Benci Banci

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Juni 2016
Benci Banci

Halo Koki!
Tawarkan lagi aku sepanci Sop Benci. Itu makananku sehari-hari. Perutku tak akan pernah kembung meski terlalu banyak Kuah Simpati di dalamnya. Kuah itu akan kutelan bersama potongan "gajih" berupa raut beraneka ragam: genit, kaget, sinis, takut dan rasa tak terasa lainnya. Tidak mengapa. Meski aku bukan badut, begal, penjahat, penjahit, alien atau hantu. Meski kamu mungkin menganggap aku demikian.

Apapun perasaanmu ketika memasak, justru aku bahagia. Sebab Sop Benci memberi energi untuk berani terus menjadi pusat perhatian di setiap keberadaan: bersolek di rangkaian kereta commuter jelang tengah malam, singgah di warung remang-remang dan angkringan, bernyanyi dengan kotak musik di sepanjang jalan ramai, mampir di kedai kopi langganan, bekerja gemulai di salon kecantikan. Kamu selalu tak kuasa mengabaikanku, bukan?

Sepanci Sop Benci juga cukup untuk mengisi energi ketika ragam perlakuan publik mendera. Dicolek genit, dilecehkan, dikejar Satpol PP, disapu sembari digetok seperti mengusir kecoak jalang. Tak mengapa sebab sudah terbiasa. Itu hanya gangguan ringan dan teramat sederhana.

Gangguan terbesar justru datang dari diriku sendiri. Yakni ketika aku harus mencoba menerima keadaan fisik yang tak sejalan dengan jiwa. Belum lagi masalah ekonomi ketika tak ada satupun manusia yang sudi merangkul diri. Jika bisa, aku ingin berkompromi dengan Tuhan untuk menjadi seseorang yang disebut "normal". Tapi takdir telah ditetapkan. Takdir yang mungkin memang sengaja ditetapkan, atau aku sendiri yang membuat takdir itu terealisasi.

"Apa sulitnya memilih satu di antara dua, ketika seperangkat aksesoris kelamin dilekatkan pada raga?" kamu bertanya pada suatu malam. Pertanyaan itu kamu masukkan ke dalam panci Sop Benci, menggodoknya, memberi bumbu dan gajih, lalu menyuguhkannya lagi padaku. Terima kasih.

Tapi benarkah kamu sungguh penasaran akan jawabanku? Maka jawaban terbaik dariku adalah menyambut Sop Benci yang sudah siap saji itu, lalu segera menelannya sesuap demi sesuap, tanpa perlu mengeluarkan satu kata pun. Buat apa aku menjawab jika pada akhirnya kamu akan bicara lagi soal dosa, neraka dan tawaran pertobatan?

Aku tak sendirian di panggung ini. Ada yang lainnya yang juga berdiri di area abu-abu. Masing-masing dari kami memiliki kehidupan dan mimpi yang beragam. Pun, alasan kami memutuskan merangkul kedua jenis kelamin terlalu eksklusif, personal, dan tak selalu dimengerti kebanyakan orang. Kami bukan kalangan pemaksa agar dimengerti.

Kami hanya sebatas Banci penikmat sepanci Sop Benci.

***
Halo Banci!
Aku senang karena kamu ketagihan dengan sepanci sop buatanku. Mungkin karena aku terlalu banyak memberi vetsin ke dalamnya. Aku juga bersyukur sebab kamu menjadi alasanku terus memasak. Kamu karya hidup Tuhan, sama sepertiku. Keputusanmu untuk tak menyerah terhadap hidup merupakan hal mengagumkan. Sesungguhnya sop ini belum diberi nama. Tapi jika kamu menamakannya "Benci", sepertinya aku setuju. Sebab sebagai koki, aku menumpahkan rasa benci ke dalam panci.

Benci akan seberapa cerdas kamu menyembunyikan cemberut ketika mayoritas raut memandangmu bak alien. Benci akan kekuatanmu menjaga bibir dan pipi selalu tersungging senyum ketika bernyanyi dan beraktivitas di bumi. Benci akan kesabaranmu yang terus kembali dengan pundak dan kepala yang tegak setelah tersingkirkan. Benci akan keberanianmu memilih untuk tidak memilih salah satu kelamin. Benci itu berakumulasi, dimasak hingga mendidih, lalu kusajikan khusus untukmu.

Sebab masih benci, bisakah kita sama-sama berpeluang berbagi secara adil? Persinggungan manusia, bagaimana pun penampakannya selalu berpeluang mendatangkan inspirasi, saling peduli, mimpi serta proses pembelajaran menuju bahagia. Tak perlu cepat meghakimi jika bisa saling memahami. Selebihnya, kebaikan maupun kejahatan antarmanusia tak berjenis kelamin.

Sebagai manusia yang juga diberi hidup, aku sama sekali tak mau terlalu buang-buang waktu memikirkan alasan pilihan hidupmu di zona abu-abu. Sesekali aku usil, sok peduli. Tapi di sisi lain aku juga sangat sibuk sehingga tak sempat turut melaknat, menyematkan dosa, serapah atau mengancam neraka padamu. Betapa belagunya. Tugasku fokus memasak sepanci Sop yang kamu sebut "Benci". Selamat menikmati...

* 20062016, jelang tengah malam di kereta commuter Palmerah-Pasar Minggu

 

 

  • view 115