Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 18 Juni 2016   17:45 WIB
Dongeng Gerimis

Secara diam-diam, mengendap-endap, gadis manis itu memperkenalkan diri di tengah senja ini. "Gerimis," katanya. Kedatangannya ke taman ini bukanlah hal mengagetkan. Langit mendung sejak pagi tadi memberi tahu bahwa ia akan datang.

Langit tak berbohong. Gerimis benar-benar datang lalu membasahi pipi dan jalanan yang sepi. Rasanya dingin, sama seperti gerimis yang lalu-lalu. Meski aku tahu, dia gerimis yang baru, bukan yang lalu-lalu.

Gerimis datang ke bumi dengan perasaan canggung, tertatih dan letih. Gerimis itu mencari-cari arti kehadirannya yang singkat di sini.

"Halo, Gerimis!" aku menyapa dengan riang gembira, berharap rasa canggungnya terkikis. Ia tersenyum lalu menyentuh telapak tanganku. Menawarkan jalinan pertemanan. Rasanya dingin. Bukan dingin yang basa-basi.

Gerimis berbisik, mengaku senang berpetualang. "Taman ini damai," katanya.

Kini ia tengah duduk di sebelahku. Berlagak akrab meski baru beberapa detik lalu bersinggungan. Sambutanku berharga baginya, membuat canggung itu sirna. Gerimis terlalu mudah percaya pada orang asing.

***

Gerimis mengajaku menyimak kesibukan daun-daun gugur yang berserakan manis di tanah. Mereka tengah setia mendengarkan Kakek Beringin yang mendongengkan kisah Putri Singgah.

Pada suatu hari, hiduplah seorang putri yang senang berpetualang. Ia bermain dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Dalam setiap perjalanannya, ia punya kebiasaan unik, yakni mengucapkan selamat datang sekaligus salam perpisahan di waktu yang bersamaan.

Suatu ketika ia singgah di Taman Lestari. Di sana seorang perempuan tampak sendiri, menanti kedatangannya. Sang Putri merasa disambut. Ia lalu menyapa dengan canggung, menggenggam tangan lalu menemani perempuan itu bernyanyi lagu tentang gerimis.

Ia ingin memberi kebahagiaan dalam lagunya, di tengah keberadaannya yang hanya numpang lewat sesaat. Memberi iming-iming pelangi.

Sembari bernyanyi, detik waktu membuat rintik gerimis membanyak. Detik waktu pula yang membuat Putri Singgah beranjak. Ia tak pernah berjanji untuk kembali. Tapi ia enggan berhenti memberi arti ketika diberi kesempatan menampakkan diri.

Perempuan di taman mengucapkan selamat tinggal pada Gerimis. Lalu menyambut hujan yang menabuh genderang.

18062016

Karya : Sonia Fitri