Siapa Sudi Mengais Dosa Sendiri? (Review Novel "Tokyo" karya Mo Hayder)

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Buku
dipublikasikan 14 Juni 2016
Siapa Sudi Mengais Dosa Sendiri? (Review Novel

Cerita perang selalu menyisakan luka. Tapi sensasi ngeri dan tragisnya tak akan terasa jika belum menceritakan kepedihan jerit tangis para wanita. Profesor Shi Chongming paham betul akan hal tersebut. Ia merupakan saksi hidup peristiwa berdarah Nanking pada Desember 1937.

Chongming merasakan kepedihan yang berlipat ganda, sebab ia bukan sekadar jadi pemirsa pembantaian dan pemerkosaan ribuan nyawa. Bukan juga karena ia menjadi saksi bagaimana istrinya tercinta dianiaya hingga meninggal dunia, lantas bayi yang dikandung sang istri dirampas dalam kondisi masih bernyawa.

Dada Chongming terlampau sesak hingga puluhan tahun, sebab ia harus menanggung rasa bersalah dari dosa yang dilakukan tangannya sendiri. Rasa tinggi hati bercampur refleks ketakutan mempertahankan nyawa sendiri membuatnya merasa jadi pelaku utama pembunuhan anak dan istri.

Detail cerita tentang dosa Nanking yang terekam dalam film dokumenter amatir ia sembunyikan rapat-rapat. Dunia jangan sampai tahu. Terlebih rahasia tersebut tak hanya menyangkut luka batinnya sendiri. Chongming paham betul, jika rahasia terkuak, iblis mengerikan di masa Perang Nanking dulu akan bangkit dan mengancam nyawa siapapun yang berusaha mengusik. Iblis yang punya ramuan keabadian tersebut masih mengintai hingga puluhan tahun.

Rahasianya tersimpan apik, hingga lima puluh tiga tahun kemudian seorang mahasiswi asal London, Grey mendatanginya di siang bolong, menanyainya soal film dokumenter terkait. Grey mendesak Chongming agar mau berbagi guna memenuhi rasa ingin tahunya sendiri. Chongming terusik. Siapa yang sudi mengais dosa sendiri? Pertemuan antara Chongming dan Grey menjadi penanda cerita "Tokyo" dimulai.

***
Mo Hayder, sang penulis menelanjangi dosa-dosa para tokoh cerita dengan perlahan dan elegan. Chongming punya rahasia. Begitu pula dengan Grey, Jason dan Junzo Fuyuki, sang Iblis Nanking. Meski berbeda aksi dan motif, dosa-dosa itu mereka lakukan dengan satu kesamaan, yakni didorong ketidaktahuan.

Karena itulah pada akhirnya, apapun motifnya, dosa-dosa itu harus diakui jika ingin melangkah pada pertobatan diri. Cara penceritaan Novel membangkitkan penasaran pembaca, menimbulkan miris, tapi diakhiri maklum, pun turut merasakan duka dan sesal para pelaku dosa.

Cerita novel setebal 491 halaman ini juga diiringi dengan kisah kekuatan sugesti yang mendorong perilaku kanibalisme Yakuza. Konon kabarnya, dengan olahan dan bagian tertentu, daging manusia bisa menjadi obat penyakit, serta sumber keabadian hidup. Lagi-lagi, akibat ketidaktahuan itulah, segala perilaku di luar adab menjadi mungkin.

Novel berlatar belakang tragedi sejarah Tragedi Nanking tersebut bukan sekadar pamer ketragisan dan kekejaman perang, ataupun menguak kelompok iblis Yakuza yang gentayangan menebar teror di tengah dunia yang damai sentosa pascaperang. Dalam rangkaian ceritanya, penulis menyampaikan soal pentingnya berendah diri dan saling menghormati terhadap keyakinan orang lain, sekalipun keyakinan itu menyangkut mitos, pamali dan hal-hal tak kasat mata lainnya. Pada akhirnya, pembelajaran dari segala peristiwa, seperih apapun, harus tertuju pada kepasrahan pada yang kuasa. Selamat mengais dosa!

***
Profil Novel:
Judul: Tokyo (2009)
Penulis: Mo Hayder
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penyunting: Arif Budi Nugroho
Tempat Terbit: Jakarta
Penerbit: Bantam Press
Penerbit versi terjemahan: Dastan books

Dilihat 71