Gelas Kosong

Sonia Fitri
Karya Sonia Fitri Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juni 2016
Gelas Kosong

Inspirasi berserakan di mana-mana. Mereka senang memamerkan diri sebab merasa dirinya keren dan memang mereka itu betul-betul bagian dari keajaiban Tuhan. Inspirasi itu serangkaian petunjuk kecil agar manusia selalu bergerak berharga. Inspirasi bertengger di segala situasi dan kondisi. Semacam berkah yang berkeliaran tapi kerap diabaikan. Mereka tidak bisa ditangkap pun tak perlu dicari sebab mereka ada di mana-mana. Mereka diterima, bagi siapa saja yang cerdas memosisikan diri "terbuka".

Dalam sebuah obrolan yang berharga, hati saya tergugah dengan penjelasan salah seorang guru. Pak Agus Syafei namanya. Ia sekilas menjelaskan soal kutipan kecil dalam Alquran berbunyi "La yamassuhu illal mutohharun". Bagi orang biasa mengartikan dhamir "hu" di sana sebagai Alquran. Bahwa Tuhan berkata pada manusia, kamu jangan sekali-kali memegang atau mengusap Alquran jika tidak dalam keadaan suci berwudlu.

Tapi ia--entah itu pemikirannya sendiri atau hasil berguru pada seorang bijak lainnya--punya pengartian yang lain terhadap kutipan itu. Di mana ada pelajaran soal berendah hati di dalamnya. "Hu" tetap dimaksudkan sebagai Alquran, tapi bukan sebagai benda mati yang bisa dipajang atau diperjualbelikan di mana-mana, tapi Alquran sebagai sumber inspirasi.

Cara memperlakukannya bukan sekadar "mengusap", tapi menjangkau dan menyelami makna pesan Alquran yang kaya, lalu menerapkannya dalam perilaku aktif. "Illal mutohharun" berarti kondisi pemegangan secara aktif dari kita itu akan berhasil jika dalam kondisi bersih. Dalam artian tidak menjejali otak dan hati dengan perasaan sok tahu, sombong, sudah merasa pintar dan sholeh atau sudah betah di zona nyaman. "Mengusap" Alquran butuh kecerdasan seorang individu untuknmemosisikan diri terbuka, dalam kondisi polos, mengosongkan gelas, lalu siap menerima "air" inspirasi dari Alquran yang kaya raya.

Betapa berutungnya jika saya dan semua kita menerapkan hal ini dengan aplikatif. Tapi sayangnya, saya sendiri pun kerap memenuhi jiwa dengan sembarangan sampah. Kebanyakan dipenuhi perasaan malas dan hanya menginginkan kesenangan sesaat. Bukannya Alquran tidak menyenangkan, ia justru sebuah kesenangan bagi mereka yang rela berkorban terlebih dahulu. Sudi berpayah untuk berjuang menyadari cinta Tuhan. Anda boleh berkata saya seorang fanatik agama. Mungkin orangtua saya sukses menerapkan doktrin soal agama ini sehingga saya belum berniat meninggalkannya hingga detik ini. Meskipun masih sedikit sekali inspirasi yang saya terima dari Alquran, pesona benda ini selalu membuat saya tepana.

Salah satu bentuk berjuang itu misalnya bergerak dan membuka diri untuk berbagi setiap hari. Entah itu menggerakkan jari, mengetik, menuangkan ide-ide cerdas dalam tulisan, membuat konsep proyek, atau mengajak yang lainnya untuk menjadi inspirator, seperti dilakukan dedengkot inspirasi.co. Situs ini baru saja diperkenalkan oleh guru saya itu. Penggagasnya orang Indonesia--ketika orang Indonesia langka menjadi penggagas, karena biasanya hanya menjadi penerima yang pasif. Inspirasi.co semacam mini blog tempat orang-orang berusaha memosisikan diri "terbuka", saling mengapresiasi dengan membaca karya-karya teman yang berserakan, sehingga memungkinkan inspirasi itu diterima.

Terkhusus bagi saya sendiri. Di tengah keahlian saya untuk bermalas-malasan setiap hari, saya cukup beruntung karena Tuhan masih sudi berbelas kasih. Mempertemukan saya dengan banyak orang baik yang mau berbagi dalam beragam cara persinggungan. Semoga kegiatan saling menerima dan pamer inspirasi ini tidak sekadar euforia--orang Indonesia juga hobinya merayakan sejumlah euforia sesaat, kemudian beralih ke euforia lain. Semoga jadi kegiatan yang berkelanjutan, seperti kegiatan mandi dan mencuci piring yang kita lakukan setiap hari. Hatur nuhun.

12062016

 

 

  • view 116