutnya. Diawali dengan takbiran sepanjang malam. Lalu ketika pagi datang, mayoritas berbondong-bondong datang ke masjid dan lapangan. Kompak melaksanakan Shalat Sunnah Idul Fitri berjamaah, salam-salaman, sapa-sapaan, makan-makanan, kumpul-kumpulan, entah itu saling berkunjung atau ziarah makam. Tradisi.

Kelakuan warga kampung halaman saya juga demikian. Selayaknya mayoritas Muslim, semua warga dari sisi tonggoh, lebak, tengah, kaler, wetan dan kidul berkumpul di satu areal. Masjid dan aula. Berbaris membentuk shaf yang rapi. Bersiap mendengarkan khutbah Idul Fitri lalu shalat berjamaah. Saya ada di antara mereka. Datang agak canggung. Merasa asing dengan ragam perubahan masyarakat yang tak terasa selang setahun.

Alat penyebar suara dari masjid mungkin rusak sehingga jamaah perempuan yang berposisi di aula tak bisa jelas mendengarkan khutbah lebaran. Sayup-sayup yang saya dengar hanya pengumuman perolehan zakat fitrah beserta pembagiannya. Selebihnya, nasihat lebaran dari sesepuh hanya tersampaikan lewat tebak-tebakan di dalam benak. Mungkin sedang membicarakan fadilah lebaran, mungkin menganjurkan keutamaan saling memaafkan.

Lantas shalat usai. Dilanjutkan dengan "fashion show" baju lebaran sembari bersalam-salaman. Semua cantik dengan busana muslimah serbabaru yang berwarna-warni, kerudung aneka gaya dan riasan istimewa. Para model tampil memperagakan ragam ekspresi. Ada yang tersenyum bahagia, ada yang berurai air mata.

Saya masih berdiri canggung, meski tetap harus memasang senyum terbaik demi persinggungan yang ramah dengan manusia lainnya. Sesekali menyapa atau disapa, berbasa-basi, bersopan santun. Hari Kemenangan memang seharusnya menjadi momentum saling memberi kesan baik.

Lebaran idealnya menjadi hari kemenangan ditandai dengan jiwa-jiwa yang kembali suci batinnya. Saling memaafkan, saling dimaafkan. Sehingga jiwa itu memiliki kekuatan penuh untuk menyebarkan energi positif di mana pun ia berada.

Tapi siapa yang tahu kondisi jiwa setiap orang setelah berpuasa sebulan? Adakah menjadi suci, karena tampak telah berhasil melewati rintangan semisal nafsu makan dan minum di jangka waktu tertentu, menang dari amalan tadarus, iktikaf dan solat malam yang pahalanya dilipatgandakan. Kemenangan itu kemudian tampak pantas dirayakan dengan memakai baju yang bersih maupun baru, makan ketupat dan daging rendang, ngemil kue lebaran.

Tapi bagaimana bisa menjadi pemenang, jika sebenarnya sejak awal tidak pernah berpartisipasi dalam pertandingan? Adakah ketika Ramadhan benar-benar menjadi petarung? Atau hanya bebek dalam kerumunan bebek. Berbaris ke timur kalau rombongan ke timur. Berbaris kecebur kalau rombongan ke kolam. Tanpa perasaan. Tanpa perjuangan. Tanpa kemenangan. Tapi seolah-olah sedih ditinggal Ramadhan. Seolah-olah berjuang. Seolah-olah senang memeroleh kemenangan.

Tapi bagaimana pun kondisinya, Tuhan tahu bagaimana jiwa ini, jiwa kamu dan jiwa mereka. Semuanya tengah berusaha mendapat perhatian Dia. Semuanya juga berupaya tidak menjadi "Iblis". Maksudnya, tak menjadi seseorang yang berputus asa dari rahmat Tuhan. Juga berupaya tak menjadi "Setan". Yakni seseorang yang berlebih-lebihan. Ia Mahabaik dan selalu memberi kesempatan, pun memperhitungkan segala tingkah. Bismillah.

07062016

*Papan Ludo, mainan favorit keluarga setelah shalat Id

  • view 187