Banyak Hantu di Ramadhan

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Juni 2016
Banyak Hantu di Ramadhan

Ananda, Emak harap kamu menerima surat ini dengan raut yang tak cemberut. Kemarin dalam balasan surat yang singkat, kamu bilang Emak cerewet sampai mengirim surat sepekan dua kali dengan isi yang begitu-begitu saja. Makanya kali ini Emak sedikit memutar otak, mengarang sebuah dongeng terbaru lewat surat. Semoga kamu suka.

Di suatu Negeri Nun Jauh Entah di Mana, hiduplah sekelompok warga yang ramah dan rajin bekerja. Mereka menanam padi dan jagung serta buah-buahan dan sayuran beraneka ragam. Kelompok warga yang lain beternak ayam, kambing dan sapi, pun mencari ikan serta membuat garam di pantai. Hasilnya melimpah ruah. Selebihnya menjalankan profesi yang bermacam-macam sesuai minat dan keahlian.

Di antara profesi yang beragam, kali ini kebanyakan mereka punya kebahagiaan yang seragam. Kelompok mayoritas tengah kompak berbahagia menyambut bulan istimewa bernama Ramadhan. Di momen tersebut, orang-orang berpuasa, yakni tak makan pada siang hari. Mereka makan hanya dua kali secara disiplin. Yakni di dini hari atau disebut dengan "sahur" dan ketika matahari terbenam alias "berbuka".

Kegiatan tersebut diyakini sebagai perintah agama yang berpahala, membuat bahagia, sekaligus dapat bonus manfaat sehat bagi jiwa dan raga. Semacam melakukan terapi detoksifikasi, para warga menjalankan puasa dengan senang hati. Bagi kelompok yang berbeda keyakinan, dipersilakan makan di siang hari. Kegiatan saling menghormati perbedaan di negeri tersebut sangatlah luar biasa baik.

Ananda, kebahagiaan Ramadhan di negeri tersebut seharusnya sempurna jika tak diiringi hantu-hantu. Sayangnya mereka eksis di negeri tersebut sejak ribuan tahun. Mereka mahir mengarang skenario, darurat ini itu, padahal tengah memperkaya diri dengan menarik upeti dari warga yang taat, cinta damai dan tak mahir memberontak. Kesaktian yang mereka punya makin lama semakin keji, canggih, berbasis teknologi, nyaris abadi. Membuat penampakan mereka tak seram malahan tampak indah dan membanggakan. Para hantu bahkan mahir berpidato, necis pakai dasi dan rambut disisir rapi.

Kala mengganggu Ramadhan, sebagian dari hantu di Negeri Nun Jauh Entah di Mana menempati posisi strategis, menyusup di pemegang kendali pemerintahan dan ke pasar-pasar. Ada hantu yang menduduki jabatan gamblang, ada juga yang bermain-main di belakang meja tapi pegang kuasa.

Dari tahun ke tahun semua warga di negeri tersebut memperbaiki kualitas puasanya, ibadahnya. Tapi oleh para hantu mereka juga selalu dituding menjadi penyebab inflasi. Para hantu bilang kalau permintaan pangan di momen Ramadhan dan jelang Idul Fitri meningkat, lantas harga pun pasti naik serempak. Tudingan mereka menguat karena faktanya harga bahan pangan di pasar memang kompak melambung.

Entah permintaan mana yang tingginya dikatrol-katrol. Sehingga kegiatan membeli bahan pangan secara instan dari negeri lain dikondisikan menjadi satu-satunya solusi. Karena kegiatan Operasi Pasar, di mana kabarnya dilakukan penggelontoran pangan murah di sejumlah titik konsumen pun semacam tak kunjung berdampak memengaruhi pergerakan harga pangan turun.

Petani, nelayan dan pelaku pasar sudah bosan untuk terbengong-bengong. Tengah terjadi panen atas sejumlah produk pangan di sejumlah kawasan, tapi harganya ketika sampai di pasar tetap konsisten tinggi. Anomali. Dalam kondisi pasokan pangan yang berlimpah dan permintaan pangan dari konsumen yang kalem-kalem saja, tapi pasokan di pasar langka, lantas harga pangan jadi tinggi, mungkinkah hasil bumi dan laut yang selalu ditanam petani dibuang ke lautan? Atau dibakar di tengah lapangan? Lalu kegiatan impor menjadi dewa penolong. Ah.. mungkin imajinasi Emak yang keterlaluan. Tapi jika benar, betapa saktinya para hantu di negeri tersebut.

Sebab kenyataannya masyarakat di negeri tersebut tetap makan sahur dan berbuka dengan secukupnya. Mana sudi mereka melewatkan Ramadhan dengan kerakusan makanan? Justru para warga tengah melatih hawa nafsu agar dilirik Tuhan dan memeroleh keutamaan satu malam setara seribu bulan. Jikapun harga pangan naik, mengapa tak dibiarkan menjadi momentum bagi petani untuk tersenyum karena memeroleh harga bagus?

Jika hari ini bahan pangan mahal, jangan pernah salahkan Ramadhan, atau menuding para warga setempat yang kerakusan, tamak, melanggengkan budaya konsumerisme. Tidak selalu begitu. Bisa jadi ini karena ada banyak hantu yang tidak terampil menanam padi, jagung dan buah-buahan. Mereka juga tidak terampil beternak atau mencari ikan di ladang. Tapi mereka cerdas menjual ragam perizinan, mengambil keuntungan berlipat dengan mengolah kuota impor pangan. Tiap tahun Ramadhan di negeri tersebut terbiasa jadi tumbal, dimanfaatkan untuk agenda rutin memperkaya diri para hantu.

***

Emak percaya Ananda cukup tegar dan selalu waspada hidup di ibu kota yang sesungguhnya tak kejam. Ibu tiri juga sama sekali tidak jahat. Contohnya Emakmu ini--ibu tirimu. Yang jahat adalah hantu. Meski mereka padat bergentayangan di Negeri Nun Jauh Entah di Mana, besar kemungkinan mereka juga berekspansi menjajah ke negeri kita, mencoba memengaruhi para pemimpin kita yang sesungguhnya baik hati, lalu beberapa utusannya mengikutimu hingga ke kota besar.

Hati-hati, Ananda. Yang terpenting, jangan sampai kamu terjangkit penyakit paling akut dari para hantu, yakni malas untuk jujur dan peduli pada kondisi di sana-sini. Malas karena terlalu rajin mengurusi keuntungan diri sendiri dan teman-teman kelompok hantu. Jangan mau jadi hantu! 

13062016

 

  • view 56